Top

01 Mei 2018

Pada salah satu session hari kedua retreat, ada satu firman yang berbicara kuat yaitu tentang Daud. Ada beberapa pemahaman yang Roh Kudus jelaskan kepada saya:

Daud adalah seorang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hatiNya. Itu tidak perlu diragukan lagi. CintaNya kepada Tuhan memunculkan ekspresi yang sangat intim dalam penyembahan dan gaya hidup yang memperkenan Tuhan. Bahkan Daud mempunyai waktu – waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan. Ada yang di pagi hari (Maz 5:3) ada juga waktu petang (Maz 141:2) dan juga waktu malam (Maz 1:2)

Itu semua adalah gaya hidup yang sangat benar dan memang itulah yang akan menuntun kita dalam keakuratan! Patut kita mencontoh gaya hidup Daud! Agar hidup kita semakin efektif dalam menyelesaikan agenda Kerajaan Surga!

Tapi ada satu momen dalam hidup Daud, ia “meninggalkan sejenak” gaya hidupnya karena sedang “menikmati fasilitas dan otoritas sebagai raja”. Ia menggantikan doa yang biasa dilakukannya di waktu petang dengan berleha – leha di sotoh istana sehingga tubuhnya menjadi senjata kelaliman untuk meniduri Batsyeba dan membunuh suaminya. Uria yang terkena jebakan pembunuhan berencana Daud akhirnya harus mati di depan medan pertempuran. Satu orang terbaik Daud mati karena ia “mengijinkan kompromi” di dalam hati untuk meninggalkan gaya hidup ilahi!

1. Berhati – hatilah terhadap segala fasilitas kenyamanan dan kemudahan, berkat – berkat, hormat yang diberikan orang, dan posisi

Karena jika kita lengah, hati kita akan “menikmati” hal – hal tersebut dan bukan lagi tertuju kepada Tuhan. Akibatnya, kita justu kehilangan hal yang paling esensi dan yang terbaik, yaitu Tuhan itu sendiri! Jika kita kehilangan realita Tuhan, maka hidup kita akan alami kekosongan! Akibatnya roh – roh dunia beroleh cela dan tumpuan untuk masuk dan mencetak kita seturut kemauannya. Sehingga kita justru melakukan hal – hal yang bertolak belakang dengan kebenaran!
Oleh karenanya sangatlah penting untuk kita tetap mempertahankan gaya hidup ilahi yang telah terbangun!!

2. Perhatikan dengan serius dan segera tanggulangi diri kita yang mulai meninggalkan gaya hidup ilahi

Berhentilah menganggap itu wajar walaupun “cuma sejenak atau sekali – kali saja”. Ingatlah, tidak ada istirahat dalam peperangan (Pengkhotbah 8:8b) Keputusan meninggalkan jam – jam doa adalah keputusan yang salah!! Dan sangat fatal!! Semakin kita diangkat tinggi oleh Tuhan, sedikit keteledoran saja bisa berefek buruk yang berkepanjangan. Puji Tuhan, Daud cepat bertobat saat ditegur oleh Tuhan!! Tapi kita kita tidak perlu mencontoh Daud!! Kita tidak perlu berkabung dan hancur – hancuran dahulu akibat ketidakuratan. Sebab Ia mau kita menikmati Kerajaan Surga (kebenaran, damai sejahtera, sukacita) setiap hari dan setiap waktu!!

3. Teruslah membangun pada masa damai. Jika Daud ambil keputusan untuk tidak mengikuti peperangan pada masa raja – raja harusnya berperang, maka seharusnya dia punya kesempatan untuk mendoakan para pasukannya yang sedang berperang

Dia bisa mencontoh Samuel bapa rohaninya sebagai pemimpin dan imam atas Israel pada waktu lampau. Walaupun Samuel tidak berada di medan pertempuran tapi dia mendoakan Israel yang sedang berperang. Alhasil Israel alami kemenangan dengan kekuatan Tuhan sendiri!! Seharusnya Daud pun bisa seperti itu. Tapi sungguh disayangkan, Daud justru pakai waktu doa untuk bersantai. Alhasil ia melihat Batsyeba yang sedang mandi. Akhirnya Daud jatuh dalam dosa!!

Sekali lagi, kita tidak perlu mencontoh Daud dalam hal itu! Bangunlah manusia rohaniah kita senantiasa (gaya hidup ilahi) dalam segala keadaan. Dan khususnya pada masa tenang atau damai! Karena itu sebenarnya masa terbaik untuk latihan/membangun dan mempersiapkan diri menghadapi peperangan yang besar, dan mempertahankan kemenangan yang Tuhan berikan!!

Kuatkan hati dan bulatkan tekad untuk mempertahankan gaya hidup ilahi dan menumbuhkannya lebih lagi ke level berikutnya! Karena sikap hati itulah yang akan membuat hidup kita semakin akurat dan memperkenan hati Tuhan!!#AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus