Top

11 Oktober 2019

Tuhan terus mengingatkan saya untuk tidak menggantungkan emosi pada situasi, kondisi, orang, dan peristiwa. Karena tanpa sadar itulah yang menjadi “ikatan yang membelenggu” kita dalam menjalani hidup sehari – hari. Jika ada situasi, kondisi, dan peristiwa buruk, maka emosi kita pun menjadi negatif. Jika ada orang yang membawa emosi negatif, kita pun dapat dengan cepat tertular dan turut memanifestasikan emosi negatif tersebut. Ada yang salah dengan kita! Selama kita menganggap hal tersebut “wajar – wajar saja”, maka sesungguhnya kita sedang terus memberi diri untuk dicetak dengan pola dunia yang ada.

 

Oleh karenanya kita perlu bangkit dan menyadari bahwa hal tersebut tidaklah wajar! Sudah seharusnya kita hidup dalam dimensi Kerajaan Surga yang memanifestasikan kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita. Tidak boleh ada emosi negatif sedikitpun! Sebab itu bukan berasal dari kita, melainkan dari dosa! Dialah pribadi yang memberikan emosi negatif pertama kali kepada Adam dan Hawa yang disebabkan oleh akibat dosa. Jadi bagi kita yang telah ditebus dan tidak memberontak terhadap Allah, dan punya kecenderungan hati menyenangkan Tuhan (Roma 6:11) tidak sewajarnya emosi kita menjadi negatif! Harusnya terus positif.

 

Kalau sampai emosi kita menjadi negatif, artinya ada sudut pandang atau dasar pemikiran yang berhasil ditipu oleh iblis seperti yang dilakukannya pada Hawa dan Adam. Itulah yang harus kita bongkar dan cetak ulang dengan kebenaran firmanNya!

 

Berikut ini beberapa ‘pemikiran’ (tipu daya iblis) yang seringkali membuat emosi kita bergerak ke arah yang negatif:

 

1. Kebahagiaan kita ditentukan oleh apa yang kita miliki secara lahiriah. Uang, harta, benda, keluarga (suami, istri, anak, dll) Jika ada yang hilang atau terjadi apa – apa dengan hal tersebut, maka emosi kita bergerak ke arah yang negatif.

 

2. Kebahagiaan kita ditentukan oleh peristiwa, situasi dan kondisi yang berjalan seturut dengan rencana kita. Jika tidak sesuai, dan kita anggap sebagai peristiwa buruk, maka hilanglah kedamaian kita.

 

3. Kebahagiaan kita ditentukan oleh orang – orang sekitar kita. Jika mereka senang, kita pun bisa ikut senang. Jika mereka sedih, kita pun bisa ikut sedih.

 

4. Kebahagiaan kita ditentukan oleh perlakuan orang lain. Jika diperlakukan buruk, maka hilanglah damai sejahtera dan sukacita. Jika diperlakukan secara baik, barulah hati kita damai kembali.

 

Bayangkan saja jika ‘tipu daya’ itu terus kita pertahankan, maka hancurlah kehidupan kita karena diombang – ambingkan oleh orang, peristiwa, situasi dan keadaan. Bukan itu yang Tuhan kehendaki. Ia mau kita hidup dalam KEBENARAN, sehingga kita di MERDEKAKAN dari segala tipu daya.

 

Kebenaran apa yang harus kita miliki? BERHENTILAH BERGANTUNG PADA MANUSIA, PERISTIWA, ATAU KEADAAN. BERGANTUNGLAH HANYA PADA TUHAN DAN FIRMANNYA SAJA. Karena hanya Tuhan dan firmanNya yang tidak tergoyahkan sedikitpun!!

 

Ibrani 12:28 (TB) Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.

 

Matius 24:35 (TB) Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.

 

Yeremia 17:5-8 (TB) Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

 

Saat kita hanya berharap pada Tuhan, dan mengandalkan firmanNya – mengisi hidup kita dengan perkataanNya dan realitaNya, dan menjadikan itu sebagai sumber kedamaian dan sukacita satu – satunya, maka hidup kita tidak akan kering. Namun senantiasa memancarkan kesegaran damai sejahtera dalam segala keadaan!!

 

Pagi ini saya memutuskan ketergantungan kebahagiaan saya dari lingkungan dan orang sekitar serta peristiwa. Saya arahkan hati dan ketergantungan saya hanya kepada Tuhan sebagai sumber damai dan sukacita satu – satunya. Tuhan dan firmanNya adalah harta yang paling berharga!! Itulah yang harus saya jagai dan pertahankan untuk selamanya!! Bukan yang lain!! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus