Top

02 Februari 2019

Message ini adalah penutup dari message kemarin

4. Semakin kita mengenali hal-hal yang memperkenan hati Tuhan, kita perlu menarik garis tegas untuk hidup dalam kebenaran, memisahkan diri sama sekali dari dunia. (2 Kor 6:17, 2 Kor 7:1)

Dari ayat-ayat firman di atas, saya mendapati bahwa kita perlu memisahkan diri sama sekali dari dunia ini, menguduskan diri dari setiap pencemaran jasmani dan rohani, karena itulah yang menyempurnakan kekudusan kita untuk tetap hidup dalam takut akan Tuhan. Allah membenci percampuran, saya semakin memahami bahwa asosiasi/keterhubungan dengan keduniawian, berpotensi besar membuat kita disesatkan dari kesetiaan kita terhadap Kristus (2 Kor 11:3).

Dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari, memang tidak mungkin kita sama sekali tidak bertemu atau menghindari semua orang-orang dunia, karena kita malah justru kehilangan fungsi kita sebagai bagian dari GerejaNya yang akan memulihkan segala sesuatu. Tetapi saya percaya maksudnya adalah dengan meneladani Yesus, yang ketika Ia hidup di dunia, Ia hidup dalam ketegasan dalam kebenaran, Ia datang sebagai pribadi yang berotoritas dan terus terhubung dengan Bapa. Setiap perjumpaan dengan dunia menjadi momen ‘penaklukkan’ di dalam roh!

5. Teruslah hidup dalam standard ilahi, sesuai dengan pola yang telah ditunjukkan bapa rohani kita, dan kita akan bertumbuh dalam otoritas ilahi.

Ketika saya meneliti ayat Firman di Amsal 22:28-29 (TPT), saya mendapati bahwa ketika saya hidup sesuai dengan pola ilahi yang telah terbangun dalam kehidupan orang tua rohani saya, itulah yang membuat saya akan terus alami kemajuan, dibangkitkan menjadi pribadi yang cakap dalam pekerjaan, dan dipromosikan Tuhan untuk berdiri di hadapan raja-raja, menjadi pribadi yang berotoritas!

Di ayat tersebut bahkan ditegaskan bahwa kita tidak diperbolehkan ‘memindahkan batas tanah yang lama’, artinya kita tidak boleh mengubah/mengedit standard ilahi yang telah ditetapkan oleh bapa rohani kita! Saya menyadari bahwa saya harus menjadi pribadi yang tidak mengkompromikan standard kebenaran ketika berasosiasi di dunia ini, tetapi pertama-tama saya juga harus menjadi pribadi yang tidak mengkompromikan standard ilahi yang telah ditetapkan oleh bapa rohani terhadap diri saya sendiri. Baru dengan begitulah saya memiliki posisi untuk mengkonfrontasi setiap ketidakakuratan di dunia ini.

Sekarang saya semakin memahami, inilah sebabnya mengapa hidup dalam ketetapan bapa menjadi hal yang sangat penting: membangun manusia roh, mendeklarasikan Firman setiap jam sekali, bertekun dalam Firman, memberkati setiap orang yang bertemu dengan kita, dan hidup secara korporat harus menjadi bagian dari kehidupan kita, bukan sekedar teori. Karena itulah yang mengkondisikan kita menjadi pribadi yang membawa otoritas Kerajaan.

Selain saya membangun keakuratan dalam hidup saya, saya juga mau pastikan saya terus mendoakan saudara-saudara saya, dan orang-orang percaya lainnya dengan tekun sebagai wujud dari hidup secara korporat. Saya percaya, ketika kita hidup dalam ketetapan bapa, kita akan mengalami pertumbuhan dalam posisi rohani kita, tidak lagi menjadi ‘bulan-bulanan’ berbagai aktivitas roh-roh jahat, tetapi justru bersama-sama kita bangkit dalam keperkasaan Roh, menaklukkan aktivitas musuh dan menghadirkan kebenaran dan kemuliaan Sang Raja atas bumi ini sebagai Tubuh Kristus!

Terjadilah di dalam Nama Yesus, Amin! #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus