Top

03 September 2018

Mazmur 23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Tidak ada satu orangpun yang mau melewati lembah kekelaman dalam perjalanan hidupnya. Tapi kadangkala, justru itulah ‘jalur perjalanan hidup’ yang harus kita lalui. Seringkali kita tidak bisa memahami, mengapa Tuhan justru seperti membimbing kita untuk berjalan melaluinya…

1. Pastikan saja tangan kita masih terus menggenggam Tangan Tuhan.

Percayalah, yang membuat hidup kita jadi berbeda dan serasa ada di Surga adalah karena adanya realita hadirat Tuhan dalam hidup kita. Selama kita terus alami adanya realita Tuhan yang terus mencengkeram batin kita, percayalah, perjalanan lembah kekelaman tersebut tidak akan membuat kita jadi takut. Bahkan dapat dikatakan, kalaupun kita harus berjalan melalui dasar neraka, kita tidak akan menyadarinya karena selama realita Tuhan mencengkeram batin kita, itulah surga yang sesungguhnya. Surga adalah suatu suasana & tempat dimana Tuhan itu nyata dan mencengkeram keberadaan kita! Tempat rohani yang selama ini disebut ‘surga’ sekalipun jadi kehilangan artinya kala Tuhan ‘melangkah keluar’ dari surga itu. Surga bukanlah tempat Tuhan tinggal, Surga ada didalam Tuhan! Jadi, dimana ada realita Tuhan, disitulah Surga!

2. Pastikan saja kita tetap hidup dalam pengharapan yang tetap tertuju kepadaNya.

Perjalanan melewati lembah kekelaman maupun lembah ratapan adalah merupakan suatu proses. Sama seperti ketika kita ingin bepergian dari satu kota ke kota berikutnya dan harus melewati suatu pegunungan yang jalannya berliku, kita tidak bisa begitu saja ‘melewatkan/ skip’ dari jalur tersebut. Mau-tidak mau, kita harus menjalani jalan yang berliku tersebut – seringkali ada suatu proses/ langkah-langkah lahiriah yang harus kita lalui sebelum suatu permasalahan dapat dikatakan ‘selesai’.
Kita mempercayai mujizat dan kita meyakini bahwa kedaulatan Tangan Tuhan masih tetap berlaku; tapi terkadang, tetap saja, wujud manifestasi mujizat tersebut tetap harus melewati suatu proses yang terkadang ‘memakan waktu’ – tidak terjadi begitu saja, tidak secepat seseorang menjentikkan jari jemarinya…

Disinilah dibutuhkan bekerjanya kuasa pengharapan dalam hidup orang yang bersangkutan (Ibr 6:19, 10:23, 10:36-39)
Yang pasti, dalam kedaulatanNya, Tuhan tidak akan pernah mengijinkan munculnya suatu permasalahan yang melebihi kekuatan kita! Dalam kesetiaanNya, Dia akan terus menguatkan kita dalam melewati apa yang harus kita lewati & Dia sudah menyediakan jalan keluar dari semua permasalahan tersebut (1 Kor 10:13).
Jangan pernah terjebak dalam tipu muslihat Iblis yang selalu berniat membuat kita jadi meragukan kasih, penjagaan & pemeliharaan Bapa atas hidup kita (1 Pet 5:6-11, Ef 6:10-18) Tidak peduli apapun fakta negatif yang masih harus kita lalui, tetap jagai ‘aspek pengharapan’ dalam kehidupan kita. Aspek pengharapan itulah yang akan bisa terus menjagai dimensi Iman & kasih kita kepadaNya dapat terus berkobar meski kelihatannya Tuhan belum juga bertindak walau sudah ada banyak doa yang dinaikkan kepadaNya…

3. Pastikan kita tetap menjagai dan mengarahkan aspek pikiran yang kita miliki untuk tetap tertuju hanya kepadaNya.

Saya mendapati, aspek pikiran ini akan terus menjadi ‘medan peperangan’. Jika pikiran kita berhasil di arahkan oleh Iblis untuk mulai berfokus kepada berbagai fakta negatif yang ada disekitar hidup kita, maka artinya Iblis sedang mulai memenangkan peperangan rohani yang ada. Itu sebabnya, Paulus menegaskan untuk kita terus menjagai aspek pikiran dalam hidup kita dengan cara mendisiplin pikiran tersebut.
Filipi 4:8 (FAYH) Saudara sekalian yang saya kasihi, pada akhir surat ini saya ingin mengatakan satu hal lagi. ARAHKANLAH PIKIRAN SAUDARA kepada hal-hal yang benar, yang baik, dan yang adil. RENUNGKANLAH hal-hal yang murni dan indah, serta kebaikan dan keindahan di dalam diri orang lain. INGATLAH akan hal-hal yang menyebabkan Saudara memuji Allah dan bersukacita.

Dengan kita terus mendisiplin pikiran, sesuatu yang Ilahi bakal terus menyertai dan terjadi dalam hidup kita.
Mazmur 84:5-6 (FAYH) Berbahagialah orang yang kuat di dalam TUHAN, yang berhasrat mengikuti langkah-langkah-Mu.
Pada waktu mereka berjalan melalui Lembah Ratapan, lembah itu akan berubah menjadi tempat mata air dengan kolam-kolam yang penuh berkat dan kesegaran setelah turunnya hujan.
Teruslah melangkah bersamaNya; lanjutkan perjalanan hidupmu hingga engkau kembali menemukan ‘padang yg berumput hijau dan air yang tenang’. Kerena memang Dia adalah gembala jiwamu…#AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus