Top

06 February 2019

Message ini adalah kelanjutan dari message kemarin.

Ada beberapa hal yang Roh Kudus singkapkan kepada saya dari peristiwa terpanggilnya Elisa yang hanya 3 ayat ini (1 Raja-raja 19:19-21)

a. Elisa bukan pengangguran, ia memiliki pekerjaan, ia sedang membajak ketika Elia datang. Ia pribadi yang produktif.

b. Elisa bukan orang yang hidup berkekurangan, karena ketika merenungkan ayat-ayat Firman yang ada, saya mendapati bahwa tanah yang dibajak tersebut ternyata adalah milik Elisa (dan keluarganya).

Tanah tersebut juga pasti tanah yang besar, karena dibajak dengan dua belas pasang lembu. Tidak mungkin tanah/sawah yang hanya 1-2 petak dibajak dengan 12 pasang lembu. Jadi, pasti tanahnya besar, menandakan bahwa Elisa orang yang hidup berkecukupan.

Satu bukti penguat lagi yang saya temukan mengenai ‘kepemilikan’ Elisa atas tanah tersebut adalah karena di 1 Raja-raja 19:21, setelah menerima izin dari Elia, Elisa mengambil sepasang lembunya dan ia menyembelih dan memasaknya. Kalau ia hanya ‘pegawai’, mana boleh ia mengambil lembu-lembu tersebut dan ia sembelih untuk dimakan ramai-ramai? Dari hal ini, saya cukup yakin bahwa Elisa adalah bagian dari pemilik tanah dan lembu-lembu tersebut.

c. Elisa menjamu keluarganya dan anak buahnya dengan daging lembu yang telah ia masak tersebut (1 Raja-raja 19:21)

Lembu yang Elisa masak adalah sepasang lembu yang selama ini menjadi ‘tools’ paling penting dalam pekerjaannya. Saya mendapati bahwa ketika Elisa menyembelih dan memasak sepasang lembunya, itu wujud dari keyakinan dan kepastian langkah kaki Elisa dalam keputusannya mengikuti Elia, ia ‘memusnahkan’ opsi untuk kembali ke kehidupannya yang lama! ‘No turning back!’ Ia mengambil langkah tegas untuk meninggalkan kehidupannya yang lama, dan dengan langkah yang pasti, ia memasuki destiny ilahinya. Ia mendedikasikan seluruh keberadaannya untuk menundukkan diri di bawah Elia.

d. Tadinya Elisa adalah ‘bos’ dari para anak buahnya dalam membajak tanah miliknya, tetapi ia meninggalkan itu semua, ia ‘mengosongkan’ dirinya, dan justru mendedikasikan dirinya untuk menjadi hamba dan pelayan bagi Elia.

Saya percaya, Elisa sudah pernah mendengar kisah Elia, tokoh yang pada masa itu pastinya kontroversial. Bagaimana tidak, ia adalah nabi Tuhan yang ‘menghentikan’ embun dan hujan selama beberapa tahun (1 Raja-raja 17-18), membangkitkan orang mati (1 Raja-raja 17:21-23), ia juga adalah nabi Tuhan yang dengan sangat berani mengkonfrontasi raja, mengejek, serta mempermalukan nabi-nabi Baal (1 Raja-raja 18:27), ia menyatakan kebesaran dan kuasa Tuhan (1 Raja-raja 18:38-39), dan ia membunuh 450 nabi-nabi Baal (1 Raja-raja 18:40)!

Saya mendapati Elia adalah pribadi yang sangat setia dengan Tuhan yang ia layani dan ia tidak terima ketika bangsa Israel tidak setia dengan Allah Ikatan Janji! Ia bertujuan untuk dapat membawa Israel menyadari bahwa memang hanya Tuhanlah Allah yang berkuasa dan layak disembah, sehingga mereka dapat bertobat!

Ketika saya merenungkannya, saya mulai dapat melihat mengapa Elisa dapat dengan mudah mengambil keputusan yang mengubahkan seluruh kehidupannya dengan begitu cepat. Karena Elisa tahu bahwa Elia adalah nabi yang disertai oleh Tuhan.

Ketika Elia menghamparkan jubahnya kepadanya, saya percaya Elisa ‘menangkap’ momen itu bahwa Tuhan sedang membuka pintu kesempatan kepada Elisa untuk terhisap masuk dalam kegerakan yang dibawa Elia! Sehingga ia tidak membutuhkan waktu untuk berpikir dan menimbang-nimbang keputusannya, ‘he seized the opportunity!’ Ia meninggalkan kehidupannya yang terbilang cukup baik untuk justru menjadi pelayan Elia. Ia memutuskannya dengan begitu mudah, karena ia mengenali anugerah yang ada dalam hidup Elia! Karena ia sadar ketika ia melayani hamba Allah yang hidup, ia sesungguhnya juga sedang melayani Sang Allah yang hidup!

3. Fakta lain yang mengobarkan roh saya adalah ketika menyadari bahwa keberadaan Elisa adalah suatu ‘penghiburan’ bagi Elia.

Saya mendapati bahwa sebelum momen Elia mendatangi Elisa, Elia sedang dalam masa ‘frustasi’, ketakutan karena dikejar-kejar oleh Izebel untuk dibunuh, ia juga merasa sendirian karena pengkhianatan Israel terhadap Tuhan dan karena Izebel telah membunuh nabi-nabi Tuhan (1 Raja-raja 18:13, 19:10,14).

Tetapi suara Tuhan datang atas hidup Elia, saya percaya tujuannya adalah untuk menyadarkan Elia bahwa Tuhan adalah Allah yang setia yang selalu memperhatikan Elia yang bekerja dengan giat bagi Tuhan (1 Raja-raja 19:9-10, 13-14). Salah satu suara Tuhan untuk Elia berupa perintah untuk mengurapi Elisa, dan Tuhan menyatakan kepadanya bahwa Elisalah yang akan menjadi nabi untuk menggantikan Elia (1 Raja-raja 19:16-17).

Saya merasa, di momen tersebut, ada suatu ‘kekuatan dan pengharapan’ baru yang Tuhan injeksikan masuk dalam kehidupan Elia, Tuhan seakan menyatakan kepada Elia, bahwa ia tidak sendirian. #AkuCintaTuhan

Message ini masih akan berlanjut besok.

Ps. Steven Agustinus