Top

10 Juni 2019

Habakuk 3 : 17-18 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu diperhadapkan dengan paparan fakta dan data / hasil akhir. Kita juga seringkali mempunyai ekpektasi/pengharapan atas sesuatu. Jika apa yang kita harapkan terpenuhi, kita akan senang, jika hasil akhirnya tidak sesuai, kita cenderung kecewa/marah. Seakan-akan kita “digiring” untuk mengorientasikan hidup kita pada HASIL dan “dilatih” untuk meresponi hal-hal yang BERSIFAT EKSTERNAL. Tanpa sadar kebahagiaan atau sukacita kita jadi BERGANTUNG pada hal-hal yang eksternal itu. Sesungguhnya, saat kita lebih mempercayai hal yang eksternal menjadi dasar pengharapan kita, tanpa sadar kita tidak lagi hidup atas percaya/ iman kita. Karena apa yang sudah dilihat bukan lagi iman. Dan apa yang sudah dilihat juga bukan lagi pengharapan.

 

Ibrani 11 : 1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. 

 

Roma 8 : 24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?

 

Seharusnya kita sebagai orang percaya melihat IMAN sebagai DASAR dari segala yang kita harapkan. Karena itulah kita dipanggil dengan sebutan orang percaya. Orang percaya tidak melihat fakta/kenyataan terjadi dulu, baru percaya. Namun tetap percaya/ sudah percaya terlebih dulu, meski melihat kondisi faktanya belum sesuai dengan yang dia harapkan.

 

Apa yang menjadi dasar untuk kita percaya? Dasarnya adalah pekerjaan FIRMAN dan ROH-NYA. Dengan menerima Firman dan pekerjaan Roh-Nya, sesungguhnya kita sedang tidak lagi hidup atas fakta tapi atas Firman-Nya. (Mat 4:4). Memang hal ini tidak semudah mengucapkannya, tapi setiap kita butuh dilatih untuk menjadi orang yang percaya.

 

Untuk itulah kita berdoa, melepaskan deklarasi firman: untuk mengubah fakta menjadi sesuai dengan firman. Jika kita lebih percaya fakta ketimbang firman, kita pun tidak bisa/sulit berdoa. Mata kita masih terpaku pada fakta, mulut kitapun terkunci oleh gembok fakta. Meski kelihatannya berkata-kata, tapi pikiran dan hati kita masih saja terbelenggu oleh fakta. Bapa tahu kondisi itu, sehingga Dia mengirimkan Roh Kudus-Nya untuk menolong kita berdoa. Roh Kudus akan menolong kita mencongkel paku-paku dan melepas gembok fakta dari hidup kita!

 

Perhatikan Roma 8:24 adalah prologue dari Roma 8:26.

 

Roma 8 : 24-26 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita MENANTIKANNYA dengan TEKUN. Demikian juga Roh MEMBANTU kita dalam KELEMAHAN kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

 

Kata “menantikan” di Rom 8:25, diambil dari kata Yunani Hupomone = steadfastness, constancy, endurance. Yang artinya ketabahan, keteguhan, daya tahan. Ini adalah karakteristik orang percaya yang tetap berpegang pada tujuan, bahkan di tengah pencobaan dan penderitaan terbesar.

 

Saya mendapati ini adalah mentalitas dari orang percaya sejati, yang terus melihat hal-hal positif di tengah tekanan, tetap berharap pada apa yang terbaik meski di tengah paparan fakta dan data yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Matanya tetap FOKUS pada TUJUAN, yaitu Firman/ kehendak Bapa yang sudah dinyatakan. Yang menjadi kerinduannya adalah: “Biar kehendakMu yang jadi, di bumi diubahkan seperti di sorga”.

 

Mentalitas seperti inilah yang akan mengubah kondisi dunia yang telah diselimuti kegelapan menjadi terang (Yesaya 60:1-2). Untuk itulah seluruh mahluk rindu anak-anak Allah dinyatakan (Rm 8:19). Saya percaya, kita adalah generasi yang sungguh berbeda, yang dilatih oleh Roh Kudus untuk memanifestasikan KerajaanNya.

 

Kita perlu membenahi iman kita. Sehingga tidak lagi berorientasi kepada hasil akhir atau fakta. Baik fakta negatif maupun fakta positif. Tapi lebih mengandalkan Firman-Nya. Di saat kita bergantung pada firman-Nya, sesungguhnya kita sedang MEMPERCAYAKAN DIRI KITA kepada-NYA!

 

Habakuk 2:3-4 FAYH
Tetapi segala hal yang telah Kurencanakan ini tidak akan terjadi dengan segera. Meskipun demikian, pasti saat penggenapan penglihatan itu akan tiba. Jika tampaknya lambat, janganlah putus asa, karena semua itu pasti akan terjadi. Bersabarlah! Semua itu tidak akan terlambat barang sehari pun! “Perhatikan ini: Orang-orang jahat hanya percaya kepada dirinya sendiri saja (seperti halnya orang-orang Kasdim) dan mereka gagal; tetapi ORANG-ORANG BENAR HIDUP OLEH IMAN — MEREKA HIDUP karena MEMPERCAYAKAN DIRI KEPADA-KU!”

 

#AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus