Top

07 Agustus 2019

Yeremia 17:9-10 (TB) Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?
Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”

 

Ketika di sebagian pulau Jawa mengalami padam listrik selama hampir 2 hari, ada banyak spekulasi dan kecurigaan dari masyarakat yang muncul. Kebetulan saya ada dalam satu group WA dengan beberapa tokoh masyarakat dan petinggi-petinggi suatu badan usaha, jadi saya bisa mengikuti keseruan asumsi, informasi dan analisa beberapa dari mereka yang ikut memperhatikan hal tersebut.

 

Dari semua yang mereka tuliskan sebagai opini dalam group WA tersebut, saya melihat betapa ‘sistem Babel’ di dalam berbagai lini kehidupan berbangsa telah sedemikian dikuasai oleh orang-orang yang sarat dengan kepentingan pribadi; sedemikian kuat peranan kepentingan tersebut sampai-sampai mereka bakal rela melakukan apa saja demi mewujudkan kepentingan mereka tersebut.

 

Orang benar yang akan Tuhan bawa masuk ke dalam sistem Babel harus betul-betul sudah mengosongkan diri mereka dari berbagai jenis kepentingan yang sifatnya manusiawi atau duniawi dan hidup hanya dari pewahyuan firman bahwa Tangan Tuhanlah yang membawa mereka menaiki anak tangga promosi dalam sistem Babel dan otomatis Tangan Tuhan jugalah yang bakal menjagai mereka untuk tetap ada ‘di atas’ dan berfungsi menjadi saksiNya, menghadirkan realita Kerajaan sorga di dalam sistem Babel yang ada.

 

1. Tanpa kita mengosongkan diri dari berbagai kepentingan yang manusiawi atau duniawi dan hidup hanya untuk menggenapkan rancangan Tuhan, maka dengan mudah keberadaan kita akan bisa ‘dibeli’ oleh orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu yang memang memiliki kepentingan atas posisi yang sedang kita emban dari Tuhan tersebut.

 

Ingatlah bahwa Sadrakh, Mesakh dan Abednego juga diberi ‘kesempatan untuk memilih’ (walau dalam intimidasi Nebukadnesar – Daniel 3:13-15) Ketetapan hati yang mereka miliki memang membuat mereka harus memasuki ‘dapur api’ – dan itulah yang saya rasakan ketika saya berdoa untuk orang-orang benar yang akan Tuhan bawa memasuki posisi-posisi strategis di bangsa ini. Akan selalu ada orang-orang fasik dan kelompok-kelompok pembenci kebenaran yang mencoba ‘menjebak’ orang-orang benar agar pada akhirnya mereka akan ‘bersedia tunduk’ dan mengikuti keinginan dari orang-orang fasik atau kelompok pembenci kebenaran tersebut.

 

Doa saya untuk setiap orang benar yang sudah ada pada posisi-posisi strategis atas bangsa ini adalah, biar roh kebenaran terus berkuasa atasmu dan dengan penuh keberanian engkau akan memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh anak bangsa ini! Jangan mau diperjual-belikan di dalam sistem Babel ini!

 

2. Dengan kita hidup di dalam dimensi pewahyuan tentang keberadaan Tuhan yang dalam kedaulatanNya akan mengangkat siapa saja yang Ia ingini (Daniel 2:20-21, 4:17) otomatis kita akan terus menset hidup kita jadi selalu memperkenan hatiNya.

 

Kita menyadari betul, promosi ini kita dapatkan dari Tangan Tuhan; bukan dari relasi, kolega ataupun titipan siapapun juga! Jika promosi ini berasal dari Tuhan, maka untuk kita bisa terus aman diposisi yang sekarang – bahkan bakal menerima promosi yang lebih tinggi lagi, maka tidak ada alternatif lain, kita harus terus ‘melobbi’ Tuhan!

 

Memastikan kita berfungsi sesuai dengan Tujuan Tuhan saat Ia menetapkan kita di posisi yang sekarang ini; memastikan kehidupan kita selalu memperkenan hatiNya. Dan yakinilah, jika kita setia mengerjakan tugas TUHAN pada posisi yang sekarang, kita terus membangun hidup yang akurat dan menyukakan hatiNya, Dia akan mempercayakan kepada kita posisi yang lebih lagi.!

 

Tuhan tidak pernah bermasalah utk mempromosikan keberadaan kita; masalahnya adalah pastikan saja di saat kita menikmati promosi Tuhan, kita tidak menjadi lupa pada tujuan mula-mula yang Ia tetapkan bagi kita: Berfungsi dan berdaya guna menjadi senjata kebenaran Kerajaan Sorga di bumi ini! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus