Top

11 Juni 2019

Filipi 4:8-9 (FAYH)
Saudara sekalian yang saya kasihi, pada akhir surat ini saya ingin mengatakan satu hal lagi. Arahkanlah pikiran Saudara kepada hal-hal yang benar, yang baik, dan yang adil. Renungkanlah hal-hal yang murni dan indah, serta kebaikan dan keindahan di dalam diri orang lain. Ingatlah akan hal-hal yang menyebabkan Saudara memuji Allah dan bersukacita. Amalkanlah hal-hal yang telah Saudara pelajari dari saya dan dari perbuatan saya, dan Allah sumber sejahtera akan beserta dengan Saudara

 

Tuhan sudah menyediakan suatu dunia yang bebas dari dukacita dan ratap tangis, bebas dari goncangan dan ketidakpastian, dunia yang damai sejahtera, bebas dari ketidakbahagiaan. Dialah yang memiliki Kerajaan yang tak tergoncangkan. Kabar baiknya: dunia-Nya Tuhan ini sudah disediakan bagi kita.

 

Penyebab kita masih bisa mengalami berbagai emosi negatif, kekacauan dan ketidakpastian hidup seringkali disebabkan karena kitalah yang KELUAR dari dunia-Nya Tuhan, suatu dunia yang seharusnya menjadi HABITAT kita. Timbul pertanyaan di hati saya. Bagaimana kita bisa keluar dari dunia-Nya Tuhan dan bagaimana kita bisa masuk dan tinggal dalam dunia-Nya Tuhan?

 

Ketika saya berdoa sambil merenungkan Filipi 4:8, saya melihat sebuah tempat seperti kolam renang di tengah siang hari yang panas terik dan gersang. Lalu saya menerima pengertian bahwa kolam renang itu adalah gambaran dari “dunia lain” dari dunia sekelilingnya. Saat seseorang masuk dan menyeburkan diri di dalam kolam, mendadak dia seperti ada di dunia yang berbeda. Di luar kolam, suasananya kering dan panas, namun di dalam kolam, kondisinya dingin, basah dan menyejukkan. Cara berinteraksinya juga berbeda. Di daratan orang berjalan. Namun di dalam air, tubuh mulai bisa melayang dan kita harus belajar berenang supaya bisa maju dan tidak tenggelam.

 

Saya menerima pengertian, demikianlah dunianya Tuhan, dalam satu waktu yang sama kita bisa MEMILIH untuk tinggal dalam dunia-Nya Tuhan atau tinggal di dunia lahiriah. Tempatnya SUDAH ADA, tinggal dimasuki. Yang kita butuhkan pertama-tama adalah KEPUTUSAN. Keputusan kitalah yang akan membuat kita mau menceburkan diri, melangkah masuk ke dunia-Nya Tuhan.

 

Yang kedua, untuk hidup dalam dunianya Tuhan butuh kedisiplinan membangun GAYA HIDUP BARU. Gaya hidup mencari Tuhan, mendengarkan pengajaran rasuli, berdoa dengan agresif, memperkatakan firman dengan tekun, hidup dalam membaca firman, doa dan penyembahan harus menjadi gaya hidup sehari-hari kita. Kebanyakan orang ‘tidak tahan’ dan ‘tidak betah’ untuk membangun gaya hidup ‘jenis ini’ dan ingin segera ‘keluar’ kembali ke habitat yang lama, karena “lebih nyaman” di luar sana.

 

Namun segala keputusan selalu ada konsekuensinya. Ketika seseorang keluar dari dunia-Nya Tuhan, kekeringan, kesuaman dan panas teriknya kehidupan akan kembali menyelimuti dirinya. Dukacita, nestapa, emosi negatif pun kembali berdatangan. Memang dibutuhkan KEPUTUSAN dan KEDISIPLINAN (tekad dan ketekunan) untuk membangun gaya hidup ilahi ini. Dalam menjalani gaya hidup ilahi ini, bukan berarti kita mengurung diri di kamar, terus berdoa dan menyembah Tuhan. Bukanlah seperti itu. Memang kita perlu disiplin dalam waktu teduh kita. Ada waktu khusus yg kita sediakan bagi Tuhan. Namun kita tetap perlu bekerja dan melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.

 

Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, kita pasti masih akan berinteraksi dengan beragam orang yang menjengkelkan, situasi yang tidak mengenakkan, dan bisa saja kita jadi terpancing emosinya, terluka dan ‘bocor’. Di saat itulah kita perlu segera membenahi kembali hati kita, membersihkannya di dalam aliran sungai kehidupan. Dipulihkan kembali dengan masuk ke dunia-Nya Tuhan. Di sanalah Tuhan menyelidiki hati kita, membersihkan dan memotong akar-akar kemanusiawian serta kedagingan kita agar menjadi pribadi yang semakin utuh dan ilahi. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus