Top

12 Januari 2019

Saya mendapati, kekecewaan, luka jiwa, konflik batin – dan yang sejenisnya – ternyata lebih membahayakan dari yang kita kira.┬áSelama ini saya beranggapan, semua luka & konflik batin tersebut otomatis akan berlalu dan menjadi sembuh dengan sendirinya melalui proses perjalanan waktu.

Tapi ternyata, tidak! Setiap ganjalan yang dibiarkan tidak terselesaikan secara tuntas ternyata sama seperti seekor ulat yang menggerogoti suatu buah dari dalam; dari luar, buah yang digerogoti ulat tersebut akan tetap terlihat cantik & menarik, tapi didlmnya terus terjadi pembusukan! Seperti itulah kurang-lebih kondisi kehidupan dari orang-orang yang terus menyimpan ganjalan terhadap sesamanya! (Mat 18:34)

Walau waktu sudah berlalu bertahun-tahun sekalipun, setiapkali orang yang bersangkutan teringat kembali akan peristiwa buruk yang ia alami, rasa sakit yang sama (biasanya malah jadi lebih kompleks) akan ia rasakan kembali! Dan respon atau reaksi yang ia munculkan biasanya akan terus salam sehingga makin memperburuk kondisi masa kini yang orang tersebut sedang jalani.

Bahkan bagi seorang pemimpin jemaat sekalipun, hal tersebut akan tetap terjadi atas kehidupan pribadi maupun pelayanannya!┬áTerkadang, ada saja seorang pemimpin yang jadi kecewa/ menyimpan ganjalan & konflik batin berkaitan dengan salah satu anggota keluarganya – atau terhadap jemaat/ rekan sepelayanan yang telah mengecewakan dirinya.

1. Segala bentuk konflik batin yang tidak terselesaikan secara tuntas adalah merupakan sumber ‘pembusukan’ dalam kehidupan seseorang.

Efek dari ‘pembusukan’ tersebut ketika mulai bermanifestasi dalam kehidupan seseorang, bisa beragam; bisa muncul dalam bentuk keapatisan, ketawaran hati atau bahkan dalam berbagai bentuk sakit penyakit yang mendera fisik seseorang. Biasanya, orang akan mencoba menutup luka/ ganjalan besar yang terjadi dalam hidupnya tersebut dengan cara ‘memulai hidup yang baru’ – pindah lokasi tempat tinggal, pindah pekerjaan, sengaja mengubah penampilan dan sebagainya.

Tapi ingatlah selalu, sumber ‘pembusukan’ yang terjadi tidak berada pada ‘aspek eksternal dirinya’, pembusukan itu justru ada didalam dirinya sendiri! Jadi, mau perpindah berapa kali-pun, mau mengubah penampilan berapa kali-pun, mau berganti pasangan berapa kali-pun, sekali waktu nanti, kekecewaan, ganjalan & konflik yang sama akan kembali ia alami.! Karena memang sumber ‘pembusukan’ tersebut berada di dalam dirinya!

Seekor keledai tidak akan berubah menjadi kuda hanya dengan dipindah kandang.

2. Pengampunan, mengampuni adalah satu-satunya obat pemunah dari ‘racun kehidupan’ yang bersumber dari berbagai ganjalan & konflik batin.

‘Pembusukan’ dalam kehidupan seseorang akan terus berlangsung, ‘racun kehidupan’ tersebut akan terus meracuni kehidupan seseorang selama orang yang bersangkutan masih belum bertindak melepaskan pengampunan terhadap siapapun yang telah mengecewakan, mengkhianati dirinya.

Tindakan mengampuni adalah tindakan paling tepat yang seseorang bisa lakukan untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari berbagai ‘pembusukan’ dan ‘racun kehidupan’ yang selama ini menggerogoti kehidupannya.

Memang melepas pengampunan tidaklah semudah mengucapkannya – khususnya bagi mereka yang telah mengalami berbagai peristiwa yang sangat menyakitkan; tapi bagaimanapun juga, pengampunan dan mengampuni adalah satu-satunya obat penawar yang bisa menyembuhkan efek merusak yang ditimbulkan oleh rasa kecewa/ konflik batin. Mintalah kasihNya untuk di curahkan memenuhi hidupmu; dari kasih Ilahi yang memenuhi hidupmu, Roh Kudus pasti akan memampukan dirimu untuk bisa bertindak mengampuni siapapun orang yang telah bersalah kepadamu.

Matius 5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

To get offended & be hurt is human; but to forgive & forget is divine

Teruslah menghubungkan dirimu dengan keIlahianNya dan hiduplah didalam keIlahianNya tersebut.#AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus