Top

10 Januari 2020

Lukas 17:7-10 (TSI2) “Kalau di antara kalian ada seseorang yang mempunyai seorang budak yang membajak di ladang atau menggembalakan domba-dombamu, ketika budak itu pulang dari ladang pastilah kamu tidak akan berkata kepadanya, ‘Mari masuk dan makan.’ Melainkan kamu akan berkata kepada budakmu itu, ‘Siapkan makanan untuk saya. Pakailah pakaian yang disediakan untuk tugas dalam rumah. Layanilah saya di meja makan sampai saya selesai makan. Sesudah itu kamu boleh makan.’ Dan kamu tidak perlu berterima kasih kepada budak itu ketika dia sudah selesai melakukan hal-hal yang diperintahkan olehmu. Hendaklah kamu masing-masing juga seperti itu. Ketika kamu sudah melakukan semua yang diperintahkan Allah kepadamu, hendaklah kamu berkata, ‘Saya hanyalah seorang budak yang biasa saja. Saya hanya melakukan apa yang sudah menjadi tugas saya.’”

 

Roh Kudus mengindoktrinasi saya dengan perikop di atas. Saya adalah seorang budak atau hamba dari kebenaran, hal itu tidak boleh saya lupakan atau abaikan. Jika tidak, maka saya akan justru hidup ‘menuntut’ Tuhan. Padahal sebagai hamba atau budak, ucapan ‘terima kasih’ saja tidak pantas untuk kita terima, sebab apa yang kita lakukan memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai hamba kebenaran! Kita bukan saja hamba dari kebenaran, tapi juga hamba dari pemimpin yang ada di atas kita. Karena tidak mungkin kita bisa mentaati Tuhan yang tidak kelihatan, jika yang kelihatan saja tidak bisa kita taati.

 

Saya yakin, firman Tuhan di atas akan terus mengkondisikan kita hidup dalam kematian daging – jadi kita bisa ‘sadar diri’. Jika kita dikatakan sebagai ‘hamba Tuhan’, maka sudah sewajarnya kita menjalani hidup sebagai seorang hamba. Gaya hidup budak adalah mendengar dan taat kapan pun dan di mana pun, bahkan dia tidak berambisi menjadi apa pun karena keinginan hatinya hanya satu yaitu mendengar baik – baik Tuhan atau pemimpinnya berbicara dan melakukannya.

 

Saya menyadari, itulah ‘kesederhanaan’ hidup yang harusnya kita miliki – hidup kita tidak ‘neko – neko’. Hanya menjadi hamba kebenaran dan hamba dari pemimpin yang Tuhan tempatkan di atas kita. Itulah jati diri yang saya harus terus tanamkan (perkatakan) dalam batin saya!

 

Selama ini kita selalu mendeklarasikan diri sebagai orang terpandang, disegani, dan berpengaruh. Tapi jalan menuju hal tersebut bukanlah jalan – jalan dunia ini yang penuh dengan ambisi dan arogansi, melainkan jalan salib dan kematian daging. Tidak ada kebangkitan tanpa kematian dan tidak ada dampak tanpa menjadi HAMBA! Itulah jalan kebenaran yang harus kita lalui – menjadi hamba!

 

Filipi 2:5-11 (TB) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang HAMBA, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

 

Itulah jati diri kita di dalam Tuhan, sebagai HAMBA yakni hidup tanpa ambisi dan hidup hanya untuk mendengar firman-Nya dan TAAT! Maka Tuhan akan mengangkat kita untuk memerintah dan berkuasa bersama dengan-Nya! Sebagaimana kita hidup hanya dari firman yang keluar dari mulut Allah, maka dengan demikian juga Tuhan akan memakai kita.

 

Kita akan memerintah dengan cara berkata – kata! Apa yang kita katakan akan langsung terjadi. Segala unsur alam akan mentaati. Apa yang mustahil menjadi mungkin, dan apa yang tidak ada, menjadi ada hanya dengan berkata – kata. Dari pribadi yang mendengar dan taat dengan perkataan Tuhan, kita dibawa oleh-Nya menjadi pribadi yang memerintah dengan berkata – kata! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus