Top

06 Juni 2019

Ibrani 11:6 (FAYH) Saudara tidak mungkin menyukakan hati Allah tanpa iman, tanpa bergantung kepada-Nya. Barangsiapa ingin datang kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Ia memberkati orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

 

Ternyata hidup kekristenan sudah semakin kompleks dengan berbagai macam “metode” untuk memperkenan hati Tuhan. Padahal Tuhan hanya menghendaki kita PERCAYA/BERIMAN saja pada Dia. Terdengar memang “mudah”, tapi dalam prakteknya untuk PERCAYA saja masih sulit untuk diterapkan.

 

Lukas 18:7-8 Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

 

Seringkali saat menghadapi fakta negatif dalam hidup kita sehari – hari, sukacita kita menjadi mudah hilang seiring dengan rasa percaya kita kepada Tuhan mulai luntur. Karena fakta negatif yang tak kunjung berubah akhirnya membuat kita mempertanyakan “keberadaan Tuhan”.

 

Apakah Dia ada? Apakah Dia ingin menolong? Apakah Dia melihat? Dan apakah Dia peduli? Alhasil hubungan kita dengan Tuhan pun menjadi renggang. Kita putus asa dan kehilangan harapan.

 

Habakuk pernah mengalami kondisi yang “mengecewakan secara manusiawi” (Habakuk 3:17-19) Namun Habakuk menunjukkan respon yang ilahi. Ia tetap bersukacita, bersorak, dan memuliakan Tuhan.

 

Berbeda dengan orang pada umumnya, jika menghadapi kondisi yang buruk, maka responnya adalah bersungut – sungut, bersedih, dan diliputi emosi negatif lainnya. Apa yang menjadi dasar dari tindakan Habakuk tersebut?

 

Habakuk 2:4 (FAYH) “Perhatikan ini: Orang-orang jahat hanya percaya kepada dirinya sendiri saja (seperti halnya orang-orang Kasdim) dan mereka gagal; tetapi orang-orang benar hidup oleh iman—mereka hidup karena mempercayakan diri kepada-Ku! “

 

Habakuk mendapatkan pemahaman dari pada Tuhan ; sebagai orang benar hidupnya dan perasaannya bukan lagi didikte oleh fakta yang ada di depan mata, melainkan oleh PERCAYA (melihat dan berfokus pada apa yang Tuhan firmankan)

 

Berbeda dengan orang yang tidak percaya kepada Tuhan, hati mereka “serong” sehingga mempercayai kekuatan mereka sendiri. Alhasil mereka melakukan berbagai macam cara yang tidak memperkenan hati Tuhan demi terjadinya perubahan situasi dan kondisi! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus