Top

1 Juli 2020

Setiap hari seringkali kita mengalami adanya tarik menarik antara kesadaran terhadap realita Tuhan dengan kesadaran akan diri sendiri dan juga atas lingkungan sekitar kita. Hal ini membuat pikiran kita menjadi tidak terfokus kepada satu arah (kita jadi memikirkan hal – hal yang manusiawi dan juga kedagingan). Padahal maksud dari realita hadirat-Nya yang kita rasakan adalah agar fokus perhatian kita hanya tertuju kepada Dia.

 

Roh Kudus memberikan saya ilustrasi seperti ini: Jika ada presiden yang tiba – tiba memasuki ruangan kita, maka dengan cepat, fokus perhatian kita akan tertuju kepada presiden itu sendiri. Karena dirinya adalah pribadi yang penting. Kita tidak mungkin cuek atau acuh terhadap dirinya. Sama halnya dengan realita hadirat Tuhan. Sekian waktu lamanya kita memperlakukan kehadiran-Nya dengan tidak semestinya, pikiran dan aktivitas kita cepat beralih kepada hal yang lain walaupun Dia nyata atas kita. Atau kalau ‘kita sedang butuh’ saja, barulah kita berfokus kembali kepada-Nya. Bisa dikatakan jarang sekali kita benar – benar mengarahkan fokus, perhatian dan waktu yang kita miliki untuk berdialog dengan-Nya ketika kita merasakan realita hadirat-Nya datang mencengkeram batin kita.

 

Roh Kudus sungguh ‘mengingatkan’ dan juga ‘menantang’ saya untuk memberikan perhatian dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan serta waktu agar berfokus hanya kepada Dia. Sebab inilah gaya hidup yang telah banyak ditinggalkan, bahkan oleh para hamba Tuhan sekalipun. Mereka berlaku seperti ‘Marta’, sibuk tanpa arah yang jelas (salah meresponi kehadiran Tuhan).┬áRoh Kudus menginginkan saya untuk bisa meresponi realita kehadiran-Nya seperti Maria, duduk mendengarkan Tuhan berbicara dan melayani Dia sebagai sang Raja. Itulah keinginan hati Tuhan tiap kali Ia menyatakan kehadiran-Nya dalam diri kita.

 

Saya seperti merasakan, Roh Kudus sedang menarik kita untuk masuk ke level dimensi persekutuan yang hidup dengan Tuhan secara mendalam. Sebab di sanalah Ia ingin membentuk kita oleh pekerjaan Roh dan Firman sehingga menjadi semakin ilahi. Di sanalah kita bisa mendengar Dia berbicara dan melihat Dia bertindak. Inilah yang akan membuat kita menjadi makin serupa dengan Dia. Dan secara otomatis memposisikan diri kita menjadi wakil-Nya di atas muka bumi ini. Sama seperti Yesus, bahkan lebih dari itu!

 

1 Yohanes 3:2 (TB) Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

 

Yohanes 5:19 (TB) Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.

 

Yohanes 1:12 (TB) Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

 

Yohanes 14:12-14 (TB) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”

 

Hanya di dalam realita hadirat-Nya, jati diri kita dibentuk oleh Firman. Bagian kita adalah PERCAYA dan terus memperkatakan FIRMAN sampai roh kita bergelora. Sehingga firman yang kita peroleh dapat membangun jati diri kita sebagai anak Allah. Hanya anak yang dapat mewakili bapanya. Jika kita telah ditetapkan untuk menjadi wakil Allah, maka inilah jalan satu – satunya, yaitu menjadi anak Allah yang dibentuk oleh pekerjaan Roh dan Firman di dalam realita hadirat-Nya! Bukan di tempat lain – pembentukan yang sempurna hanya bisa terjadi saat kita fokus pada realita hadirat-Nya! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus