Top

10 Oktober 2019

Ternyata kondisi emosi kita masih sangat bergantung pada faktor eksternal. Kita berharap tidak ada orang – orang yang menyebalkan dan semua hal harus seturut dengan prediksi atau rencana yang telah kita buat. Jika tidak seturut dengan ekspektasi kita, maka emosi kita pun akhirnya bergejolak ke arah yang negatif. Padahal kita mengetahui, kita hanya bisa mengontrol dan mengendalikan diri kita sendiri. Orang lain dan kondisi sekitar bukan dalam kendali kita. Jadi tidaklah tepat jika kita “menggantungkan kondisi emosi” pada semua hal eksternal tersebut. Ketergantungan tersebut harus kita putuskan!

 

Bergantunglah hanya pada sesuatu yang tetap, tidak tergoyahkan. Yaitu Tuhan dan FirmanNya. Hanya di dalam Dia kita bisa mengalami lingkupan damai sejahtera dan sukacita yang melampaui segala akal. Hanya firmanNya yang tetap dan tidak tergoncangkan. Inilah waktunya kita bergantung pada hal tersebut. Sehingga setiap hari kecenderungan hati kita senantiasa (aktif mengejar) tertuju kepada firman dan realita hadiratNya! Sebab realita hadiratNya merupakan habitat sejati kita. Dan firmanNya menjadi pengharapan yang pasti. Saat kita terus aktif mengejar dan masuk dalam realitaNya serta memastikan setiap hari ada firman yang kita terima, dan kita percaya akan firman tersebut, maka kita akan mengalami apa yang tertulis dalam Mazmur 91.

 

Mazmur 91 menggambarkan kondisi “peperangan di dunia ini yang terjadi dalam hidup kita sehari – hari” : ada sakit penyakit di sekitar kita, ada panah – panah iblis yang sedang diarahkan kepada kita, ada marabahaya, orang – orang fasik, dll. Jika “emosi kita bergantung” pada itu semua, maka tidak heran hasilnya selalu negatif (marah, sedih, kecewa, dendam, dll)

 

Tuhan mau kita hidup dalam “dunia yang berbeda”. Bukan berarti kita “meninggalkan dunia ini”. Melainkan kita bisa menikmati dan memanifestasikan realita Kerajaan Surga di bumi ini. Ia mau kita tinggal dalam Kerajaan yang tidak tergoncangkan! Itulah habitat kita!

 

Mazmur 91:1-2 (TB) Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

 

Ada dua hal dari ayat di atas yang perlu kita perhatikan agar membuat emosi kita menjadi ilahi di tengah peperangan dalam hidup sehari – hari:

 

1. Pastikan diri kita aktif untuk senantiasa mengalami lingkupan realita hadirat Tuhan

 

Kehausan akan realitaNya dan kecintaan akan Dia baiklah terus kita pertahankan dan kita upayakan. Itulah yang terutama dan utama dalam hidup. Itulah yang membuat kita mengalami lingkupan realita ruang takhta Allah yang tidak tergoncangkan. Di dalam hadiratNya dan FirmanNya emosi kita menjadi sehat!! Penuh kehidupan yang bergelora dan meluap dengan sukacita dan kedamaian! Gaya hidup berdoa dalam roh senantiasa dan merenungkan serta memperkatakan firman sampai roh kita berkobar merupakan gaya hidup ilahi yang harus kita pertahankan!

 

2. Percaya pada kesetiaan Tuhan.

 

Percaya bahwa apa pun yang terjadi tetap ada dalam kendali Tuhan dan pasti mendatangkan kebaikan. Pokoknya apa yang Tuhan katakan, kita percaya. Dan menjadikan itu sebagai dasar keyakinan!

 

Mazmur 91:4 (TB) Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.

 

Segala upaya musuh untuk melempar berbagai pikiran negatif dapat kita halau dengan dasar keyakinan (perisai) terhadap firmanNya. Lawan dengan cara memperkatakan firman jika pikiran kita mulai bergerak ke arah negatif. Doa dalam Roh sambil mengimajinasikan firman sampai emosi negatif tersingkir. Dan roh kita berkobar oleh karena pekerjaan Roh dan Firman!!

 

Begitulah cara kita menggantungkan emosi kita kepada Tuhan dalam hidup sehari – hari. Semakin tekun melakukannya maka semakin sehat emosi kita! Makin ilahi! Dan memanifestasikan pikiran serta emosi Kristus! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus