Top

11 September 2019

Dari perenungan Firman yang saya lakukan, satu hal yang saya betul-betul sadari, bahwa hal terpenting yang perlu saya miliki adalah hati yang mencintai Tuhan dan kecenderungan hati yang tertuju hanya kepada kebenaran.

Dalam momen penyembahan yang saya miliki di Ruang Tahta-Nya hari ini, saya menyadari bahwa tidak peduli seberapa pun hebatnya kemampuan berpikir yang saya miliki untuk meneliti Firman-Nya, tetapi tanpa hati yang tertuju kepada kebenaran, itu semua sia-sia; tidak ada bedanya dengan para ahli Taurat yang Yesus sebut sebagai orang-orang munafik (Mat 23:27).

Roh yang mengadili dan membakar bekerja dalam hidup saya, menyadarkan saya akan ketidakakuratan saya, baik dalam tindakan, pikiran dan sikap hati di aspek-aspek tertentu yang masih ada dalam diri saya. Roh Kudus menyadarkan saya bahwa kadangkala tanpa kita sadari, pengenalan kita akan Tuhan sebagai Allah yang setia, Bapa yang baik (yang selalu mengampuni kita ketika kita bertobat dan datang kepadaNya) membuat kita menjadi pribadi yang manipulatif.

Ketika kadar hati yang mencintai Tuhan di dalam hidup kita tidak ada dalam kondisi yang penuh atau bahkan sampai meluber; artinya ada cinta akan dunia/ diri sendiri/ uang yang masih ada di dalam hati saya. Dan dengan kondisi seperti itu, beberapa ‘manifestasinya’ adalah dengan membuat kita menjadi pribadi yang memiliki banyak alasan untuk belum melakukan Firman atau masih membiarkan adanya kelemahan dalam diri kita yang disebabkan karena kitanya yang belum mau keluar dari zona nyaman tersebut.

Saya sungguh merasakan tajamnya pedang Firman yang Roh Kudus beri untuk membentuk hidup saya di dalam hadiratNya pada hari ini. Saya bertobat, saya tidak mau menjadi pribadi yang ‘memanipulasi’ atau ‘memanfaatkan’ kesempurnaan kasih Tuhan untuk saya pakai ‘membenarkan’ ketidakakuratan dalam bentuk apa pun yang belum mau saya benahi. Saya tahu dengan pasti bahwa Tuhan selalu mengampuni saya, tetapi bukan berarti saya jadi bisa berlaku semena-mena. Karena Tuhan tidak akan membiarkan diri-Nya dipermainkan, dan sebagai umat kepunyaan-Nya, saya juga tidak memiliki niat sedikitpun untuk mempermainkan-Nya! (Gal 6:7).

Justru pengenalan saya akan Tuhan sebagai Bapa yang mengasihi saya secara sempurna itulah yang harusnya saya gunakan untuk terus menjadi daya dorong dalam diri saya mengalami kemajuan-kemajuan agar keberadaan saya semakin memperkenan hatiNya. Karena kalau saya mengasihi Tuhan, saya pasti menjadi pribadi yang senantiasa taat terhadap setiap perintahNya dan hidup dalam ketetapanNya dengan penuh ketaatan (Yoh 14:15, 14:23, 15:10).

Kembali Roh Kudus membawa saya mengingat Firman di Yakobus 1:25, dan saya menerima pemahaman yang membawa saya mendapati bahwa ternyata bertekun dalam merenungkan Firman akan membuat kita menjadi orang-orang yang merdeka untuk selalu melakukan apa yang benar! Merdeka untuk mengekspresikan diri sepenuhnya sebagai ciptaan baru yang berasal dari kebenaran, dan hidup hanya dari Firman!

Jika selama ini masih ada beberapa aspek kehidupan yang seakan-akan membelenggu kita untuk melakukan apa yang benar, yang harus saya terus lakukan adalah meneliti hukum yang sempurna, yang memerdekakan orang dari berbagai belenggu musuh.

Tetapi apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan hukum yang memerdekakan orang? Inilah hukum yang terutama yang Yesus katakan di Mat 22:37, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”

Mengapa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi menjadi hukum yang memerdekakan orang? Karena hanya dengan hati yang mencintai Tuhanlah kita akan mulai terkoneksi dengan Pribadi-Nya. Hanya ketika kita mengasihi Tuhanlah kita akan ‘mau tahu lebih dan lebih lagi’ tentang apa yang ada di dalam hati-Nya. Sehingga untuk bertekun dalam merenungkan Firman dan membangun manusia roh, itu tidak menjadi Taurat bagi kita, tetapi justru menjadi sesuatu yang sangat kita sukai (Maz 1:1)! Memikirkan Firman-Nya menjadi keseharian kita, berkomunikasi denganNya juga menjadi hal yang secara natural kita lakukan.

Roh Kudus menyatakan dengan jelas kepada saya bahwa tidak pada tempatnya kehidupan kita sebagai orang percaya masih terus alami tarik menarik antara kita dengan dunia, antara kita dengan dosa. Karena ‘tarik menarik’ hanya akan terjadi jika ada ’titik kontak’ (pikiran, keinginan kita). Tetapi bagi kita yang telah ada di dalam Kristus Yesus, ada hukum Roh dan kehidupan yang berlaku dalam hidup setiap kita yang memposisikan diri untuk tidak lagi hidup menurut daging, tetapi hidup menurut Roh! (Roma 8).

Sekarang saya dapat melihat korelasi antara hukum yang terutama, Firman di Roma 8 dan Yakobus 1:25, bahwa ternyata ada kuasa yang besar yang terkandung dalam hati yang mencintai Tuhan. Hati yang mencintai Tuhan pasti membuat kita menjadi pribadi yang passionate untuk bertekun merenungkan Firman dan membangun manusia roh. Ketika kita memposisikan diri untuk mulai bertekun merenungkan atau meneliti Firman, otomatis pikiran kita akan dipenuhi oleh Firman. Artinya kita sedang memposisikan diri kita untuk hidup oleh Roh, karena kita memikirkan hal-hal yang dari Roh (Roma 8:5).

Pada saat itulah kita menikmati bekerjanya hukum Roh dan kehidupan, yang membawa kita naik jauh melampaui kuasa dosa. Kita akan sedemikian merdekanya terhadap kuasa dosa karena hati dan pikiran kita tidak lagi tertuju ke sana. Musuh akan kehilangan ’titik kontak’ dengan kita, karena pikiran kita tidak lagi tertuju kepada hal-hal yang duniawi / manusiawi / dosa.

Saya percaya, hati yang mencintai Tuhan akan membuat kita menjadi pribadi yang tidak akan berusaha ‘mencari celah’ dari ketidakakuratan tokoh-tokoh iman di Alkitab hanya untuk membenarkan diri melakukan hal yang tidak benar. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi benar-benar memerdekakan kita karena membawa kita hidup oleh Roh dan menikmati bekerjanya hukum Roh dan kehidupan; yang akan membuat kita melakukan segala perintah-Nya tanpa beban, tanpa rasa terpaksa, tetapi justru kita lakukan dengan full passion, karena kerinduan untuk menyukakan hati-Nya begitu bergelora menguasai hidup kita! Amin! #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus