Top

02 Agustus 2019

Message ini masih memiliki kelanjutan dengan message kemarin.

5. Orang percaya membutuhkan pewahyuan tentang Allah yang berdaulat, yang dalam kedaulatanNya akan memposisikan keberadaan umatNya menjadi orang-orang yang berpengaruh, terpandang dan disegani dalam sistem Babel.

Meski Daniel menerima berbagai perlakuan istimewa dari Aspenas (khususnya dalam aspek makan-minumnya) tapi itu semua bukan karena kecakapan Daniel dalam melakukan lobby tapi lebih dikarenakan tercurahnya perkenanan Tuhan atas hidupnya karena ketetapan hati untuk tidak menajiskan dirinya dengan makanan rajaa (Daniel 1:8-9) Dicurahkannya perkenanan Tuhan yang membuat Aspenas jadi banyak melakukan perbuatan baik atau bersimpati kepada Daniel adalah merupakan wujud dari bermanifestasinya kedaulatan Tuhan yang memposisikan Daniel menjadi orang yang berkuasa dalam sistem Babel!

Selama orang percaya masih meyakini bahwa alasan untuk mereka bisa menjadi orang yang berpengaruh, terpandang dan disegani adalah sebagai hasil dari kerja kerasnya sendiri, akibat dari relasi dan kemampuan membuat lobby-lobby tertentu kepada orang-orang tertentu, maka mereka juga akan dengan begitu saja rela mengorbankan kebenaran, integritas atau dengan bahkan ‘membunuh’ suara hati nuraninya demi untuk bisa terus mempertahankan posisinya yang sekarang atau untuk menaiki tangga promosi yang selanjutnya.

Inilah yang seringkali mengkondisikan orang percaya yang sudah ada pada suatu posisi tertentu, jadi berubah dan mulai menjadi pribadi yang lebih kompromistis dengan berbagai ketidakakuratan lain yang memang bakal terus bertebaran di dalam sistem Babel. Orang percaya tersebut sudah berhasil ‘dibeli’ oleh Babel – orang tersebut jadi lebih rela mengorbankan mandatnya untuk menjadi saksi Tuhan daripada ‘membahayakan atau mempertaruhkan’ posisi, keistimewaan ataupun berbagai kemudahan hidup lainnya yang sudah ia peroleh saat ada pada suatu posisi tertentu dalam sistem Babel!

Itulah yang juga dilakukan oleh Yerobeam. Setelah menerima nubuatan dari nabi Ahia bahwa dirinya akan dijadikan oleh Tuhan menjadi raja atas sepuluh suku Israel (1 Raja 11:29-39) dia justru ketakutan jika orang-orang Israel tetap pergi ke Yerusalem (kerajaaan Yehuda) untuk beribadah, maka hati mereka akan berpaling dari dirinya (1 Raja 12:26-31) Bukannya justru makin bersungguh-sungguh ‘mengejar Tuhan’, dia justru malah menjerumuskan Israel ke dalam penyembahan berhala yang membuat hati Tuhan jadi makin tersakiti (1 Raja 12:29-33, 13:33-34) Seandainya saja Yerobeam mengejar perkenanan Tuhan atas hidupnya, Tuhan justru akan mengokohkan tahtanya dan keturunan yang sesudah dirinya (1 Raja 11:37-38).

Itu sebabnya, setiap umat Tuhan yang rindu diposisikan dan dipromosikan Tuhan yang sistem Babel, harus melengkapi diri dengan dimensi pewahyuan tentang Allah yang berdaulat dan dalam kedaulatanNya, Dia bisa mengangkat siapa saja untuk menempati suatu posisi tertentu dan pada saat yang sama, Diapun berotoritas, berkuasa untuk menurunkan siapapun juga dari posisinya (Daniel 2:20-22, 4:17) Dengan umat Tuhan menyadari bahwa posisi strategis yang sekarang mereka duduki adalah merupakan wujud dari bekerjanya Tangan Tuhan yang menempatkan diri mereka dalam posisi tersebut, maka mereka juga harus meyakini bahwa selama mereka hidup memperkenan hati Tuhan, hidup setia dalam ketetapan yang sudah Tuhan berikan, berfungsi menjadi saksiNya seperti yang memang Dia kehendaki, maka tidak akan ada satu kekuatan pun yang bakal mampu menyingkirkan mereka!

Daniel mengalami hal tersebut! Di saat raja Darius diperdaya oleh para lawan politik Daniel untuk mengeluarkan perintah agar tidak ada satu orang pun yang kerajaaannya untuk beribadah dan meminta suatu permohonan kepada allah manapun, Daniel yang sudah berketetapan untuk selalu memiliki hidup yang  memperkenan hati Tuhan, memutuskan untuk tetap berdoa kepada Yahwe, Allah Israel! (Daniel 6) Daniel menyadari dan meyakini, karena Tangan Tuhanlah yang menempatkannya menjadi pucuk pimpinan di Babel dan kerajaaan Media-Persia, maka Tangan Tuhan yang sama juga akan menjagainya untuk bisa tetap ada di posisinya!

Tantangan memang menghadang – akan selalu ada tantangan ‘dapur api dan gua singa’ yang harus kita taklukkan; tapi percayalah dengan bekal pewahyuan tentang Allah yang berdaulat, kita tidak akan pernah mengkompromikan apa yang selama ini kita yakini; sebaliknya, kita justru akan muncul sebagai para penakluk dalam sistem Babel! #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus