Top

08 Agustus 2019

Saya coba terus merenungkan tentang keberadaan orang – orang percaya yang ada di sistem Babel. Ternyata hanya segelintir orang yang bisa memainkan fungsinya di sana sebagaimana Daniel berfungsi. Tidak banyak. Sebab pada kenyataannya rata – rata orang percaya yang berada dalam sistem Babel justru “bergantung dan terikat” pada sistem itu. Mereka tidak bisa lagi “available” bagi agenda Kerajaan Surga. Bahkan mereka tidak bisa lagi “beribadah” karena harus bekerja ekstra demi tuntutan pekerjaan.

 

Setelah saya telaah lebih lanjut, saya mendapatkan ada 2 hal paling mendasar yang menjadi alasannya:

 

1. Mereka datang ke sistem Babel bukan sebagai utusan dari gereja Tuhan, tapi sebagai orang yang “butuh” pekerjaan demi mendapat uang. Karena mereka berpikir, tanpa uang mereka tidak bisa hidup.

 

Jadi tanpa sadar mereka datang sebagai “hamba uang”. Alhasil sistem Babel dengan cepat berkuasa atas hidup mereka. Bahkan sekalipun mereka “skillful” tapi mereka tidak berdaya oleh keputusan – keputusan atasan. Justru mereka “dipaksa” bekerja lebih keras demi menghasilkan uang yang lebih banyak. Sangat mengenaskan. Memang, mereka akhirnya mendapat predikat sebagai pekerja keras dan ‘menjadi yang terbaik’, tapi bersamaan dengan itu “kesehatan dan keluarga” menjadi korban. Terlebih lagi waktu persekutuan dengan Tuhan pun digadaikan. Jadi, akan selalu ada ekses negatif ketika seseorang melangkah tanpa pengutusan dari Kerajaan Surga!

 

2. Tidak adanya roh destiny dalam hidup mereka.

 

Jadi sedari awal “memang tidak mengetahui tujuan hidup”. Mereka tahu banyak (belajar semua mata pelajaran di sekolah) tapi tidak ada satupun yang menjadi ahli dalam satu bidang. Alhasil dalam dunia pekerjaan, mereka hanya menjadi orang “rata – rata” saja. “Mengikut arus dan roda kehidupan yang sudah berjalan”. Alhasil mereka tidak punya karya yang “out of the box”. Pikiran mereka sulit berkembang karena tercetak oleh sistem pendidikan Babel.

 

Tentunya berbeda dengan Daniel. Selama 3 tahun ia diajarkan tentang sistem dan tata cara pemerintahan Babel. Tapi Daniel bekerja “out of the box” ketika raja meminta memberitahu mimpi dan sekaligus menafsirkannya. Ia mengakses ruang takhta Allah sebagai sumber segalanya dalam hidupnya. Mengapa ia bisa seperti itu? Karena ia datang ke Babel sebagai orang yang tahu tujuan (menghadirkan realita Kerajaan Surga) dan sudah berketetapan untuk tidak menajiskan diri dengan dasar keyakinan sistem Babel.

 

Selama kita masih “percaya kepada jalan hidup dan sistem pendidikan yang babel terapkan”, maka kita akan selalu menjadi “rata – rata” dan budak dari sistem Babel!

 

Saya percaya, gereja Tuhan akan melahirkan para Daniel yang siap diutus untuk menghadirkan Kerajaan Surga di sistem Babel. Mereka datang bukan sebagai orang biasa, tapi membawa jati diri mereka yang utuh dalam Kristus, kehidupan yang akurat, skillful dalam bidangnya, dan terkoneksi dengan kesetiaan serta kedaulatan Tuhan! Merekalah yang akan membuat “para penguasa dunia” ini sujud menyembah pada Allah yang hidup.

 

Itu sebabnya, keberadaan para pemimpin jadi memegang peranan yang sangat penting. Kehidupan mereka merupakan ‘cetakan’ yang akan Tuhan pakai untuk ‘mencetak ulang’ kehidupan jemaat sehingga tidak ada lagi pola Babel dalam kehidupan mereka. Hanya mereka yang sudah mengalami proses pencetakan ulang kehidupan sampai membawa pola Kristus yang akan menaklukkan sistem Babel! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus