Top

12 Maret 2020

2 Samuel 11:1 (TB)  Pada pergantian tahun, PADA WAKTU RAJA-RAJA BIASANYA MAJU BERPERANG, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, SEDANG DAUD SENDIRI TINGGAL DI YERUSALEM.

 

Meresponi maklumat Ilahi yang Tuhan serukan: Yoel 3:9-10 (TB)¬† Maklumkanlah hal ini di antara bangsa-bangsa: BERSIAPLAH UNTUK PEPERANGAN, gerakkanlah para pahlawan; suruhlah semua prajurit tampil dan maju!¬†Tempalah mata bajakmu menjadi pedang dan pisau-pisau pemangkasmu menjadi tombak; baiklah orang yang tidak berdaya berkata: “Aku ini pahlawan!”

 

Roh Kudus memberikan penekanan lebih lanjut: Inilah saatnya untuk setiap orang percaya, setiap hamba Tuhan dapat terus mendisiplin diri menjadi ‘alert‘ – waspada dengan berbagai manuver yang terjadi di dalam alam roh. Kenalilah musim rohani yang sedang berganti ini. Jangan biarkan kesuksesan hidup atau pelayanan, bertumbuhnya kekuatan rohani dalam hidup kita dan hebatnya Tuhan memakai hidup kita dalam pelayanan – itu semua membuat kita berpikir bahwa keberadaan kita boleh mendapatkan pengecualian atau perlakuan istimewa dari umat!

 

Waspadai kecerobohan yang membuat Daud jatuh dalam dosa yang sangat keji: Berzinah, merebut istri orang dan menjadi dalang pembunuhan seorang prajurit Israel yang loyal pada rajanya!

 

Semua itu dimulai dari keteledoran Daud sendiri! Sementara seharusnya para raja pergi berperang, Daud justru memilih untuk tetap tinggal di Yerusalem dan menikmati hidupnya.

 

Ketika sebagai hamba Tuhan kita tidak lagi mendisiplin diri untuk terus memiliki ‘spiritual alertness‘ – kewaspadaan rohani yang bersumber dari kesadaran bahwa kita sudah mati bersama Kristus dan hidup hanya bagi Dia dan penggenapan rencana-Nya, maka semua berkat yang sudah kita nikmati justru akan mulai berbalik menjadi jerat dalam hidup kita sendiri.

 

Sebagai seorang raja, posisi istana Daud biasanya ada di atas bukit sedang tempat pemandian umum (yang biasa dipakai oleh rakyat jelata) justru ada di bagian bawah – ada suatu jarak yang sangat jauh. Tapi Alkitab menuliskan, pada waktu petang, saat orang-orang sedang mandi, Daud bisa melihat keberadaan Batsyeba sebagai sosok wanita yang cantik parasnya (2 Samuel 11:2).

 

Dari fakta rohani tersebut, saya mendapat beberapa kebenaran penting yang harus kita perhatikan atau waspadai:

 

1. Seorang pemimpin yang tidak lagi hidup dalam kematian daging dengan mudah akan memanipulasi jemaat dengan mempergunakan karunia atau kharisma yang selama ini bekerja dalam hidupnya.

 

Daud memiliki ketajaman mata yang luar biasa, itu menjadi sarana yang Tuhan pakai untuk dengan jitu membidik dahi Goliat dan menjatuhkannya hanya dengan satu lemparan batu (1 Samuel 17:48-50). Tapi ketajaman mata yang pernah dipakai Tuhan itulah yang sekarang justru menjadi jerat bagi Daud! Dengan mudah Daud mengenali keelokan paras Batsyeba karena memang matanya sangat awas!

 

Ada peperangan besar yang sedang mendekat; waspadai hidupmu! Pastikan kita terus hidup dalam kematian daging sehingga karunia atau kharisma yang terbangun dalam hidup kita bisa tetap menjadi alat dalam Tangan Tuhan, menjadi senjata kebenaran dan bukan dimanfaatkan Musuh menjadi senjata kelaliman! (Roma 6:13).

 

2. Bagi seorang pemimpin yang hidupnya teledor, tanpa sadar, keinginan hati yang ia miliki (yang tidak lagi tersalib bersama Kristus) akan mendorongnya untuk mulai memanfaatkan posisi yang ia emban guna mewujudkan kepentingan atau keinginan hatinya sendiri serta meminta hak istimewa dari jemaat atau anak rohani yang ia layani.

 

Orang-orang yang menduduki posisi kepemimpinan dan mengkondisikan diri – dengan sengaja ataupun tanpa sadar – untuk dikelilingi oleh para penjilat, sesungguhnya ia sedang menggali sendiri lobang kejatuhannya.

 

Seandainya Daud terus dikelilingi orang-orang yang baik, yang mencintai kebenaran, mereka pasti akan mengingatkan Daud bahwa tindakannya mengingini Batsyeba adalah sebuah dosa besar – walaupun sebagai raja dia memiliki hak untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi sayang, Daud tidak mendapatkan peringatan apa pun – atau bisa juga karena hidupnya sudah dikuasai oleh nafsu berahi atau keinginan daging, maka ia tidak mau mendengarkan nasehat apa pun, dan dari siapa pun!

 

Adalah penting untuk para pemimpin membatasi dirinya sendiri sehingga meskipun ada banyak orang yang mengistimewakan diri kita, bersedia memperlakukan diri kita secara berbeda dan istimewa, tapi dari diri kita sendirilah yang harus terus menetapkan ‘batasan’ bagi diri kita!

 

Ingatlah selalu, Tuhan menempatkan diri kita menjadi seorang pemimpin adalah demi untuk melayani, berkorban bagi umat; bukan sebaliknya, justru meminta dilayani dan diistimewakan oleh umat!

 

Message ini masih akan berlanjut besok.

 

Ps. Steven Agustinus