Top

12 Februari 2020

 

Mata yang melihat, telinga yang mendengar, hati yang taat adalah sesuatu yang esensial dalam kehidupan orang percaya.

 

Ketika saya merenungkan prinsip di atas saya teringat akan kisah Ishak di negeri Gerar. Alkitab mencatat di Kejadian 26:1, ada bencana kelaparan yang sedang melanda negeri itu dan ini bukanlah kelaparan yang pertama di negeri tersebut, karena sudah berulang kali terjadi. Ishak pun sempat galau ketika menerima fakta yang ada. Ia beserta rombongannya sudah berencana dan bersiap-siap untuk pergi ke Mesir. Namun Firman datang dan mencegat dia untuk pergi ke Mesir. Saya mendapati di tengah krisis seperti itu, kepekaan mendengar suara Tuhan sangatlah menentukan perjalanan Ishak apakah akan disertai Tuhan atau tidak.

 

Kej 26:2-5 (TB) TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, Karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.”

 

Lewat ayat ini kita dapati bahwa Ishak dapat dengan jelas mendengar suara Tuhan. Namun mendengar suara Tuhan belumlah cukup, masih dibutuhkan respon yang akurat yaitu langkah KETAATAN.

 

Kej 26:6 (TB) Jadi tinggallah Ishak di Gerar.

 

Ayat ini menjadi teladan Ishak bagi saya. Ishak seakan memberi contoh: apa pun resiko yang harus dihadapi, keputusanku harus selalu selaras dengan firman-Nya! Saya pun mencoba mengimajinasikan situasi apa yang sedang terjadi di Gerar. Di Gerar sedang ada bencana kelaparan. Kelaparan terjadi pasti karena tumbuhan yang seharusnya menghasilkan bahan makanan mengalami kegagalan panen sehingga tidak bisa memenuhi supply makanan yang ada.

 

Jika dirunut lagi ke belakang pasti ada KEKURANGAN AIR di masa itu. Dengan kata lain ada musim KEKERINGAN. Jika terjadi kekeringan, maka tanaman dan hewan ternak pun akan mati, dan pada gilirannya manusia mengalami kelaparan. Belum lagi serangan sakit penyakit, kondisi emosi negatif dan tekanan sosial ekonomi pasti juga ada di saat sulit seperti itu. Namun yang unik, di tengah situasi seperti itu terjadi sesuatu yang ajaib dalam hidup Ishak.

 

Kejadin 26:12 (TB) Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN

 

Secara nalar adalah MUSTAHIL di dalam musim kering, ada orang menabur benih tanaman dan menghasilkan tuaian seratus kali lipat? Hal ini menunjukkan adanya PENYERTAAN TUHAN secara SUPRANATURAL. Karena Ishak taat, maka ia DIBERKATI TUHAN. Tanda orang yang diberkati/disertai Tuhan, adalah: apapun yang Ia kerjakan dibuat Tuhan berhasil!

 

Kej 26:13-14 (TB) Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya. Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya.

 

Menuai panen di musim kekeringan pastilah membuat hasil panen Ishak dihargai sangat mahal karena minus ‘supply’ padahal ‘demand’ atau kebutuhan begitu banyak. Tidak heran ayat 13 mencatat Ishak menjadi kaya, bahkan kian lama makin kaya. Karena ada tumbuhan dan air, maka ternak pun bisa hidup. Kumpulan kambing domba dan lembu sapinya melimpah. Dengan melimpahnya panen, dan ternak maka otomatis membuka pintu lapangan kerja, sehingga pegawai Ishak pun banyak.

 

Dalam benak saya, saya seperti ‘mendengar’ orang Filistin berkata “Saya ini penduduk asli, sudah tinggal di sini turun menurun. Saya sudah biasa bertani bahkan pendahulu saya juga bertani. Tapi sekarang, saya menanam apa saja mati (karena musim kering), ternak mati, saya dan keluarga sangat kelaparan, tapi orang itu (Ishak) adalah pendatang (orang asing), dia menanam apa saja bisa hidup bahkan panennya banyak sekali, sampai seratus kali lipat, ternaknya pun banyak: gemuk-gemuk dan sehat lagi, kok bisa? Saya saja yang manusia sudah sangat kelaparan; tapi di tempat Ishak, hewan ternaknya kenyang! Hal ini sungguh tidak adil!

 

Sekarang saya paham kenapa orang Filistin cemburu luar biasa kepada Ishak! Saya mendapati rahasia Ishak bisa menuai panen di tengah kekeringan karena Ishak – somehow – bisa menemukan sumur-sumur yang sudah digali oleh Abraham ayahnya. Dari sini Ishak mendapat supply air yang melimpah.

 

Saya percaya pasti ada arahan atau hikmat ilahi yang membuat Ishak menemukan sumur itu. Orang Filistin melihat hal itu, namun karena dibakar api cemburu kepadanya, inilah yang dilakukan orang-orang Filistin kepadanya:

 

Kejadian 26:15 (TB) Segala sumur, yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, oleh hamba-hamba ayahnya itu, telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah.

 

Tidak cuma itu, ia pun diusir oleh Abimelekh. Karena dianggap terlalu berkuasa. Lalu Ishak berpindah sedikit ke lembah Gerar. Karena butuh air, ia pun memerintahkan menggali sumur.

 

Kejadian 26:18 (TB) Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya.

 

Singkat cerita Ishak bersama para hambanya berpindah-pindah menggali sumur; dari satu sumur berpindah ke sumur lain. Ada berbagai pergumulan dan pertengkaran. Sampai ia menemukan sumur ke 4 dan dinamainya Bersyeba.

 

Kej 26:24 (TB) Lalu pada malam itu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu.”

 

Kembali Ishak mengikuti arahan firman, dan lalu Ia memanggil, (dari bahasa aslinya – qârâ (baca kaw-rar) yang artinya: to call, cry out, to utter a loud sound, to proclaim – mendeklarasikan Nama Tuhan. Sejak saat itu pergumulan berhenti, Abimelekh disertai Ahuzat datang mengajak berdamai dengan Ishak. Mereka bersaksi “Kami telah melihat sendiri, bahwa Tuhan menyertai engkau.”

 

Ada beberapa prinsip firman yang saya dapat tarik dari kisah Ishak di atas:

 

1. Tinggal di dalam firman, membuat kita tinggal di dalam dunianya Tuhan.

 

Meski lingkungan di luar diri kita (yang ada di sekeliling kita) sedang alami kondisi yang negatif, tapi jika kita mendengar firman dan melakukannya, maka kehidupan di dalam diri kita, pasti dibawa Tuhan alami KEHIDUPAN yang BERBEDA. Kehidupan di dalam kita akan menyeruak keluar, memancar dalam kehidupan sehari-hari. Ishak menerima penyertaan Tuhan, ia diberkati oleh Tuhan sendiri karena Abraham sudah terlebih dahulu MENDENGAR FIRMAN dan MEMELIHARA KEWAJIBANNYA di dalam dirinya.

 

Inilah yang menjadi haritage – warisan bagi Ishak. Ketaatan Bapa rohani membuka jalan bagi sang anak, dengan satu syarat: mau mengikuti jejak kaki sang bapak rohani (Kejadian 26:4-5). Artinya jika Ishak melakukan hal yang sama, maka janji dan penyertaan Tuhan yang sama akan terjadi dalam dirinya juga. #AkuCintaTuhan

 

Message ini masih akan berlanjut besok.

 

Ps. Steven Agustinus