Top

02 Agustus 2018

Lukas 16:10 Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
Saya mendapati di dalam logika lama kita, seringkali sudah terbangun suatu konsep berpikir bahwa untuk menaklukkan hal-hal besar, harus disertai dengan usaha besar, melakukan hal-hal yang spektakuler, hal yang terlihat hebat, baru hal itu bisa kita raih. Namun sesungguhnya cara kerja Tuhan tidaklah demikian. Tuhan justru mengizinkan kita melewati serangkaian proses dulu, sebelum diberi tanggung jawab yg lebih besar. Dalam pemaparan berikut kita bisa melihat bagaimana Tuhan membentuk kehidupan Daud.
Sebelum Daud mengalami kemenangan besar dengan menaklukkan raksasa Goliath, Daud harus melalui berbagai perkara kecil terlebih dahulu. Daud taat ketika disuruh Isai, bapaknya mengantar roti bagi kakak-kakaknya yang prajurit sebagai bekal makan siang, dan juga mengantar keju bagi kepala pasukan seribu (1 Sam 17:17-18). Kalau di jaman sekarang, saya dapat imajinasikan Daud berperan seperti kurir/ojek online untuk mengantar makan siang bagi kakak-kakaknya di tempat kerja. Kelihatannya hal yang sederhana. Namun hal itu tidak dianggap remeh olehnya, dan tetap dilakukan dengan senang hati dan dengan penuh sukacita. Di kesempatan lain, Daud juga pernah disuruh bapaknya untuk mengantar makanan kepada Raja Saul sebagai persembahan, karena Daud terpilih menjadi salah seorang pelayan Raja Saul (1 Sam 16:20).

Daud juga selalu memberi diri taat ketika disuruh bapaknya menggembalakan kambing domba yang jumlahnya cuma 2-3 tiga ekor saja (1 Sam 17:28). Bahkan di tempat yang berbahaya, karena di situ ada singa dan beruang.
Dalam satu kesempatan, Daud sempat alami promosi dengan diangkat menjadi pelayan Raja Saul, sebagai pembawa senjatanya (1 Sam 16:21) dan menjadi pemain kecapi bagi Raja Saul, namun Daud tetap saja bolak balik pulang untuk menolong mengurus domba-domba ayahnya (1 Sam 17:14 FAYH), Daud juga punya seorang penjaga kambing domba yang bisa menggantikannya ketika dia sedang bertugas, pendek kata Daud tidak pernah melalaikan tugasnya.

Di keheningan padang penggembalaan (Maz 23:1-2), Daud menggunakan waktunya untuk TEKUN bersekutu dengan Tuhan setiap hari. Dengan menggembalakan kambing domba yang cuma 2-3 ekor, Daud justru punya banyak waktu untuk belajar bersekutu, menyembah Tuhan, memperkatakan firman lewat pujian dan doa. Daud juga bertekun merenungkan firman dan menuliskan kitab Mazmur. Ketekunan dan kesukaan Daud akan firman, tertulis dengan sangat jelas di Mazmur 1:2 “…tetapi yang KESUKAANNYA ialah Taurat TUHAN, dan yang MERENUNGKAN Taurat itu SIANG DAN MALAM”
Dari sini, perlahan tapi pasti, Tuhan melatih Daud untuk memiliki pengenalan akan Tuhan yang semakin dalam, dan mulai terbangun pikiran Kristus dalam dirinya.

Dalam kehidupan sehari-harinya Tuhan juga ijinkan Daud bertemu dengan singa atau beruang (1 Sam 17:34-36). Tentu ini adalah seperti “gunung masalah” yang harus dia hadapi. Namun dengan hati yang berkobar-kobar karena ada pekerjaan firman dan Roh yang sudah bekerja sejak pengurapan Nabi Samuel, ada roh keperkasaan yang bekerja dalam dirinya, Daud mampu menaklukkan setiap singa dan beruang yang datang menyerang, bukan kabur menyelamatkan diri! Kembali, di sini di padang yang sunyi inilah, Daud berlatih bergantung kapada Tuhan untuk menaklukkan “Goliat-Goliat” kecil itu. (ayat 37)

Saya mendapati sesungguhnya kesempatan menghadapi Goliat seharusnya sudah ada di depan mata bagi Raja Saul, namun kesempatan itu seperti terlewatkan baginya. Momen itu juga seharusnya bisa menjadi pintu kesempatan bagi Eliab, Abinadab dan Syama, kakak-kakak Daud yang menjadi prajurit di medan perang itu. Bukankah Goliat menantang siapa saja untuk menghadapi dia? Namun momen itu terlewat bagi mereka begitu saja. Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabnya sederhana: karena mereka tidak siap.

Ketika saatnya tiba, di dalam kedaulatanNya, saya percaya kita yang setia berlatih dalam perkara-perkara kecil, akan dibukakan pintu kesempatan, sekaligus anugerah dari Tuhan untuk menaklukkan Goliat yang sudah disediakan bagi kita. Jika kita belum siap, Tuhan akan membuat Goliat itu menunggu kita. Sampai kapan? Sampai kita siap!

Sebelum berbicara jauh tentang mempengaruhi kota dan masa depan bangsa, Di dalam masa damai ini, kita harus mulai belajar mengikuti instruksi dari bapa rohani, sesederhana apapun bentuk instruksinya. Dengan mengikuti instruksi bapa rohani, kita sedang dibawa menapaki langkah demi langkah perjalanan iman kita. Di situlah ketaatan kita sedang dibentuk agar menjadi semakin sempurna.
2 Korintus 10 : 6 “….dan kami SIAP SEDIA juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila KETAATAN KAMU telah MENJADI SEMPURNA.”
Tidak usah buru-buru berbicara tentang membuat impact di luar sana, jika dalam menghadiri ibadah saja kita masih belum bisa konsisten, sering on-off. Padahal di dalam ibadah, kita sedang dilatih, diperbaharui pikiran dan rohnya sebagai bekal untuk perjalanan iman kita yang selanjutnya. Demikian pula dengan menghadiri kelompok doa. Ada saja alasan untuk tidak bisa hadir. Padahal sama seperti mobil yang jika dipakai terus, akan alami kehabisan bahan bakar. Dengan datang ke kelompok doa, kita akan kembali diisi, kita alami recharge (disegarkan) dan refuel (dipenuhi). Hal-hal yang sederhana ini hanya sekelumit kecil dari berbagai area yg harus kita taklukkan dalam hidup kita sebagai ciptaan baru.
Supaya kita setia dalam perkara-perkara kecil, ada beberapa hal yg harus kita benahi….#AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus
Message ini masih akan berlanjut besok….