Top

03 Agustus 2018

Supaya kita setia dalam perkara-perkara kecil, ada beberapa hal yang harus kita benahi:

1. Sikap hati yang meremehkan

Saya mendapati akar dari sikap hati meremehkan, yaitu adanya kekacauan dalam menentukan urutan PRIORITAS HIDUP. Seringkali kita berbenturan dalam menentukan urutan prioritas, tuntutan pekerjaan dulu atau menghadiri ibadah? Kalau saya tidak melakukan pekerjaan, saya takut kehilangan order. Akhirnya kita memutuskan tidak usah hadir dalam ibadah, toh minggu depan ada lagi. Ini adalah logika berpikir yang keliru.
Firaun (gambaran dari roh-roh dunia dan roh mamon) akan selalu menahan umat Israel untuk menghadiri ibadah.
Kita harus berani mengambil langkah tegas, mensetting ulang pikiran kita, kita harus menomorsatukan Tuhan, karena kita sudah mati bagi dosa, dan sekarang hidup bagi Allah. Ketika kita berhasil mensetting pikiran ini, maka saya percaya dalam kedaulatanNya Tuhan akan mengatur segala sesuatu bekerja, sesuai dengan sikap hatimu ini.
2 Samuel 22 : 27… terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.

2. Sikap hati Familiarity terhadap firman dan pekerjaan RohNya

Familiriaty adalah sikap hati yang menganggap biasa atau sudah terbiasa dengan firman, dan pekerjaan Roh-Nya. Kita merasa sudah KEBAL, tidak bisa lagi merasakan sensasi hadirat Tuhan, sudah kehilangan PASSION dalam mengejar Tuhan. Di sisi lain kita merasa sudah TAHU, jadi tidak merasa tertarik lagi jika harus mengulang mendengar firman yang sama. Atau berdoa, mendeklarasikan hal yang sama.
Padahal jika sesuatu harus diulang itu artinya PENTING, karena bertujuan MEMBENTUK kita MENJADI seperti apa yang firman katakan.
Akar dari ini semua adalah kehilangan kasih mula-mula, tidak ada lagi roh haus dan lapar di dalam hidup kita. Seseorang yang dipenuhi kasih mula-mula, akan melakukan apa saja untuk memenuhi kehendak/keinginan orang yang dikasihinya. Orang itu akan mati-matian, gila-gilaan dan habis-habisan karena diliputi kasih mula-mula. Mintalah roh yang lapar dan haus kembali dicurahkan dalam hidup kita dan alamilah sudut pandangmu berubah dan engkau akan kembali berkobar dalam kasihNya!

3. Kepasifan dan kemalasan rohani

Ini adalah suatu pekerjaan musuh untuk menghalangi kita untuk bertekun. Karena musuh tahu, jika kita tidak bertekun pasti kita tidak akan jadi. Mulai setting dalam pikiran kita bahwa jika kita mengijinkan kepasifan, kemalasan, menunda-nunda masih ada artinya kita memberi ruang gerak bagi musuh dalam kehidupan kita. Bisa kita bayangkan jika rumah kita ini diserbu oleh hama, masakan akan kita biarkan begitu saja? Pasti dengan segala upaya akan kita akan usir, supaya kita bisa hidup nyaman. Setting dalam pikiran kita: kita sudah mati bagi dosa, dan sekarang hidup bagi Allah. Segala pekerjaan musuh harus kita usir keluar dari hidup kita. Miliki roh yang alert, waspada sehingga kita bisa menanggulangi areal kepasifan dan kemalasan ini.

4. Keinginan-keinginan yang tidak ditanggulangi

Akar dari keinginan adalah SELF, KEAKUAN. Sang “Aku” masih ingin tinggal dalam zona nyaman. Jika keakuan terus dibiarkan bertumbuh, maka musuh masih memiliki akses dan tempat berpijak dalam hidup kita. Saya mendapati manusia tidak mungkin tidak memiliki keinginan, namun jangan biarkan keinginan itu menguasai dan men-drive hidup kita. Belajar serahkan satu persatu keinginan yang ada di dalam tanganNya, ingat Dia adalah Bapa yang baik, di dalam hikmat dan kemahatahuannya Dia tahu yang terbaik bagi anak-anak yang dikasihi-Nya Jika saatnya tiba, apa yang kita rindukan, Dia pasti akan mengaruniakanNya kepada kita
Filipi 4 : 6… Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi NYATAKANLAH dalam SEGALA HAL KEINGINANMU kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus