Top

05 Agustus 2019

Kejadian 41:15-16 (TB) Berkatalah Firaun kepada Yusuf: “Aku telah bermimpi, dan seorang pun tidak ada yang dapat mengartikannya, tetapi telah kudengar tentang engkau: hanya dengan mendengar mimpi saja engkau dapat mengartikannya.” Yusuf menyahut Firaun: “Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun.”

Daniel 2:27-28 (TB) Daniel menjawab, katanya kepada raja: “Rahasia, yang ditanyakan tuanku raja, tidaklah dapat diberitahukan kepada raja oleh orang bijaksana, ahli jampi, orang berilmu atau ahli nujum. Tetapi di sorga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia; Ia telah memberitahukan kepada tuanku raja Nebukadnezar apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang…

Dari kisah tentang Yusuf & Daniel di atas, kita mendapati adanya prinsip firman berikut:

1. Masing-masing tidak lagi mengunggulkan nama/ dirinya sendiri tapi keberadaan Tuhan sebagai sumber solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi oleh raja.

Ketika Yusuf menjadikan juru minuman Firaun yang ia tafsirkan mimpinya saat ada di penjara menjadi ‘tiket keluar’ dirinya dari penjara, Tuhan membuat juru minuman Firaun tersebut justru melupakan Yusuf (Kej 40:12-23) Baru setelah Yusuf mengalami proses ‘mengosongkan diri’ selama dua tahun lagi, Tuhan bergerak atas Firaun dan memberinya mimpi yang hanya bisa ditafsirkan oleh Yusuf sendiri!

Untuk Tuhan mempromosikan seseorang, dengan mudah Dia bisa melakukannya! Bahkan dalam semalam saja, Dia bisa membawa seseorang yang awalnya adalah seorang buangan, seorang narapidana, menjadi penguasa atas suatu negeri. Permasalahan yang hingga kini masih terus ‘menjadi kendala’ bagi Tuhan adalah aspek kerelaan seseorang untuk betul-betul mengosongkan dirinya. Perhatikan apa yang Daniel katakan saat Nebukadnesar menegaskan apakah betul DIRINYA dapat menceritakan & menafsirkan mimpinya; Daniel-pun menjawab: “Di sorga ada Allah…” Ketika Yusuf ditanya oleh Firaun, Yusuf menjawab:”Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga….

Saat seseorang sudah mengosongkan dirinya, barulah Tuhan akan menghadapkannya untuk bertemu, berinteraksi dengan penguasa dijaman kita! Hanya melalui proses ‘mengosongkan diri’-lah, sebagai orang percaya kita akan dibawa oleh Tuhan untuk bertemu dengan para penguasa negeri untuk menjadi sumber solusi atas permasalahan yang sedang mereka hadapi.

2. Masih tersisanya ke-Aku-an dalam hidup kita adalah merupakan celah yang membuat penguasa dunia ini selalu memiliki kesempatan untuk ‘menaklukkan’ keberadaan kita.

Tuhan merancangkan untuk setiap orang percaya dapat menjalani proses mengosongkan diri secara tuntas demi untuk memastikan agar ketika ‘penguasa dunia ini’ datang untuk mencobai/ menampi kita, dia tidak akan mendapati adanya celah dalam hidup kita (Yoh 14:30) Permasalahannya, justru proses mengosongkan diri inilah yang banyak di hindari oleh umat Tuhan; sehingga sebagai akibatnya, disaat mereka memasuki sistem Babel, mereka jadi memiliki ada banyak celah dalam hidup mereka – memudahkan untuk Musuh menghentikan langkah kaki mereka, bahkan membinasakan mereka!

Hingga sejauh ini, saya mendapati ada banyak hamba-hamba Tuhan yang justru ‘dijatuhkan’ oleh Musuh disaat mereka ada di puncak keberhasilan hidup/ pelayanan mereka. Otomatis disaat mereka jatuh, mereka juga ikut membawa serta semua orang yang selama ini ada di bawah pengayoman mereka untuk ikut mengalami kejatuhan!

Ada bagitu banyak orang percaya yang jadi terluka, trauma – bahkan tawar hati & frustasi dalam pengiringan mereka kepada Tuhan gara-gara pemimpin yang selama ini mereka hormati, mengalami kejatuhan akibat masih adanya aspek ke-aku-an yang belum tuntas dibenahi di dalam Tuhan – mereka melewatkan (tidak menjalani hingga tuntas) proses mengosongkan diri yang Tuhan sedang terapkan atas diri mereka. Kecenderungan untuk ‘dengan cepat’ mengalami promosi telah mengkondisikan diri mereka jadi ikut mempergunakan ‘segala macam cara’ – termasuk cara-cara yang manusiawi/ duniawi untuk mengalami promosi dalam pekerjaan/ pelayanan.

Masih tersisanya ke-Aku-an dalam hidup seseorang yang berkeinginan untuk masuk (dan menjadi penakluk) dalam sistem Babel, akan menjadi suatu bumerang dalam hidup/ pelayanannya sendiri. Pastikanlah hanya Tangan Tuhan yang membawamu naik dan teruslah melekat kepadaNya serta rencana kekal yang Ia miliki dan Tangan yang sama juga akan terus menjagamu untuk bisa tetap ada diatas!#AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus