Top

01 Agustus 2019

Message ini adalah kelanjutan dari message kemarin.

4. Dengan modal ketetapan hati, kita tidak akan pernah bisa ‘diperjual-belikan’ di dalam sistem Babel

Ada suatu peringatan keras yang Roh nyatakan kepada saya: Berjaga-jagalah saat engkau ada di dalam sistem Babel karena Babel akan selalu berupaya untuk membuatmu jadi terbuai dengan berbagai fasilitas, keistimewaan maupun berbagai kemudahan hidup yang dinyatakan oleh kekuatan Mamon (uang). Tujuan Babel tidak lain adalah untuk memiliki atau membeli kehidupanmu sehingga engkau bakal terhisap di dalam sistem perbudakan Babel!

Pada saat saya merenungkan secara lebih mendalam tentang kisah Daniel yang berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja (Dan 1:8), Roh Kudus membawa saya untuk teringat dengan pernyataan yang Yesus ucapkan: MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya (Yoh 4:34)

Dari perbandingan dua ayat tersebut, saya merasa Roh memberi pengertian kepada saya: Alasan Babel memberi keistimewaan kepada umat Tuhan untuk bahkan bisa mencicipi dan makan makanan yang sama seperti yang Nebukadnesar nikmati, tujuan adalah agar umat Tuhan tidak menjadikan melakukan kehendak Bapa sebagai makanan dalam hidup mereka!

Dengan kata lain, sistem Babel akan selalu membawa seseorang untuk hidup bagi dirinya sendiri – dan mulai terbuai, jadi menikmati berbagai keistimewaan yg didapat di dalam kesuksesan yang pasti akan diraih dalam sistem Babel ketika seseorang berfokus untuk mencapai ambisi atau keinginan hatinya sendiri!

Sadari prinsip ini: Bukan hanya kerajaan sorga yang memiliki kilau kemuliaan, kerajaan ke-Aku-an juga memiliki suatu takaran kemuliaan. Tapi saat seseorang berjuang untuk mengejar penggenapan impian atau ambisinya pribadi, meski ia pasti akan menikmati suatu takaran kesuksesan – karena semua orang yang mau berjuang, pasti akan menikmati suatu kesuksesan dalam sistem Babel – tapi pada saat yg sama, pasti juga akan ada banyak konsekwensi buruk yang bakal mengikuti orang-orang yang membiarkan ambisi menjadi ‘pemimpin’ dalam hidupnya.

Berbeda ketika umat Tuhan menjadikan penggenapan kehendak Tuhan menjadi ‘makanannya’ – akan selalu ada campur tangan kedaulatan Tuhan yang bakal berlaku atas hidup mereka!

Saat Ishak memutuskan untuk ‘membuang’ rencananya sendiri untuk pergi ke Mesir dan mengikuti arahan Tuhan untuk tetap tinggal di negeri orang Filistin, Tuhan memberkati Ishak secara berlimpah-limpah sampai orang-orang Filistin menjadi cemburu kepadanya (Kej 26:1-14)

Pahami logika ini: Di negeri orang Filistin, pasti juga ada banyak orang kaya; apa yang membuat mereka menjadi cemburu kepada Ishak? Bukan karena Ishak menjadi kaya tapi karena mereka melihat bagaimana Ishak menikmati kekayaan tanpa digerogoti oleh berbagai efek negatif yang seringkali datang bersamaan dengan datangnya kekayaan dalam kehidupannya.

Amsal 10:22 (TB) Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.

Miliki ketetapan hati berikut: Kita akan masuk ke dalam sistem Babel dan menjadi ‘penguasa’ di sana bukan karena keinginan untuk menjadi kaya, meraih kesuksesan ataupun menjadi orang yang berpengaruh; kita masuk ke dalam sistem Babel karena diutus Tuhan untuk menjadi saksiNya dan untuk menghadirkan realita kerajaanNya! #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus