Top

02 Oktober 2018

Abraham adalah bapa orang beriman, dia seorang nabi Tuhan. Sebagai orang percaya, lewat korban penebusan Kristus, kita juga dibawa terhubung kembali dengan berkat Abraham: kita menerima pencurahan Roh yang dijanjikan itu (Gal 3:14, Kis 2:17-18). Oleh karenanya, untuk menjaga kehidupan roh yang ada, sebagaimana Abraham hidup haruslah kita hidup. Maksudnya adalah sebagai nabi Tuhan dan sahabat Allah, Abraham terus menjaga dirinya untuk terus hidup di bawah pengaruh ilahi: selalu alami adanya pekerjaan Roh dan firman yang terus berkobar di dalam batin, demikianlah keberadaan kita, kita harus menjalani POLA ILAHI yang sama.

Sekarang saya paham, mengapa jemaat mula-mula, setelah menerima diri dibaptis dalam nama Yesus (Kis 2:38), mereka tidak pasif begitu saja dan pulang ke kampung halaman masing-masing (mereka adalah orang-orang Yahudi yang sudah terserak ke berbagai negara, Kis 2:8-10), melainkan mengambil komitmen radikal untuk “bertekun dalam pengajaran Rasuli”. Dalam waktu singkat mereka alami perubahan yang drastis dan dramatis begitu saja!

Kisah Para Rasul 2 : 41-42 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Roh Kudus mendorong dan menggerakkan para rasul dan seluruh jemaat, untuk secara total membangun gaya hidup “ada di bawah pengaruh ilahi” ini, mereka mempersiapkan infrastruktur yang terpenting, dengan mulai membongkar semua pengaruh yang lama: segala paradigma, pengaruh pengajaran dan dasar keyakinan yang lama. Dan mulai merendam diri dalam firman: bertekun dalam pengajaran para rasul untuk merombak dan mengubah dasar keyakinan mereka menjadi semakin ilahi. Mereka juga memecah roti dan bertekun dalam doa dan memuji Tuhan. Ini adalah bagian dalam “berkata-kata dalam inspirasi ilahi”dalam hidup jemaat mula-mula. (Kis 2: 42,47), alhasil ketekunan mereka ini memunculkan buah yang nyata: kehidupan mereka memperkenan Tuhan dan disukai oleh orang-orang.

1. Lewat latihan membangun manusia roh, kita sedang dilatih untuk membangun dimensi profetis di dalam diri kita.

Sama seperti jemaat mula-mula segera dikondisikan oleh Roh Kudus untuk segera “hidup dalam pengaruh ilahi dan berkata-kata dalam inspirasi ilahi’, maka di akhir zaman ini sedang terjadi pemulihan bagi gerejaNya, yaitu kita sebagai kumpulan orang percaya sedang dilatih, diperlengkapi dan dibangun lewat berbagai latihan di dalam “membangun manusia rohani”. Di sini, lewat pelatihan yang ada, kita dibawa mengalami kepenuhan dari pencurahan roh, dengan berkata-kata dalam bahasa roh (Kis 2: 16-18). Tidak berhenti di sana, kita juga dilatih mengembangkan bahasa roh itu secara intensive dan mendalam, lewat berdoa secara fervent prayer: berdoa dalam bahasa roh sampai roh kita menyala-nyala, menerima impresi Roh dan belajar memperkatakan firman yang kita terima dari Roh tersebut dalam bentuk deklarasi atau nubuatan untuk membangun jemaat. Kita juga dilatih untuk membuat inpirasi yang kita terima terbangun secara permanen dalam diri kita, menjadi pikiran Kristus lewat belajar menulis inspirasi ilahi. Ada juga latihan untuk membangun dimensi penyembahan dalam terobosan yaitu membangun kehidupan seorang penyembah yang terhubung langsung dengan Ruang Tahta, dan masih banyak lagi. Apa yang sedang kita lakukan ini adalah bagian dari membangun dimensi profetis dan mempraktekkannya secara real dalam hidup kita sehari-hari.

2. Kerinduan Bapa adalah mencurahkan dimensi profetis kepada semua orang

Kisah Para Rasul 2 : 17-18 Akan terjadi pada hari-hari terakhir–demikianlah firman Allah–bahwa AKU AKAN MENCURAHKAN ROH-KU KE ATAS SEMUA MANUSIA; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.

