Top

09 February 2019

Membangun dasar keyakinan sesuai dengan prinsip firman adalah merupakan suatu keharusan. Suka-tidak suka, kita harus segera menyadari bahwa alasan kita belum sepenuhnya ‘take off’ memasuki dimensi keilahian, kemuliaan & kuasa Tuhan adalah karena kita sendiri masih memiliki ada banyak keyakinan/ strong conviction yang sifatnya lahiriah/ manusiawi. Semua jenis conviction – yang lahiriah maupun yang Ilahi sama-sama memiliki kuasa untuk menghantarkan kita mengalami sesuatu dalam hidup kita; jika kita meyakini hal-hal yang sifatnya lahiriah, maka otomatis berbagai peristiwa yang sifatnya lahiriah-lah yqng akan terus kita alami! Demikian pula sebaliknya; jika kita membangun dasar keyakinan kita berdasarkan apa yang firman katakan kepada kita, maka otomatis apa yang Tuhan firmankan ke kita dan kita yakini-lah yang akan kita alami!
Jika apa yang kita yakini menentukan apa yang akan kita alami dalam hidup ini, mengapa kita tidak memastikan hanya keyakinan yang selaras dengan firmanNya saja yang kita yakini…!
Fakta, data dan janji firman memiliki peluang yang sama untuk diyakini dan menyebabkan sesuatu terjadi dalam hidup kita!
Bedanya, jika kita meyakini fakta dan data, maka fakta dan data yang kita yakini akan mengkondisikan diri kita mulai menerima (menganggap normal) apa yang disajikan oleh fakta & data. Memang jika kita memperhatikan fakta & data, adalah normal jika kita jadi senakin loyo, lemah dengan terus bertambahnya usia. Tapi dengan kita meyakini apa yang ‘normal’ menurut ‘fakta & data’, hal tersebut hanya akan menggiring kita kepada hal-hal yang lebih buruk lagi – dari sekedar menjadi loyo & lemah karena faktor usia, kita akan alami kondisi kita jadi makin memburuk: jadi sakit-sakitan dan pada akhirnya mengalami kematian! Dari menganggap normal apa yang fakta dan data sajikan, apa yang normal tersebut akan menarik kita untuk mengalami banyak hal-hal yang buruk dan semakin buruk – from normal to bad dan from bad to worse…!
Berbeda jika kita meyakini janji firmanNya! Meski pada saat kita mulai meyakini firmanNya seakan-akan kondisi, keadaan yang kita hadapi sama sekali berbeda dengan janji firman (lebih menjurus selaras dengan data & fakta yang ada) tapi janji firman memiliki kuasa untuk membuat yang tidak ada menjadi ada, dan yang tidak mungkin menjadi mungkin! Dengan kita terus mengimajinasikan, memperkatakan, mendoakan janji firman yang ada, sesungguhnya kita sedang mengaktifasi bekerjanya kuasa kedaulatan Tuhan!
Dari yang tidak ada, Tuhan akan membuatnya menjadi ada; apa yang sudah ada, akan Tuhan buat menjadi indah; dari yang sudah indah akan Tuhan buat menjadi Ilahi…!
Saya percaya, inilah saatnya untuk setiap orang percaya mengalami bekerjanya kedaulatan kuasa Tuhan dalam kehidupan sehari-hari mereka dan terus melangkah maju memasuki dimensi keilahian & kemuliaanNya…!
Roma 4:18-21 (TB) Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya (pada janji firmanNya), bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah (menurut fakta & data yg ada), karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan (itu sebabnya, kehidupan sehari-harinya menjadi cerminan dari manifestasi kedaulatan kuasa Tuhan; bergerak dalam keIlahian & kemuliaan Tuhan) #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus