Top

09 Agustus 2019

“Jalan untuk menuju ke atas adalah dengan mengosongkan diri”

 

Demikian kalimat yang terus berbicara di pikiran saya ketika saya berdoa pagi ini. Kesaksian dari hidup Yusuf (Kej 41) dan Daniel (Daniel 2) menyadarkan saya bahwa memang itulah satu-satunya jalan untuk menuju ‘ke atas’ tanpa seseorang jd alami kehancuran akibat terpaan angin godaan di posisi yang tinggi di dalam sistem babel. Jalan itu adalah menjalani proses MENGOSONGKAN DIRI!

Berbeda dengan jalan sistem Babel, jalan Kristus adalah jalan penyaliban diri sendiri. Di dalam sistem Babel, jalan untuk menaiki anak tangga promosi adalah dengan cara melakukan segala cara, bahkan sampai rela mengorbankan orang lain supaya seseorang bisa naik sampai di atas; namun jalan Tuhan berkebalikan : justru dengan cara mengosongkan diri, alami proses kematian daging, rela mati dari diri sendiri, barulah kita layak bisa menerima promosi dari Tuhan. Karena Tuhanlah yang mengangkat kita naik, dengan cara yang tidak terselami oleh pikiran kita.

Saya mendapati jika orang benar tidak mengalami proses kematian daging, dia tidak akan bisa bertahan menghadapi adanya godaan yang menghadang di setiap kenaikan level di dalam sistem babel. Seperti orang lain yang juga ada di posisi itu, dia akan dengan mudah tergoda dan terpikat dengan berbagai kemilau dunia ini. Di sanalah orang jatuh dalam berbagai nafsu serakah dan ambisi untuk memperkaya diri, mengeksplore kenikmatan hidup, menuruti hawa nafsu dan keinginannya, meninggikan diri, mengejar posisi daripada prestrasi.

Kesaksian dari Yusuf dan Daniel memberikan jejak langkah keteladanan bagi kita, bahwa dengan memiliki ketetapan hati yang teguh dan kematian dari diri sendiri membuat dirinya aman dan bertahan, bahkan di-established posisinya oleh Tuhan dalam sistem Babel.

Gal 2:20 (FAYH)
Saya sudah DISALIBKAN bersama dengan Kristus: dan yang hidup bukan lagi saya, melainkan Kristus yang hidup dalam saya. Sedangkan hidup yang sekarang saya miliki dalam tubuh saya ini adalah HASIL IMAN saya kepada Anak Allah, yang mengasihi saya dan memberikan diri-Nya sendiri bagi saya.

1. Miliki Ketetapan hati untuk mati dari diri sendiri dengan bertekun membangun kehidupan ilahi 

Semakin kita menyadari dan menghidupi prinsip firman bahwa kita sudah mati dari diri sendiri, mati dari dosa dan hidup bagi Allah

(Rm 6:11) Maka kitapun akan dibawa semakin mengosongkan diri. Self tidak lagi bisa berkutik, ketika kita semakin membangun kehidupan yang mengosongkan diri. Yusuf berkeinginan untuk segera keluar dari penjara dengan berkata bahwa dirinya sanggup menginterpretasi mimpi.

Kejadian 40 : 14
Tetapi, ingatlah kepadaKU, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaKU dengan menceritakan hal ihwalKU kepada Firaun dan tolonglah keluarkan AKU dari rumah ini.

Kalau Tuhan mengizinkan Yusuf untuk “segera keluar dari rumah ini”, artinya Yusuf ingin segera keluar dari proses mengosongkan diri, keluar dari proses peremukan di dalam rumah. Artinya kedagingan Yusuf tidak akan mati. Kalau ada kesempatan promosi, Yusuf bisa-bisa “lupa” bahwa semua kemampuannya berasal dari Tuhan. Namun Tuhan sengaja menutup pintu kesempatan itu – somehow juru minuman bisa lupa bahwa ia dikembalikan kepada pekerjaannya akibat dari nubuatan Yusuf. (Kej 4:23). Tangan Tuhan secara sengaja membekam Yusuf 2 tahun lagi. Membuatnya dilupakan orang, “no reputation”, tidak ada keinginan dibela haknya (merasa diperlakukan tidak adil, karena masuk penjara). Pendek kata sampai selfnya mati. Dan setelah lewat waktunya, tiba-tiba Tuhan memberi mimpi pada Firaun – sebagai sarana untuk Yusuf dipromosikan- dan pintu kesempatannya ada di juru minuman raja! Somehow juru minuman raja bisa ingat kembali masa dia disingkapkan mimpinya oleh Yusuf! (Kej 41:11-13)

Perhatikan apa yang menjadi respon Yusuf ketika dia sudah melewati proses mengosongkan diri

Kej 41: 15-16
Lalu Firaun memanggil Yusuf; Berkatalah Firaun kepada Yusuf: “Aku telah bermimpi, dan seorangpun tidak ada yang dapat mengartikannya, tetapi telah kudengar tentang engkau: hanya dengan mendengar mimpi saja engkau dapat mengartikannya.” Yusuf menyahut Firaun: “BUKAN SEKALI-KALI AKU, MELAINKAN ALLAH JUGA yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun.”

Dia memang Allah yang meninggikan dan merendahkan. Dia Allah yang meninggikan dan menurunkan! Dia adalah Allah yang berdaulat! Kita tidak tahu kapan masa promosi itu datang, namun pastikan kita terus mengisi hidup kita di masa persiapan ini: dengan berketetapan untuk membangun manusia rohani di dalam rumah rohani yang ada sampai kehidupan ilahi terbangun kuat dan akurat!

2. Hidup dari iman akan mengantarkan kita semakin bergantung kepada Tuhan

Alkitab mencatat bahwa upaya manusia untuk membangun kota dan menara yang ujungnya mencapai puncak di langit adalah karena ketidakpercayaan orang pada waktu itu pada janji Tuhan yang menyatakan bahwa tidak akan ada lagi banjir air bah yang akan memusnahkan bumi (Kej 8:21).

Dari sanalah mereka berdaya upaya “menyelamatkan diri” untuk memastikan kehidupannya aman, kalau-kalau datang air bah kembali. Dengan demikian manusia dicetak untuk semakin mengandalkan diri sendiri.

Akar dari sistem Babel adalah mengandalkan kekuatan diri sendiri, ini sangat bertolak belakang dengan kekuatan iman. Bandingkan dengan Nuh yang waktu sebelum air bah menerima instruksi untuk membangun bahtera yang akan menghadang dari serangan air bah. Kekuatan bergantung kepada Tuhan (Nuh bergaul dengan Allah – Kej 6:9 ) menyebabkan Nuh bisa menerima setiap detail arahan untuk menangkap blueprint sorga dan membangunnya di muka bumi ini. Padahal Nuh hidup di tengah dunia yang sudah bobrok dan rusak benar. Dengan imanlah Nuh menaklukkan dunia ini! Dan berhasil mewujudkan agenda Tuhan di zamanNya dengan membangun bahtera yang belum pernah ada waktu itu.

Demikian pula di tengah gencarnya sistem Babel, Daniel bertekun membangun kehidupan iman (Daniel berdoa tiga kali sehari – Dan 6:11). Daniel berdoa bukan karena kebiasaan rutinitas agama belaka, namun dia berketetapan membangun kehidupan iman yang semakin bergantung kepada Tuhan!
Bukan dengan kemampuannya sendiri dia menghadapi setiap tantangan yang datang menghadang. Tapi dengan kehidupan imanlah, Daniel menerima setiap penglihatan, penyingkapan mimpi, menerima firman dan arahan dari ruang Tahta. Sehingga Daniel berhasil menaklukkan setiap tantangan itu. Dengan iman, Daniel bangkit dan berhasil menaklukkan dunia di zamannya.

1 Yohanes 5 : 4 …sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.

#AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus