Top

10 September 2019

Message ini adalah kelanjutan dari message kemarin

 

Efesus 4 : 28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

 

Ayat ini menggambarkan perubahan Nature dengan jelas: dari nature ingin hidup enak tanpa jerih lelah, merampas milik orang (mencuri), berubah menjadi pekerja keras (mencukupi dirinya dengan kerja usahanya sendiri); berubah dari sekedar penikmat hidup (malas) menjadi orang yang dapat menghasilkan karya yang baik (produktif dan berdaya guna).

 

Tidak berhenti di sana; ia ingin terus melakukan hal yang benar sampai nature kemurahan muncul yaitu: nature memberi (membagikan apa yang ada dari dirinya) untuk memenuhi orang yang masih berkekurangan.

 

Ini waktunya orang percaya mulai mengambil sikap tidak pasif, dan AKTIF memerangi pola lama yang masih tersisa dalam hidup kita. Sampai nature ilahi mulai terbentuk.

 

Dari pihak Tuhan, Roh kebenaran akan terus memimpin dalam seluruh kebenaran. Dari pihak kita, kita harus belajar memberi diri bersikap AKTIF MERESPONI firman kebenaran.

 

a. Bersihkan dan dengarkan hati nurani

 

Orang yang tidak mempraktekkan firman sebenarnya sedang membuka diri atau memberi celah dalam hidupnya untuk masuk dan bekerjanya roh dusta. (Yak 1:23)

 

Roh dusta akan membuat kita bersikap kompromi terhadap dosa. Sikap hati yang keliru ini jika terus dibiarkan karena berbagai alasan-alasan manusiawi dan duniawi akan mulai “membunuh” kepekaan hati nurani terhadap firman. Hati nuranipun lama kelamaan akan jadi tumpul dan mulai “mati rasa” terhadap firman. Mau dikotbahi seperti apapun seperti “kebal” dan malah membenci kebenaran.

 

Jadi kita harus mengambil sikap alert (waspada) ketika mendengar firman, berusaha menangkap dengan baik firman yang datang (mengerti, mendapatkan pemahaman firman yang akurat) dan menggunakan firman untuk merenovasi pikiran kita (merombak ulang apa yang tidak akurat dan membangun kebenaran), sampai nature dari pikiran kita berubah: mengubah firman menjadi daging (dalam praktek hidup sehari-hari) (Ef 4:21-23)

 

Hati nurani kita adalah salah satu alat yang efektif yang Tuhan pakai untuk terus berbicara dan mempengaruhi jalan berpikir kita: untuk melakukan apa yang benar. Kala hati nurani kita padam, maka kita bisa melakukan dosa tanpa rasa takut, tanpa rasa bersalah.

 

Dengan aktif menggosok firman dan bercermin pada firman akan menolong kita untuk membersihkan selubung-selubung lumpur dosa yang menutupi hati nurani kita (Yak 1:23-24). Sehingga mata hati kita bisa “melihat” kebenaran, dan dorongan hati akan dengan jelas mendengar suara kebenaran: firman kebenaran inilah yang akan menuntun kita untuk menggenapi kebenaran.

 

b. Ikuti jejak langkah pemimpin

 

Dalam melakukan apa yang benar, kita juga perlu mengikuti jejak langkah kaki yang pemimpin tinggalkan. Karena dalam teladan pemimpin sesungguhnya sudah ada langkah-langkah praktek firman yang sudah beliau lakukan. (Ibaratnya firman yang sudah jadi kehidupan). Lewat perkataan, statement yang terus pemimpin dengungkan, sebenarnya ada “ekstrak firman” : intisari kehidupan yang sudah pemimpin “olah, kunyah dan peras” dari “bongkahan” firman yang ada. Bagian kita sebenarnya tinggal mengikuti: dengan cara BERTEKUN dalam apa yang pemimpin ajarkan secara kontinyu.

 

Untuk bertekun, selalu dibutuhkan effort (usaha) dan investasi waktu. Bukan dilakukan sesekali saja, tapi mulai masukkan BERTEKUN menjadi bagian dari gaya hidup kita. Saya mendapati mereka yang bertekun pasti akan menghasilkan buah yang nyata dan kapasitasnya akan semakin meningkat.

 

c. Roh familiarity dan keagamawian harus terus kita usir dari hidup kita

 

Roh familiarity adalah pekerjaan roh jahat yang membuat kita merasa “kebal” dan “terbiasa” dengan pekerjaan Roh dan firman. Tidak ada lagi roh haus dan lapar akan firman. Ia membuat kita merasa bosan dan tidak lagi interest, kehilangan passion dalam mengejar kebenaran. Mengejar kebenaran saja tidak, apalagi melakukan hal yang benar!

 

Roh agamawi membuat kita pasif, sepertinya sudah melakukan firman atau rutinitas keagamaan (pergi ke gereja, doa, baca firman, dll) tapi sudah tidak ada lagi gairah atau kehidupan di dalamnya. Roh agamawi membuat kita “terbiasa” melakukan aktivitas rohani tapi sudah tidak mengerti lagi mengapa kita harus melakukan itu.

 

Misal: seseorang dilatih untuk berdoa berbahasa roh dengan meluap-luap dan dengan intensitas yang tinggi. Orang yang bersangkutan sudah melakukannya, tapi tidak lagi tahu makna dan artinya mengapa harus melakukan itu, ia melakukan begitu saja tanpa pemahaman firman, hanya ikut-ikutan saja. Lama kelamaan, iapun akan familiar dan seperti robot (menjalankan aktivitas, tapi di dalamnya kosong, tanpa kehidupan).

 

Ini juga salah satu bentuk kepasifan rohani! Kepasifan selalu menjadi musuh utama kegerakan. Karena kepasifan memadamkan kegerakan. Di dalam hidup selalu ada dinamika (bergerak). Ibarat mayat adalah  gambaran tubuh yang sudah kehilangan dinamika. Dinamika Roh dalam diri kita ini yang tidak boleh padam. Adanya dinamika akan membuat kegerakan terus berlanjut. Kobarkan pekerjaan firman dan Roh dalam diri kita: karena semakin besar dan kencang kobaran api Roh: dinamika Roh juga akan bergerak berjalan memberi pengaruh yang lebih besar dan lebih jauh kepada kegerakan.

 

Saya berdoa biarlah Roh Kebenaran memimpin kita untuk melakukan apa yang benar, sampai kita dapat menggenapi seluruh kebenaran! Biarlah setiap tahapan dan proses dalam melakukan apa yang benar mengubah nature kita dari yang manusiawi menjadi nature ilahi. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus