Top

10 September 2018

Di perjanjian lama, dalam masa kepemimpinan Musa dan para hakim Israel lain, Bait suci/ Tabernakel adalah merupakan pusat dari segala aktifitas dan kehidupan dari seluruh bangsa. Apapun jenis perayaan/ hari raya yang di wajibkan bagi seluruh Israel, maka seluruh bangsa segera menyingkirkan aktifitas sehari-hari mereka dan menyatu dengan kegiatan perayaan di Bait suci. Sementara itu, setiap harinya adalah merupakan tugas dari para Imam untuk masuk ke dalam ruang kudus dan mengganti roti, mengisi minyak dari kaki dian dan membakar ukupan.

Di perjanjian baru ini, Petrus menegaskan: Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, IMAMAT YANG RAJANI, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Pet 2:9) Pada dasarnya, kita adalah para Imam yang berkerajaan (hidup dalam kerajaanNya)
Di perjanjian baru ini, pola gereja/ Tabernakel sudah berubah! Tidak ada lagi halaman! Bahkan tirai yang memisahkan antara ruang kudus dan ruang mahakudus juga sudah di robek oleh Tuhan sendiri! (Ibr 9:1-4, Mark 15:37-39)
Itu sebabnya, sebagai para Imam, adalah sebuah keharusan untuk kita menjalankan ‘tugas ini’:

1. Memastikan selalu ada firman dalam hidup kita

Salah satu tugas rutin dari para Imam adalah mengganti roti sajian yang ada di ruang kudus dari bait suci. Roti yang dimaksud berbicara tentang keberadaan dari firmanNya dalam hidup kita. Yesus berkata: Akulah roti hidup (Yoh 6:33, 35, 48, 51)
Adalah merupakan tugas/ kewajiban kita untuk selalu melayani Dia dengan cara berlama-lama dalam hadiratNya hingga Dia memberikan firmanNya kepada kita! Dengan datangnya suara Tuhan dalam hidup kita (dan kita menyimpan, menghidupi firman tersebut) maka sesungguhnya kita justru sedang mengerjakan tugas keimamatan kita sebagai orang percaya. Tanpa adanya firman dalam hidup kita, sesungguhnya kita sedang melanggar tugas keimamatan tersebut.

2. Memastikan selalu alami adanya pekerjaan Roh yang memenuhi kita dengan keIlahianNya.

Adalah merupakan tugas rutin dari para imam perjanjian lama untuk mengisi kembali kaki dian dengan minyak baru sekaligus membersihkan sumbu-sumbunya sehingga api di kaki dian tersebut selalu menyala secara penuh. Di perjanjian baru ini, sebagai para imam dihadapan hadirat Tuhan, adalah merupakan kewajiban kita untuk memastikan selalu adanya pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita.
Selalu mendisiplin pikiran untuk memikirkan hal-hal yang dari Roh, mengkondisikan diri untuk selalu merasakan dinamika & gelora pekerjaan Roh adalah merupakan ‘tugas rutin’ yang harus kita lakukan dalam menjalankan tugas keimamatan di perjanjian baru ini!
Tidak boleh ada alasan apapun untuk kita tidak menjalankan tugas keimamatan ini. Kita adalah para imam yang hidup didalam kerajaanNya!

3. Memastikan selalu ada penyembahan & doa-doa yang terus mengalir dari dalam batin kita.

Saat imam-imam bertugas di bait suci, selain mengganti roti sajian, mengisi minyak dari kaki dian, mereka juga harus menaruh racikan kemenyan di mezbah dupa. Mezbah dupa selalu berbicara tentang doa & penyembahan kita kepada Tuhan. Dengan kita berfokus mengerjakan dua tugas keimamatan diatas, secara otomatis dari dalam batin kita akan selalu mengalir aliran penyembahan & doa-doa kepada Tuhan. Pekerjaan Roh Kudus didalam hidup kita sebagai orang percaya mengkondisikan untuk selalu mengalirnya aliran doa & penyembahan dari dalam batin kita. Alasan mengapa ada banyak orang percaya terus alami kesulitan untuk berdoa & menyembah adalah karena tidak adanya pekerjaan firman & Roh dalam hidup mereka! Selama kita berfokus untuk mengkondisikan diri, mengejar realita Tuhan dengan mati-matian, gila-gilaan & habis-habisan – otomatis kita akan terkondisikan untuk hidup sebagai seorang pendoa & penyembah.
Lakukan tugas keimamatanmu di hadapan hadirat Tuhan & berfungsilah menjadi baitNya di bumi ini dalam kehidupan sehari-harimu…#AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus