Top

08 Juni 2019

Saya bersyukur untuk kasihNya yang luar biasa dalam hidup saya. Oleh karena anugerahNya saya dilepaskan dari segala bentuk dosa, pekerjaan iblis, dan maut. Suatu anugerah besar ketika saya beroleh keselamatan, dipindahkan dari gelap kepada terangNya yang ajaib!

 

Karya penebusan Kristus di kayu salib merupakan anugerah awal yang membawa saya menyatu dalam kematian dan kebangkitanNya sehingga saya menjadi ciptaan baru. Hanya karena kasihNya saya ada sampai saat ini. Atas dasar kasihNyalah saya bisa mencintai Dia dan melakukan kehendakNya.

 

Saya menyadari, kesadaran akan pengorbanan/kasih Kristus itu tidak boleh sampai hilang/familiar. Justru dari itulah kita dapat terus melangkah dari iman kepada iman dan dari kemuliaan kepada kemuliaan untuk menyelesaikan kehendakNya di atas bumi. Kita bisa mentaati apa pun yang Dia perintahkan tanpa harus “bergumul”, sebab kita mencintai Dia!

 

1 Korintus 15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

 

1. Anugerah itu tidak boleh menjadi “sia – sia” dalam diri kita, melainkan harus senantiasa mendorong kita menjadi pribadi yang mati – matian, gila – gilaan, dan habis – habisan bagi kehendak Tuhan.

 

Bahkan dari hari ke hari membuat kita lebih gila lagi dalam melakukan kehendakNya. Kita tidak lagi “hitung – hitungan dan mikir – mikir” untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan.

 

Dengan demikian kita dapat mengalami pertumbuhan berbagai kemampuan yang berdaya guna bagi Kerajaan Allah. Dan dipakai Tuhan menjadi orang terpandang, disegani, dan berpengaruh untuk menghadirkan realita Kerajaan di setiap domain yang Tuhan tetapkan.

 

2. Kesadaran terhadap anugerah Tuhan akan membuat kita alami “kematian dari ke-akuan” sepenuhnya.

 

Walaupun kita “gila – gilaan” dalam melakukan kehendakNya, maka kita tidak menganggap itu “kekuatan kita”, melainkan kembali lagi karena anugerahNya saja. Kita tidak lagi mencari – cari kesuksesan pribadi, nama besar, posisi/ jabatan, dll yang berkaitan dengan ke’aku’an.

 

Kita menyadari sepenuhnya bahwa semuanya hanya karena anugerahNya saja. Dengan demikian kita dapat berfungsi seturut dengan anugerah yang bekerja dalam diri kita masing – masing dalam menyelesaikan kehendak Tuhan.

 

3. Saya jadi memahami sekarang, ada banyak orang tidak bisa bertumbuh dalam cinta terhadap Tuhan karena “menyia – nyiakan” anugerah keselamatan.

 

Alhasil untuk berjalan dalam ketaatan sulitnya buka main. Untuk taat saja butuh waktu lama. Mata hatinya tidak lagi tertuju pada salib Kristus, melainkan pada diri sendiri, uang, dan dunia.

 

Pagi ini saya minta kepada Roh Kudus untuk terus mengarahkan mati hati saya pada salibNya. Sehingga cinta terhadapNya, ucapan syukur, damai sejahtera ilahi senantiasa memancar dari kehidupan saya.

 

4. Pagi ini saya seperti mendapat kalimat kunci untuk senantiasa menjadi pribadi yang memiliki cinta terhadap Tuhan yang bergelora, yaitu: “mata hati yang tertuju kepada salib Kristus!”

 

Saat mata hati kita tertuju pada salibNya, maka kita akan terdorong untuk mati – matian, gila – gilaan, dan habis – habisan bagi Tuhan. Kita tidak akan menyia – nyiakan anugerahNya yang dahsyat dalam hidup kita.

 

Tidak hanya sampai disitu saja, kebangkitanNya dalam mengalahkan dosa, iblis, dan maut akan menjadi kebenaran yang terus berbicara kuat dalam batin kita. Sehingga kita tidak akan pernah tertekan dan terintimidasi dalam menjalani kehidupan sehari – hari.

 

Sebab Kristus sudah menang bagi kita, dan kita adalah umat yang lebih dari pemenang! Roh yang berkemenangan senantiasa bergelora dalam hidup kita sehari – hari! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus