Top

07 September 2018

 

Message ini merupakan kelanjutan dari message kemarin…..

Untuk kita mulai mengenali realita dari RumahNya di hari-hari terakhir ini, perhatikanlah point-point prinsip firman berikut:

1. Rumah Tuhan harus dibangun sesuai dengan pola yang Tuhan tetapkan sendiri.

Sesungguhnya Gereja adalah ide Tuhan untuk Ia jadi memiliki ‘sarana’ dibumi ini guna bergerak merealisasikan agenda kekal yang Ia miliki (Mat 16:18-19, Ef 1:22-23) Gereja tidak boleh dibangun dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan umat! Gereja di lahirkan dengan kuasa Roh guna menuntaskan agenda & rencana Bapa di bumi ini!

2. Tuhan sendiri telah menetapkan orang-orang yang Ia tunjuk untuk membangun RumahNya itu; yaitu hamba-hamba Tuhan yang Ia percayai dengan Pola Ilahi tentang Gereja.

Pola Tabernakel adalah pola gereja di perjanjian lama; di perjanjian baru – setelah kematian, kebangkitan dan dipermuliakannya Yesus, pola gereja mengalami perubahan (Ibr 9:1-4, Mark 15:37-39)
Jika gereja dibangun sesuai pola, kemuliaan pasti akan tercurah! Jika di perjanjian lama, wujud kemuliaan yang Tuhan curahkan bermanifestasi dalam bentuk gumpalan-gumpalan awan padat yang memenuhi baitNya tersebut (Kel 40:33-35, 2 Taw 5:1, 5:11-14) di perjanjian baru, wujud kemuliaan yang Tuhan curahkan atas gerejaNya adalah dalam bentuk kebangkitan orang percaya (Kis 19:1-12) Gembala jemaat yang membangun sesuai pola Sorga pasti akan mendapati seluruh jemaat yang ia pimpin jadi bangkit dalam kuasa Roh dan bergerak untuk menyatakan kuasa kerajaan sorga dalam kehidupan sehari-hari mereka.

3. Yang membedakan antara Rumah Tuhan dengan banyak jenis ‘rumah yang lain’ adalah adanya realita hadirat Tuhan – ada pekerjaan firman & Roh yang secara konsisten terus bermanifestasi didalam RumahNya.

Alasan mengapa ada banyak gereja di hari-hari terakhir ini justru mengalami kesuaman, kehambaran rohani adalah karena ‘gereja itu’ tidak dibangun sesuai dengan Pola Ilahi yang Tuhan tetapkan. Ada banyak pemimpin yang membangun gerejanya dengan tujuan hanya untuk mengumpulkan jemaat atau bahkan mempergunakan gereja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jemaat. Tidak ada lagi suara Tuhan/ firman yang diperdengarkan; yang ada hanyalah khotbah-khotbah motivasi, janji tentang berkat, kesuksesan & kekayaan yang justru malah membuat jemaat jadi makin hidup dalam keduniawian, kedagingan & keegoisan semata…

4. Tuhan telah menetapkan kultur, kebiasaan & pola hidup Ilahi yang harus dijalani oleh seluruh umat yang memutuskan untuk diam didalam RumahNya.

Yesus menyatakan, siapapun yang mau menjadi pengikutNya haruslah bersedia untuk menyangkali dirinya dan memikul salibnya setiap hari (Mat 16:24-25) Memastikan tidak ada lagi cinta akan dunia ini, cinta diri sendiri dan cinta akan uang didalam hidupnya (Yak 4:4-5, Mat 6:24, Gal 5:16-26) Semua itu akan dapat terlaksana dengan mudah saat pemimpin mulai melatih/ memperlengkapi jemaatnya guna menerima pemahaman firman yang sama dengan dirinya, mengalami dinamika pekerjaan Roh yang sama, mengalami proses pembentukan Tangan Tuhan yang sama, mengalami bekerjanya kuasa anugerah yang sama sehingga mulai mengejar destiny & agenda kerajaan yang sama (Ef 4:11-16)

5. Tuhan menghendaki untuk umatNya dapat memiliki keterhubungan yang akurat dengan Rumah yang sudah Ia tetapkan tersebut (Ul 12:5-7)

Memang tidak semua yang disebut sebagai ‘RumahNya’ adalah memang Rumah Rohani yang Ia akui. Tapi sekali Tuhan menunjukkan ‘disinilah RumahNya’, maka seberapa banyak umatNya haruslah mulai menghubungkan diri dengan ‘Rumah itu’; seberapa banyak pemimpin jemaat yang ada perlu segera mengadopsi pola Ilahi dari ‘Rumah Tuhan’ yang ‘Ia tunjuk’ tersebut dan membangun ulang jemaatnya. Karena Tuhan menghendaki untuk ‘RumahNya’ bisa ‘ada dimana-mana’ sehingga melalui ‘RumahNya itu’, Dia menjadi nyata diantara umat manusia (1 Kor 3:16, 6:19, 2 Kor 6:16, Why 21:3-5)
Memiliki keterhubungan dengan Rumah Tuhan memiliki arti:
a. Kita menjadikan flow of life yg ada di ‘Rumah itu’ menjadi pusat dari kegiatan ibadah & penyembahan kita (Ul 12:5)
Bagi orang Yahudi, Tabernakel/ Bait Suci adalah merupakan pusat/ sentralitas dari seluruh kegiatan dan kehidupan mereka! Setiapkali diadakan upacara tertentu di Bait Suci, maka seluruh kegiatan sehari-hari mereka di tiadakan demi untuk dapat terlibat dalam upacara di Bait suci tersebut. Tuhan menghendaki setiapkali ada arahan yang datang dari Roh Kudus untuk Gereja, sebagai umatNya, kita segera ‘menyingkirkan’ berbagai aktifitas/ kesibukan yang kita miliki demi untuk bisa ikut terlibat – we make ourself always available for Him.
Tuhan membebaskan Israel dari perbudakan Mesir adalah agar Israel dapat ‘beribadah’ kepada Tuhan (Kel 4:22-23), Tuhan membebaskan kita dari belenggu dosa & perbudakan sistem dunia ini agar kita dapat hidup hanya bagi Dia (Rom 6:11) Libatkan diri kita secara aktif untuk merealisasikan agenda Ilahi yang sudah Ia nyatakan kepada gerejaNya!

b. Kita menjadikan ‘Rumah itu’ sebagai ‘ladang tempat kita menabur’, tempat kita mendedikasikan berbagai persembahan/ pemberian kepada Tuhan (Ul 12:6)
Paulus menegaskan bahwa apapun yang kita lakukan, harus kita lakukan seperti untuk Tuhan sendiri (Kol 3:23) Meskipun kelihatannya saat kita menabur/ memberi sesuatu (dalam bentuk barang ataupun uang) ke ‘Rumah itu’ di terima (dan dikelola) oleh manusia, tapi pastikanlah sudah terbangun suatu sikap hati yang menyatakan bahwa kita melakukan semua itu untuk Tuhan sendiri (Ibr 7:6-10) Dari Dia yang menyelidik hati manusia, kita akan mendapatkan berkat & perkenanan (1 Taw 28:9, Yer 17:10)

c. Kita menjadikan ‘Rumah itu’ menjadi pusat dari berbagai aktifitas kehidupan maupun kegembiraan kita (Ul 12:7)
Jika kita membangun hidup kita secara akurat, otomatis (pasti) kita akan menikmati berkat & perkenanan Tuhan. Nikmatilah berkat, perkenanan & kelimpahan yang Tuhan berikan sambil terus menjagai realita kehadiranNya didalam hidup kita. Ketika seseorang mulai menikmati banyak berkat & kelimpahan dari Tuhan, ia seringkali justru cenderung ‘melonggarkan’ prinsip kebenaran, standar hidup, nilai-nilai & kebiasaan Ilahi yang membawanya menikmati semua kelimpahan tersebut. Akibatnya, manusia lama dari orang yang bersangkutan akan kembali memanifestasikan diri dan menghancurkan seluruh berkat yang ‘baru datang’ tersebut. Jagai, teruslah bertekun dalam mempraktekkan prinsip firman, nilai kebenaran maupun kebiasaan Ilahi yang sudah Tuhan bangun. Pahami prinsip ini: Hal-hal yang membawamu ‘naik’ adalah juga hal-hal yang bakal menjagaimu untuk bisa tetap ada ‘diatas’. #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus

Message ini masih akan berlanjut besok…