Top

05 Desember 2018

Standart normal bagi manusia batiniah kita seharus terus menyala – nyala dan berkobar – kobar. Inilah yang perlu kita kondisikan setiap hari dengan cara menjadikan setiap prinsip kebenaran firman Tuhan sebagai dasar keyakinan – membaca firman, mendeklarasikan firman, mengimajinasikan, dan menggali lebih dalam pemahaman firman. Saat kita tekun dan berulang – ulang melakukan hal tersebut sampai manusia roh kita berkobar – kobar, maka api kobaran itu akan menjadi ‘api abadi’ yang terus menyala (Imamat 6:8-13) Sehingga kehidupan kita akan menjadi persembahan yang memperkenan hatiNya dan menjadi terang dunia di tengah kegelapan. Itulah kehidupan ilahi yang seharusnya memenuhi batin kita. Kehidupan ilahi tersebut yang akan menelan segala kemanusiawiaan dan segala fakta – fakta negatif dalam hidup kita sehari – hari.
Itulah yang terjadi dengan kehidupan dari Sadrakh – Mesakh – Abednego ketika mereka dibuang ke dapur api oleh Nebukadnezar. Api lahiriah ditelan oleh api ilahi yang berkobar – kobar dalam diri mereka.

Saya merasa, itulah yang akan terjadi juga dalam hidup kita. Ada banyak “ancaman dunia” ini yang seringkali menekan, mengintimidasi, dan membuat kita takut, serta akhirnya membuat kita meninggalkan kehidupan iman. Namun jika kita “berhasil” mengikuti KEYAKINAN TERHADAP FIRMAN yang dimiliki oleh mereka, maka kobaran api yang sama pun akan kita alami! Sehingga setiap ancaman dari dunia ini akan kita taklukkan oleh iman!!
Salah satu karakteristik dari orang yang telah menjadikan firman sebagai dasar keyakinan dapat kita lihat dari hidup Sadrakh – Mesakh – Abednego
(Dan 3:16-18)
Itulah standartnya: “Meyakini firman Tuhan sampai kita tidak lagi mengasihi nyawa kita sendiri dan tetap setia kepada Tuhan walaupun apa yang kita yakini tidak terjadi”. Saya rasa, level keyakinan terhadap Tuhan yang seperti itulah yang harus kita masuki: Kita yakin sepenuhnya terhadap firmanNya, tapi jika apa yang kita yakini “tidak terjadi”, kita tetap mencintaiNya dan setia kepadaNya dan tidak “mengedit” dasar keyakinan yang kita miliki!

Pertanyaannya, mungkinkah firman Tuhan yang kita yakini tidak terjadi? Tidak mungkin!! Sebab Dia Allah yang setia, dan setiap firman yang keluar dari mulutNya pasti tergenapi (Yes 55:10-11) Lalu mengapa Sadrakh dan kawan-kawan masih berpikir ‘jika Tuhan tidak menolong mereka’?. Sebenarnya hal itu ‘bukan menunjukkan keraguan’ mereka, melainkan menunjukkan kesetiaan mereka terhadap Raja segala raja dihadapan Nebukadnezar; bahwa mereka tidak hidup di bawah pemerintahan Babel, melainkan di bawah pemerintahan Kerajaan Surga!! Inilah karakteristik dari pribadi yang telah menjadikan firman sebagai dasar keyakinannya; sangat setia terhadap Tuhan bahkan disaat menghadapi situasi dan kondisi yang mengancam nyawanya!!

Sesungguhnya kita sering menghadapi kondisi seperti Sadrakh, Mesakh & Abednego dalam level pertumbuhan kita masing – masing. Misalkan kita telah meyakini bahwa segala sakit penyakit sudah ditaklukkan oleh Kristus, sehingga jika kita sakit maka kita hanya perlu mendeklarasikan firman sampai kita sembuh – dan tidak perlu minum obat!! Saat kita meyakini hal itu maka bisa saja kita diperhadapkan dengan kematian. Disinilah biasanya “dasar keyakinan kita menjadi goyah”. Alternatif minum obat muncul sebab kita takut mati! Padahal, untuk bisa mengalami ‘maut ditelan dalam kemenangan’, kita harus mempertahankan apa yang kita yakini tersebut! Mungkinkah kita mati? Bisa jadi! Tapi baiklah kita mengakhiri hidup ini dengan iman percaya yang tidak tergoyahkan kepadaNya. Sehingga jejak langkah kaki itu akan membuat generasi selanjutnya dibangkitkan menjadi para pahlawan iman yang menaklukkan dunia!!
Wahyu 12:10-11 (TB) Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.
Selama kita masih terus memadukan antara kehidupan iman dengan cinta diri sendiri, maka sesungguhnya kita sedang menyembah dua tuan. Otomatis kita akan tunduk pada yang lain (fakta negatif, sakit penyakit, mammon, kondisi buruk, keadaan yang menekan) Tapi jika kita telah mati dari cinta diri sendiri, maka kita akan hidup hanya bagi Allah (Rom 6:11) Sehingga kita bisa mengalami kuasa kebangkitan Kristus menaklukkan segala fakta negatif!! Pastikan saja arah kecenderungan hati kita hanya tertuju kepada Tuhan (Fil 3:10) setia kepadaNya, mengejar Dia, dan selalu ingin mengenal Dia lebih dan lebih lagi, maka kita pasti mengalami kuasa kebangkitan Kristus termanifestasi menaklukkan dosa, iblis, dan maut dalam hidup kita sehari – hari (Efesus 1:15-23)

Saya yakin, pemerintahan Kerajaan Surga akan nyata lewat hidup kita yang tidak mengasihi nyawa kita lagi, melainkan dengan tekun memperkatakan firmanNya!! Segala nama yang dapat disebut di kolong langit ini akan takluk oleh satu nama, Kristus yang adalah Raja segala raja!! Sebagaimana Nebukadnezar takluk, itu pun yang akan kita lihat!! Raja – raja dan pemerintahan dunia ini akan tunduk di bawah pemerintahan Kerajaan Surga lewat diri kita (Daniel 7:13-14, 18, 27)
Bagian kita saat ini adalah BERTEKUN merenungkan, memperkatakan, mengimajinasikan firman sampai roh kita bergelora. Semakin sering melakukannya semakin kuat dasar keyakinan yang kita miliki. Saat firman telah menjadi dasar keyakinan, maka manifestasi kedaulatan dan kuasaNya akan kita alami dalam hidup sehari – hari!! #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus