Top

10 Agustus 2019

Daniel adalah pribadi yang memang sudah hidup dalam ketetapan Tuhan sebelum ia masuk ke negeri Babel. Ia memang sudah mencintai Tuhan lebih dari apapun juga. Sehingga pola ilahi dalam dirinya sungguh terlihat nyata dan tidak bisa dikompromikan. Ia mempunyai dasar keyakinan yang tidak tergoyahkan kepada Tuhan yang hidup. Jadi, ia memasuki sistem Babel bukan dalam keadaan “setengah matang”, melainkan dalam keadaan utuh: mencintai Tuhan, hidup dalam ketetapan ilahi, memiliki kemampuan mumpuni di bidangnya, tidak membawa konflik batin sedikitpun, dan hidup sepenuhnya bergantung pada Tuhan.

 

Saya memperhatikan, ada banyak orang percaya yang memasuki “dunia pekerjaan” dalam kondisi yang tidak utuh. Alhasil sewaktu berada di sana, dengan cepat mereka terhanyut oleh aliran “sungai Babel” (gaya hidup, konsep pikir, sikap hati yang bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan yang menghantarkan mereka kepada ratapan/duka/kematian) Inilah perbedaan orang percaya saat ini dengan Daniel. Ia sangat matang dan kokoh terhadap dasar keyakinannya kepada Tuhan saat ia berada dalam sistem Babel. Dan ia tidak tergoyahkan dan tidak bimbang sedikitpun menyatakan cintanya kepada Tuhan. Sedangkan orang percaya saat ini masih butuh “proses” pembentukan yang cukup alot untuk mengubah kecenderungan hati, dasar keyakinan, dan gaya hidup.

 

Saya seperti tersadarkan melihat “jurang” perbedaan orang percaya dengan Daniel di dalam sistem Babel. Jika tidak teratasi dengan tindakan konkrit, maka khotbah atau penjelasan tentang Daniel beribu kali pun akan “sia – sia”.

 

Apa wujud tindakan konkritnya :

 

1. Ingat, Daniel sudah utuh dan matang saat masuk ke sistem Babel.

 

Jadi, bukan di dalam sistem Babel ia baru diproses. Berbeda dengan orang percaya saat ini yang berada dalam sistem Babel; mereka masih bergumul melawan godaan, sulit beribadah karena “super sibuk”, dan tidak punya “kemampuan khusus” yang di atas rata – rata, bekerja hanya demi mendapatkan uang untuk kelangsungan hidupnya sendiri. Alhasil berbeda dengan apa yang dialami oleh Daniel. Butuh anugerah Tuhan untuk menjadi sama seperti Daniel. Butuh waktu! Jika tidak sungguh – sungguh dalam mengejar “ketertinggalan”, maka tidak akan pernah berhasil menaklukkan sistem Babel.

 

Oleh karena itu betapa penting membereskan kecenderungan hati kita. Minta kepada Roh Kudus untuk membuat hati kita cinta hanya kepada Tuhan saja. Tidak ada lagi cinta diri sendiri, cinta uang, dan cinta dunia. Melainkan sepenuhnya hanya kepada Tuhan!

 

2.Pastikan kita memberi diri sepenuhnya dalam tangan sang bapa dan rumah rohani yang akurat (Maz 127:1-5)

 

Sehingga dalam setiap akselerasi dan dimensi rohani yang kita butuhkan untuk bangkit menjadi orang terpandang, disegani, dan berpengaruh dapat kita raih sepenuhnya dalam hadirat-Nya. Jadi kita datang ke “babilonia” (dunia sekuler) bukan sebagai pencari kerja, justru sebagai pembuka lapangan kerja. Atau sekalipun kita “karyawan”, tapi karyawan yang memiliki roh dan kemampuan yang di atas rata – rata.

 

Sehingga atasan/pemimpin tidak bisa menganggap kita sbg orang biasa, melainkan menjadi orang kunci kemajuan yang sangat diperhitungkan. Itu semua dimulai ketika kita menjadi anak panah di tangan pahlawan (pengayoman bapa rohani)

 

3.Hidup mengandalkan kuasa doa dan firman.

 

Ada banyak orang percaya ketika masuk ke dalam sistem Babel, hidupnya jadi terhisap/terhanyut dalam sistem tersebut. Karena jika tidak mengikuti, maka ancamannya pemecatan dan kehilangan pekerjaan. Jadi mau tidak mau kehidupan doa dan interaksi dengan firman harus dikorbankan. Mulai lupa doa, tidak sempat baca firman, dan selalu beralasan lelah dalam membangun manusia rohani. Alhasil pelan tapi pasti mulai terputus dari kedaulatan Tuhan. Apa yang dilakukan mulai mengandalkan pikiran dan kekuatannya sendiri. Mungkin hidupnya “terus naik” (“diberkati oleh Nebukadnezar”) tapi tidak oleh Tuhan.

 

Sukses, tapi terputus dari Kerajaan yang tidak tergoncangkan. Padahal Tuhan menghendaki melalui kuasa doa dan firman, kita bisa terus terkoneksi dengan kedaulatanNya. Sehingga kapan pun dan di mana pun Tuhan dapat mengangkat kita dengan caraNya yang ajaib. Tanpa kedaulatanNya kita hanya menjadi orang biasa. Oleh kedaulatanNya kita akan menjadi saksi bahwa Tuhan itu nyata dan Dia masih terus bekerja. Sehingga posisi yang kita masuki tidak akan bisa digoyahkan oleh apapun juga. Apa yang kita katakan berasal dari ruang takhta Allah yang membuat setiap lidah mengaku dan setiap lutut bertekuk di hadapan Allah yang hidup!

 

Saya percaya, jika kita melakukan bagian kita dengan benar, maka hasilnya pun akan sama seperti DANIEL yang berkuasa di antara kerajaan – kerajaan!! Kita pun akan menaklukkan sistem Babel dan segala penguasa dunia ini!! #AkuCintaTuhan

 

Daily Devotion akan mengambil waktu ‘break’ hingga tgl 14 Agustus 2019 dan akan kembali tayang normal mulai tgl 15 Agustus 2019.

 

Mohon maaf bagi semua sdr/i yang selama ini menikmati pelayanan Daily Devotion Ps Steven Agustinus. Gbu

 

Ps. Steven Agustinus