Top

10 Agustus 2018

1 Korintus 13:4-8 (TB) Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan;
2 Timotius 3:1-4 (TB) Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.

Dari dua perikop di atas, tentunya saya memilih untuk memanifestasikan kasih yang tertulis dalam 1 Kor 13. Tapi saya juga sadar, biar bagaimanapun saya sedang berada pada akhir zaman dan masa yang sukar. Jika saya tidak “hati – hati”, bisa saja cetakan kasih dalam diri saya diubah oleh kerasnya kehidupan dunia ini. Sehingga saya menjadi pribadi yang mencintai diri sendiri, mencintai uang, dan cinta dunia.

Setelah saya selidiki cara untuk memanifestasikan kasih tersebut dalam hidup sehari – hari, maka saya mendapati ayat berikut ini sebagai jawabannya:
1 Yohanes 2:15-17 (FAYH) “…berhentilah mencintai dunia yang jahat ini dan segala yang disajikannya, karena apabila Saudara mencintainya, Saudara menunjukkan bahwa Saudara tidak “sungguh-sungguh’ mengasihi Allah. Karena segala perkara dunia ini, keinginan-keinginan jahat ini—kegilaan seks, keinginan membeli segala sesuatu yang menarik hati, dan kecongkakan yang datang dari kekayaan dan kebesaran—bukan berasal dari Allah, melainkan dari dunia yang jahat ini. Dunia ini akan lenyap, dan segala hal yang jahat serta terlarang itu akan ikut lenyap, tetapi barangsiapa tetap melakukan kehendak Allah, ia akan hidup kekal.”

Ternyata yang membuat kita mudah dicetak oleh hari yang jahat, masa yang sukar, dan tipu daya iblis adalah karena kita tidak “sungguh – sungguh” mengasihi dia! Dengan kata lain, kita belum “mati – matian, gila – gilaan, dan habis – habisan bagi Tuhan”. Pendek kata, kita masih menjadi orang percaya yang suam.
Dari apa yang tertulis di atas, timbul dorongan yang kuat dalam diri saya untuk memastikan selalu alami pekerjaan Firman dan Roh setiap saat. Jadi, fokus saya bukan “mengusahakan dengan kekuatan saya untuk memanifestasikan kasih” karena saya pasti akan frustasi. Melainkan saya berfokus untuk merenungkan dan memperkatakan firman, dan berdoa dalam bahasa roh sampai manusia roh saya berkobar – kobar!!

Saya mendapati, efek dari pekerjaan firman dan Roh yang membuat roh kita berkobar adalah: Akan muncul keinginan dengan kadar yang lebih kuat didalam batin kita untuk merenungkan firmanNya! Saat kita ikuti keinginan itu, maka akan muncul lagi keinginan yang lebih kuat dari sebelumnya untuk merenungkan firman. Kata yang tepat untuk mendiskripsikannya adalah “menjadi kecanduan firman”. Kalau orang sudah kecanduan terhadap firman, maka keinginannya hanya satu saja, yaitu Tuhan dan firmanNya! Tawaran apapun yang dunia sajikan tidak lagi menarik hati kita. Sebab memang tidak menarik. Kecanduan terhadap Firman telah membuat mata kita bercahaya (clear, jernih, jelas, sanggup membedakan antara kemilau dunia dan kemuliaan Tuhan) dan membuat kita menyadari bahwa Tuhan dan firmanNya tidak bisa disandingkan oleh apa yang dunia tawarkan.
Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.

Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.
(Mazmur 19:8-10)
Saat kesungguhan hati kita terhadap Tuhan dan firmanNya sudah mencapai titik ini, maka secara otomatis kasih ilahi akan termanifestasi dalam hidup kita sehari – hari tanpa perlu kita bergumul lagi. Begitupun sebaliknya, jika manifestasi kasih ilahi mulai berkurang, hal itu disebabkan telah terjadi kesuaman dalam manusia roh kita. Tanggulangi kesuaman itu, maka kasih ilahi akan otomatis termanifestasi kembali!! #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus