Top

11 Agustus 2018

Cara Tuhan mempersiapkan Daud untuk memasuki momentum menaklukkan Goliat dan menjadi raja atas Israel terbilang sangatlah unik. Karena oleh kedaulatan tanganNya, Daud harus memasuki periode yang terbilang “buruk” bagi kebanyakan orang. Ia sudah tertolak dari sejak kandungan, disingkirkan dari tengah keluarga, dan dikondisikan untuk alami kematian dengan cara diberikan dua tiga ekor domba oleh bapanya sebagai umpan beruang dan singa. Bahkan ketika ia sudah diurapi oleh Samuel, kehidupannya tidak langsung meroket. Melainkan ia masih tersimpan ‘dalam pembentukan’ tangan Tuhan. Ia menjadi pelayan dan pemain musik raja Saul dengan setia, tanpa “berambisi” menjadi raja atas Israel walaupun Samuel telah mengurapinya. Daud tidak menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk dia ‘memberontak’ dan mengambil alih kepemimpinan. Melainkan tetap menjalani kehidupan secara tulus dan dikuasai oleh Roh (posisi rohaninya alami perubahan – 1 Sam 16:13) Singkat cerita, Daud menjadi orang yang sangat disukai oleh Saul.

Sebenarnya jika Saul memperhatikan “promosi” dari hambanya yang menceritakan tentang Daud, bisa saja Saul mengangkat Daud lebih dari sekedar pelayannya, melainkan sebagai salah satu prajurit perang yang bisa diandalkannya.
1 Samuel 16:18 (TB) Lalu jawab salah seorang hamba itu, katanya: “Sesungguhnya, aku telah melihat salah seorang anak laki-laki Isai, orang Betlehem itu, yang pandai main kecapi. Ia seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya; dan TUHAN menyertai dia.”

Tapi lagi – lagi, oleh kedaulatan Tuhan, Saul tidak memperhatikan hal tersebut. Saul hanya ingin “memanfaatkan” Daud untuk kepentingan sesaat. Tapi hal itu tidak masalah bagi Daud. Ia tetap melangkah dalam ketulusan dan hormat terhadap Saul. Sebab memang belum waktunya Tuhan mempromosikannya. Ia masih tersimpan dalam tabung panah Tuhan.
Dari proses Daud di atas, banyak orang tidak mau dan tidak menyukai jika hal tersebut terjadi dalam dirinya. Banyak yang frustasi, kecewa, putus asa ketika tertolak, dan undur dari kegerakan karena “tidak mendapatkan” peran yang diinginkan. Dan banyak juga yang ingin buru – buru menaiki anak tangga promosi ketika Tuhan berfirman kepadanya akan menjadi orang yang berpengaruh. Berbeda dengan Daud. Ia sangat ‘enjoy’/menikmati proses dan tetap tulus; tanpa dendam dan ambisi. Ia tahu dengan pasti siapa dirinya di dalam Tuhan. Sehingga ia tidak undur diri dalam proses kehidupan yang Tuhan tetapkan.

Sikap hati Daud tersebut membuat Tuhan membawanya untuk melebur dalam kepentingan secara korporat bangsa Israel. Ia membawa Daud ke dalam arena peperangan korporat melawan bangsa Filistin. Dahulu Daud hanya berperang sendiri melawan singa dan beruang, sekarang Daud harus berperang bersama dan berjuang untuk kepentingan bangsa!! Ini merupakan kehormatan dan kebanggaan bagi Daud tentunya!!
Berbeda dengan kebanyakan orang percaya saat ini. Maunya sukses secara individu saja. Mereka lebih senang melawan singa dan beruangnya saja, daripada berjuang untuk kepentingan Kerajaan Surga secara korporat. Mereka merasa diri “sudah” melakukan kehendak Tuhan ketika berperang sendirian. Mereka terus bergumul untuk meleburkan diri dalam kepentingan bersama. Mereka tidak merasa panggilan untuk melebur dalam kehidupan korporat (gereja lokal yang terbangun akurat) sebagai suatu kehormatan dan kebanggaan. Padahal itu merupakan kunci sekaligus pintu gerbang untuk memasuki hari depan yang gilang gemilang bersama dengan Tuhan. Karena memang yang Tuhan inginkan adalah fungsi sebagai kesatuan tubuh Kristus.

Dalam Daud melawan Goliat, ia memang alami kemenangan. Tapi disaat yang sama ia juga memberikan nyawanya untuk kehidupan korporat. Bukan tanpa resiko Daud melakukan hal itu. Tapi dia tahu dengan pasti, saat ia memberikan nyawanya, justru ia menerimanya kembali!! Karena tanpa kematian dari ambisi pribadi, maka tidak akan ada kebangkitan!! Kehidupan korporat akan mengajar kita bagaimana mati terhadap dosa, namun hidup hanya bagi Allah. Ya, hanya pada saat kita meleburkan diri hal ini akan terjadi.
Daud, tahu dengan pasti, kemenangannya secara pribadi merupakan bentuk pelatihannya untuk meraih kemenangan secara korporat!! Jadi, Daud kuat untuk kepentingan bangsa. Ia jadi ahli berperang untuk kepentingan bangsa. Itulah Daud.

Disinilah saya menyadari untuk saya terus gila – gilaan membangun diri saya semaksimal mungkin, bukan untuk kepentingan saya lagi, melainkan kepentingan korporat Kerajaan Sorga. Apapun yang kita lakukan hanya semata untuk kepentingan korporat. Saya yakin, sikap hati seperti itulah yang akan memposisikan kita terhisap masuk dalam kehidupan korporat. Mempertahankan kehidupan yang individualistis pasti akan membuat kita terpental dari kehidupan korporat. Tapi memberikan hidup kita untuk kepentingan korporat akan membuat kita bangkit bersama sebagai satu tubuh menaklukkan Goliat dalam setiap domain. #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus