Top

07 Juni 2018

Ternyata menyimpan ganjalan dalam hati memang memiliki dampak negatif yang sangat merusak dalam usaha kita membangun kehidupan bersama. Aliran air hidup didalam kehidupan pribadi kita jelas jadi terganggu; belum lagi ‘flow of life’ dalam rumah rohani yang ada, otomatis cepat atau lambat bakal mengalami gangguan juga.

Penyebab masih bisa terjadinya gesekan yang mengakibatkan ada saja orang-orang tertentu (yang sudah ada dalam kegerakan) jadi menyimpan ganjalan satu sama lain adalah karena orang yang bersangkutan belum betul-betul ‘mati’ dari Self; belum betul-betul ‘mengosongkan diri’.

Filipi 2:5-7 (TB) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, MELAINKAN TELAH MENGOSONGKAN DIRI-NYA SENDIRI dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Sesungguhnya, saat seseorang menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi dalam hidupnya, Bapa sudah menanamkan benih Ilahi yang sama seperti yang Yesus miliki: Hati yang penuh kasih, tulus, selfless – sehingga otomatis orang yang bersangkutan akan memanifestasikan kehidupan yang sama seperti yang Yesus sudah tunjukkan selama Ia hidup diatas muka bumi ini. Permasalahannya, seringkali orang percaya yang bersangkutan – kurang mampu’ (baca: teledor) dalam menjagai benih Ilahi yang ada. Hidupnya kembali tercemar/ terjadi percampuran sehingga selalu ada peluang untuk ‘Self’ kembali memunculkan dirinya.

Orang percaya yang kembali memunculkan Self dalam kehidupan sehari-hari pasti akan memanifestasikan karakteristik sebagai berikut :

1. Orang yang bersangkutan mengejar/ mengutamakan kepentingannya sendiri – menangguhkan atau bahkan menyingkirkan kepentingan kerajaan sorga, kepentingan rumah rohani ataupun kepentingan orang lain.

Disinilah pentingnya orang percaya lain (sesama saudara dalam rumah rohani) untuk bisa saling mendoakan. Saya percaya, kuasa doa masih tetap bekerja! Apalagi diantara sesama saudara dalam rumah rohani yang sama.

Matius 18:19-20 (TB) Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.

Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

2. Orang yang bersangkutan jadi mengejar pengakuan manusiawi, puji-pujian yang sia-sia.

Sesungguhnya, saat kita memasuki dunia pelayanan, tujuan kita adalah agar apa yang kita lakukan dapat memperkenan hati Tuhan, semua jenis aktifitas pelayanan tersebut kita lakukan karena kita mencintai Dia. Jadi tidak ada ruang untuk kita mencari pujian/ pengakuan dari orang-orang lain. Kepuasan kita adalah saat kita menerima kesaksian Roh bahwa Bapa berkenan atas apa yang kita lakukan.

Arah hati kita jadi berpaling dan mulai mencari pengakuan/ pujian dari orang lain biasanya dikarenakan kadar cinta akan Tuhan dalam batin kita mulai ‘merosot’. Biasanya hal tersebut dikarenakan faktor persekutuan pribadi kita dengan Tuhan mulai mengendor karena faktor kelelahan fisik maupun psikis yang tidak segera ditanggulangi. Belajarlah untuk menjagai keseimbangan dalam pelayanan; jangan jadi sibuk dalam dunia pelayanan sampai kita tidak memiliki waktu untuk melayani Tuhan secara pribadi melalui penyembahan, pengagungan atau perenungan firman.

3. Orang yang bersangkutan jadi menganggap dirinya lebih penting, lebih dipakai Tuhan, lebih diurapi dan lain-lain dibandingkan orang lain.

Self‘ yang bangkit kembali dalam hidup seorang pelayan Tuhan/ jemaat akan menyebabkan masuknya roh persaingan (yang tidak sehat) dalam rumah Tuhan. Inilah penyebab pertengkaran/ percekcokan yang merusak kesehatian dalam rumah rohani.

Inilah ‘Iblis purbakala’ yang juga merasuki hidup para murid Yesus; hingga menit terakhir sebelum Yesus di tangkap, mereka justru terus berdebat tentang siapa yang terbesar diantara mereka (Luk 22:24)

Saya percaya, inilah saatnya untuk setiap kita sebagai anggota Tubuh dalam satu rumah rohani akan bisa betul-betul meleburkan diri dan memanifestasikan pelayanan Tubuh Kristus. #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus