Top

10 April 2020

Pada peringatan Jumat Agung di tahun ini, saya mau membawa semua kita untuk melakukan perbandingan antara Adam di taman Eden dengan Kristus di taman Getsemani.

 

Perhatikanlah perbandingan berikut:

 

1. PERBANDINGAN PERTAMA

 

• Di taman Eden, Adam telah menggadaikan kekuasaan atas bumi yang diberikan oleh Tuhan Allah kepadanya sebagai makhluk yang diciptakan serupa dan segambar dengan Diri-Nya (Kejadian 1:26)

 

• Di taman Getsemani, Yesus melakukan ‘penyerahan nyawa’ ke dalam tangan Bapa, membulatkan tekad untuk melakukan kehendak Bapa sepenuhnya – walau Ia menyadari bahwa ketaatan-Nya pada kehendak Bapa akan menghantarkan-Nya untuk mengalami penyaliban. Tapi justru tindakan-Nya untuk tetap melangkah di ‘jalan kematian’ telah membuat Bapa mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya di dalam nama-Nya, semua yang di langit, di bumi dan di bawah bumi harus tunduk kepada-Nya! Dan semua orang yang percaya kepada-Nya akan mewarisi otoritas yang sama dari Nama-Nya! Kekuasaan atas bumi ini telah dikembalikan kepada manusia – orang yang percaya kepada-Nya (Filipi 2:8-11, Efesus 1:19-23).

 

 

2. PERBANDINGAN KEDUA

 

• Di taman Eden, manusia pertama telah gagal untuk hidup dalam ketaatan terhadap firman, dia memilih untuk lebih mempercayai apa yang Ular katakan dan bukan apa yang Tuhan sendiri katakan atau perintahkan (Kejadian 2:16-17)

 

• Di taman Getsemani, meski Yesus pernah menaikkan sebuah permintaan: “Kalau boleh, lalukanlah cawan ini dari pada-KU…” Tapi Yesus tetap mengakhiri doa-Nya dengan berkata: “Tapi bukan kehendak-Ku yang jadi; kehendak-MU-lah yang jadi…!” (Matius 26:39 dan 42). Di saat manusia pertama jatuh dalam ketidaktaatan di taman Eden, Kristus sebagai manusia kedua telah membuktikan bahwa manusia bisa terus hidup dalam ketaatan mutlak terhadap kehendak Bapa. Dengan demikian, menghancurkan semua belenggu dan kendali kuasa Iblis, dosa dan Maut atas umat manusia! Ketika manusia pertama mentaati bujukan si Ular, manusia pertama telah memberikan dirinya untuk menjadi hamba si Jahat. Ketika di taman Getsemani, Yesus memutuskan untuk tetap hidup dalam ketaatan pada kehendak Bapa, Yesus telah menghancurkan perhambaan Iblis, dosa dan maut atas umat manusia! Manusia kembali bisa memilih untuk menjadi hambanya Tuhan dan hidup untuk hanya melayani Dia karena manusia mencintai Dia!

 

 

3. PERBANDINGAN KETIGA

 

• Di taman Eden, manusia pertama telah memilih untuk menjalani hidup sebagai inisiator – hidup terpisah dari ketergantungan terhadap Tuhan. Karena itulah yang ditawarkan oleh si Ular (Kejadian 3:5).

 

• Di taman Getsemani, Yesus terus menunjukkan level kebergantungan penuh kepada Bapa dalam Ia melangkah mewujudkan kehendak Bapa. Sampai ada seorang malaikat yang diutus oleh Bapa untuk menguatkan Yesus (Lukas 22:42-44). Melalui keberadaan-Nya yang terus bergantung pada kekuatan dari Bapa-Nya, Yesus telah membuat kita yang percaya kepada-Nya dan hidup bergantung penuh kepada-Nya jadi ada dalam lingkupan berkat Bapa! Kita tidak perlu lagi bergumul untuk dapat menikmati berkat Tuhan, kita adalah orang yang diberkati!

 

Yeremia 17:7-8 (TB) Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

 

 

4. PERBANDINGAN KEEMPAT

 

• Di taman Eden, untuk pertama kalinya manusia mulai merasakan gejolak emosi negatif – munculnya rasa malu, rasa takut, rasa marah – sesuatu yang tidak pernah manusia rasakan selama manusia hidup dalam lingkupan hadirat-Nya (Kejadian 3:7-12).

 

• Di taman Getsemani, Yesus telah membulatkan tekad untuk memberi Diri-Nya menjadi kutuk dan menanggung segala dosa, kelemahan maupun gejolak emosi negatif kita melalui penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib (Yesaya 53:1-12, Galatia 3:13-14). Melalui penderitaan dan kematian-Nya, Dia telah membebaskan kita dari semua tuntutan dosa maupun Maut (Roma 8:1). Bahkan melalui kebangkitan-Nya, Dia telah mengaktivasi hukum Roh dan Kehidupan dalam diri kita yang percaya! (Roma 8:2) Melalui hukum Roh dan kehidupan inilah keberadaan kita yang telah rusak sebagai akibat dosa bisa mengalami pemulihan yang seutuhnya sehingga kita akan kembali menikmati kehidupan yang sama seperti saat manusia belum jatuh ke dalam dosa. Bahkan manusia akan dapat terus bertumbuh dan dibangun hingga mengalami kepenuhan Kristus (Efesus 4:13).

 

#AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus