Top

12 Maret 2019

Message ini adalah kelanjutan dari message kemarin…

Keterputusan hubungan dengan Bapa, ditandai dengan:
a. Kehidupan yang tawar hati dan bocor, kita kehilangan keantusiasan dan dinamika ilahi yang pernah terbangun dalam kehidupan rohani kita – “kehilangan kasih mula-mula”- Jika hal ini terus dibiarkan, akan menyebabkan aliran kehidupan ilahi mulai terputus, sama seperti sebuah selang air yang terputus dari sumber air, kehidupan ilahi kita lama kelamaan akan mulai mengalami kekeringan dan mengalami kematian rohani. Saat itulah kehidupan kita berangsur-angsur akan mundur, tidak ada bedanya dengan kebanyakan orang dunia ini (Yoh 15:6 mencatat: ia dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering, dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar),
b. Kita mulai kehilangan passion ilahi, mulai kehilangan keefektifan dan  produktivitas dalam Kerajaan Sorga, dengan kehilangan realita Tuhan maka kehidupan kita menjadi sama frustrasinya dengan orang dunia. Jika dunia begoncang, kitapun ikut bergoncang, Jika dunia goyah, kitapun ikut goyah. Hal-hal eksternal (fakta dan data) menjadi begitu mudah menyerang dan mempengaruhi kita.
Pahami prinsip ini: jika musuh berusaha dengan segala cara untuk memutus hubungan kita dengan Bapa, kitapun harus BERUPAYA DENGAN SEGALA MACAM CARA untuk BERTEKUN membangun keterhubungan dan kebergantungan dengan Bapa.
Semakin kita bertekun, maka level keterhubungan dan kebergantungan kita dengan Bapa akan menjadi semakin meningkat pula!
Membangun ketekunan adalah sama seperti membangun GAYA HIDUP yang selaras dengan firman, sekali terbangun menjadi suatu kebiasaan, maka suatu infrakstruktur rohani juga terbangun dengan baik. Maka kehidupan ilahipun akan mudah mengalir dan tidak menjadi On/Off secara rohani. Ibarat seseorang memasang sistem pipa air untuk mengalirkan air dari sumber mata air ke rumah, begitu infrastruktur terpasang dia tidak perlu menimba sumber mata air. Jika membutuhkan air tinggal membuka keran, dan air mengalir begitu saja!
Ketekunan akan memastikan terbangunnya kontinuitas. Keterhubungan dan kebergantungan dengan Bapa akan terus terjaga dan dapat meningkat dengan tajam.
Bertekunlah membangun manusia roh kita, sehingga pikiran, emosi dan tubuh kita menjadi selaras dengan pekerjaan firman dan RohNya; sediakan waktu mendengarkan ulang pengajaran para rasul dan mempraktekannya; mulai hari kita dengan mengalirkan gelora dan sukacita ilahi lewat doa, pujian dan tari-tarian, dan lain-lain… ini adalah beberapa contoh  dalam BERTEKUN.

2. Level air kehidupan dalam diri kita akan semakin diperdalam ketika kita mau memberi diri untuk terus DILATIH dan DI-STRETCH kapasitasnya.
Yehezkiel 47 : 3 Sedang ORANG ITU pergi ke arah timur dan memegang tali pengukur di tangannya, ia MENGUKUR seribu hasta dan MENYURUH AKU masuk dalam air itu, maka DALAMNYA sampai di pergelangan kaki.
Yeh 47:3-5 mencatat pola yang sama, yaitu selalu ada ORANG yang MENGUKUR dan MENYURUH AKU masuk kedalam air dan levelnya semakin NAIK secara progresif. Ini terjadi saat kita “membangun manusia roh” baik secara pribadi maupun korporat.
a. “ORANG ITU” adalah gambaran dari adanya coaching/pelatih yaitu pemimpin rohani, atau Roh Kudus sendiri yang mengarahkan dan mendisiplin diri kita untuk masuk dalam standar ilahi yang Tuhan sudah tetapkan. Orang itu juga bisa berarti diri kita sendiri yang memaksa/mendisiplin diri agar mengikuti instruksi yang diberikan lewat arahan, tuntunan Roh/pemimpin rohani.
Kedisplinan menjadi kata kuncinya karena kecenderungan orang adalah tinggal di zona nyaman, maka dibutuhkan ada pribadi yang memiliki “strong will” untuk menarik kita masuk dalam standar yang Tuhan tetapkan.
b. Kata “MENGUKUR” dari kata ibrani mâdad (baca: maw-dad) yang artinya to measure, to STRETCH, yaitu mengukur, MEREGANGKAN. Apa yang diukur? Posisi standar baru (level) yang akan kita masuki. Apa yang diregangkan? Yang diregang adalah kapasitas rohani kita agar berkembang lebih mendalam dan stamina rohani yang lebih kuat dari sebelumnya. Saat kita diregang dalam membangun manusia roh, maka terjadi pendisiplinan di 3 area sekaligus:
b.1 area pikiran kita – kita dilatih untuk menyingkirkan/ menolak suara-suara sumbang dalam pikiran kita, termasuk tidak mendengarkan suara tubuh kita yang menyuarakan kemalasan untuk bergerak, kelelahan fisik, keluhan usia. Mulailah mendisplin diri mengarahkan pikiran kita pada pekerjaan firman dan Roh yang sedang terjadi, ke frekuensi sorga yang Tuhan sudah lepaskan
b.2 area emosi kita – kita dilatih untuk mengekspresikan pekerjaan firman dan roh yang sedang termanifestasi, lewat gerakan tubuh, teriakan, mimik wajah dan emosi yang ekspresif…misalkan ada dimensi kemenangan yg sedang bekerja, emosi kita pun harus dapat secara lepas mengekspresikan kemenangan yang ada…
b.3 area tubuh kita – tubuh diregang untuk alami pergerakan yang aktif dan agresif, mendesak, melompat, bersorak sorai, kita dilatih untuk mengabaikan suara kepenatan tubuh. Suara “Sudah cukup” diganti dengan “masih bisa lagi!” . Dengan demikian tubuh kita akan semakin kuat dan selalu siap untuk diajak memasuki level yang baru yang Tuhan sediakan.#AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus

Message ini baru akan selesai besok…