Membangun dimensi profetis bukan hanya untuk hamba Tuhan saja atau milik nabi saja, namun dapat dilatih BUAT SEMUA ORANG, FirmanNya jelas berkata: Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia! Adalah dusta iblis yang berusaha membatasi dimensi profetis hanya milik kalangan tertentu saja. Justru adalah kerinduan hati Tuhan membawa kita (umat manusia) terhubung kembali dengan berkat Abraham, bahkan lewat kematian dan kebangkitan Kristus, kita dibawa mengalami realita dari Sorga di bumi, mematahkan efek dari kejatuhan dosa manusia, dibawa kembali hidup sebagai ciptaan baru, berfungsi sebagai AnakNya di muka bumi. Untuk itu kita perlu membangun komunikasi ilahi dengan Bapa secara nyata lewat dimensi profetis ini. Tanpa memiliki dimensi profetis terbangun dalam diri kita, gambarannya adalah seperti seorang duta besar yang diutus dari negara asalnya ke suatu negeri yang ditunjuk, namun tanpa dibekali apapun dan tanpa akses komunikasi sama sekali. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh si duta besar tanpa dibekali apapun? ia pasti tidak tahu apa yang menjadi hak dan kewajibannya di negeri tersebut. Ia tidak tahu tugas apa yang harus dilakukan. Dan bagaimana ia bisa bersaksi, merepresentasikan negeri asalnya? Tanpa bekal dan tanpa komunikasi apapun ia lebih cocok disebut sebagai orang “buangan” daripada “utusan”.

Demikian pula keberadaan kita sebagai orang percaya tanpa dimensi profetis. Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, tugas dan agenda Bapa apa yang harus dilakukan di muka bumi ini. Mengapa kita dilahirkan, untuk apa dan buat apa ada di muka bumi ini? Kita tidak tahu jawabannya karena sudah terputus dengan Tuhan! Dosa sengaja digulirkan iblis agar kita terputus dan jauh dari Tuhan, sehingga keberadaan kita seperti orang “buangan” di muka bumi. Hidup secara lahiriah dan alamiah belaka. Kehilangan fungsi dan otoritas Tuhan. Sebagai akibatnya kita tidak mengetahui apa yang menjadi agenda Tuhan, tugas dan peranan kita dalam KerajaanNya. Tidak heran hidup banyak orang percaya dibuat bulan-bulanan oleh si jahat!

Namun saat perubahan sudah tiba! dengan membangun dimensi profetis, kita dibawa terhubung kembali “hidup dalam pengaruh ilahi” mengalami kembali realita Bapa, channel komunikasi dengan Bapa dipulihkan, kita dibawa kembali alami Realita Sorga di bumi, dan kita mulai menangkap agenda Sorga, kita memberi diri diperlengkapi oleh hamba-hambaNya (Efesus 4:11-12) sehingga bersama Roh Kudus dan saudara-saudara kita yang lain, kita mewujudkan agenda Bapa di muka bumi ini.

3. Semakin kita bertekun, dimensi profetis dalam diri kita akan semakin dipertajam.

Dimensi profetis dapat dilatih dan dikembangkan agar menjadi sesuatu yang menyatu dengan diri kita dan beroperasi dalam hidup sehari-hari. Ini bukan seperti dimensi yang hanya menghinggapi seseorang sesekali saja dan setelah itu pergi, seperti ketika Saul turut kepenuhan seperti seorang nabi (1 Sam 10:10, 1 Sam 19:20-21). Namun dengan kita bertekun membangun manusia roh, dimensi profetis dapat terus diasah agar semakin tajam dari hari ke hari. Yang penting di sini adalah adanya TEKAD dan KETEKUNAN untuk terus berlatih dan mengembangkan dimensi tersebut. Sadari bahwa sepotong besi tidak akan pernah jadi pedang jika tidak ditempa dalam api yang menyala-nyala dan digosok sampai tajam.

Untuk itu kita perlu mengkondisikan diri kita untuk terus hidup dalam pengaruh ilahi dan berlatih berkata-kata dalam inspirasi Roh. Selalu luangkan waktu untuk melatihnya dan yang tidak kalah penting, miliki sikap hati untuk mau belajar mengikuti training-training yang diadakan oleh rumah rohani yang sudah memiliki pola ilahi. Di sana ada figur bapa rohani yang sudah dilatih dalam Sekolah Roh Kudus, untuk mengimpartasi dan mengaktivasi berbagai pekerjaan Firman dan RohNya dalam hidup kita. Setelah mengikuti training yang ada, Latih diri kembali dan rendam diri kita dalam pesan firmanNya, dengan demikian dimensi profetis kita akan semakin tajam, kehidupan kita pun akan dibawa oleh Roh Kudus menjadi semakin memperkenan hati Tuhan dan hati manusia, semakin berdampak dalam kehidupan sehari-hari.

#AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus