12 November 2021

( Dapatkan renungan harian Ps. Steven Agustinus dengan meng-klik link berikut ini: https://wa.link/homdvi )

Di dalam Perjanjian Baru, setiap orang percaya disebut sebagai imamat yang rajani (1 Petrus 2:9), yaitu para imam yang hidup dari Kerajaan-Nya. Sebagai Imam, ada berbagai tugas rohani yang harus dilakukan secara rutin setiap harinya, agar hidup kita BERFUNGSI menjadi Bait-Nya di muka bumi ini. Salah satunya adalah kita harus memastikan selalu ada firman di dalam hidup kita, sebagai wujud representasi para imam yang terus mengganti roti sajian setiap hari di Bait Suci.

Kita juga perlu memastikan selalu ada pekerjaan firman dan roh yang berkobar dalam hidup kita setiap hari, sebagai wujud adanya minyak dan kaki dian yang terus menyala di dalam Bait Suci. Dipastikan juga selalu ada doa dan penyembahan yang senantiasa mengalir dalam hidup kita sehari-hari sebagai wujud adanya mezbah ukupan yang menyala-nyala di dalam Bait Suci.

Esensi dari kehidupan seorang imam adalah fokus perhatiannya yang tertuju kepada Tuhan. Di mana ada totalitas melayani Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Mungkin secara lahiriah kita melihat ‘tugas imam’ hanya ‘begitu – begitu saja’, tapi yang begitu – begitu saja tidak semudah yang kita bayangkan. Jika tidak ada hati yang mencintai Tuhan, maka semuanya itu hanya akan menjadi kegiatan agamawi yang melelahkan dan tanpa dampak. Walaupun tetap ada ‘imam – imam’ yang menyukai keagamawiaan, tapi kita bukanlah bagian dari mereka. Kita adalah imam yang berfungsi sebagai bait Roh Kudus-Nya. Di mana dari dalam batin kita, bergelora kehidupan Allah yang memancar dan menjamah kehidupan banyak orang.

Perhatikan, Tuhan sedang mengakhiri era dari para imam yang membawa pola dari ‘imam Eli dan anak – anaknya’. Pelayanan mereka dihentikan oleh tangan Tuhan sendiri. Sebab mereka mengejar ‘kenikmatan hidup, uang, dan memanifestasikan kedagingan yang membuat mereka mengalirkan kematian’ . Namun pada saat yang sama kita akan melihat dan mengalami pekerjaan Tuhan yang sedang membangkitkan generasi Samuel, yang mencintai Tuhan dan hidup hanya dari firman-Nya. Generasi ini akan membawa otoritas kuasa firman-Nya yang tidak bisa dibantah. Mereka akan menyuarakan suara Tuhan dan memerintah atas negeri.

1 Samuel 3:19-21 (VMD)  TUHAN terus bersama Samuel dalam pertumbuhannya menjadi dewasa, dan tidak satu pun dari perkataan-Nya kepada Samuel tidak menjadi kenyataan. Dengan demikian, semua umat Israel, mulai dari Dan sampai Bersyeba, tahu bahwa Samuel sungguh-sungguh nabi TUHAN. Dan TUHAN terus menampakkan diri kepada Samuel di Silo. TUHAN menyatakan diri-Nya kepada Samuel melalui perkataan-Nya.

Saat saya membaca ayat di atas, saya menjadi sangat yakin terhadap KUASA DARI REALITA PENYERTAAN TUHAN dan firman-Nya. Itulah yang membuat kita hidup sebagai pribadi yang terus bertumbuh dan menyatakan jati diri kita yang sesungguhnya di dalam Kristus. Ada posisi rohani, otoritas ilahi, dan kuasa pemerintahan. Itulah kunci pertumbuhan menjadi serupa dengan Kristus, bukan yang lain.

Jika kita bisa terus memastikan setiap hari ada realita hadirat Tuhan yang mencengkeram batin kita dan ada firman yang menjadi bahan perenungan kita, maka kita pasti akan mencapai puncak potensi yang Tuhan tetapkan. Oleh karena itu, realita Tuhan dan firman-Nya harus menjadi fokus perhatikan kita.

1. Terus jagai hati yang lapar dan haus akan kebenaran lebih dari apa pun juga.

Matius 5:6 (TB) Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Ingatlah, hanya itu yang dapat memuaskan batin kita, bukan yang lain. Jadi jangan kejar yang lainnya. Fokus dan tumbuhkan saja hati yang haus dan lapar akan kebenaran. Kalau kita sudah puas, otomatis kita akan menolak apa yang dunia tawarkan. Kita akan bangkit menjadi generasi yang suci hatinya, melihat Dia, dan menjadi serupa dengan Dia (Matius 5:6, 1 Yohanes 3:2-3).

2. Terus jagai kecenderungan hati untuk mengenal DIA dengan BENAR.

Yeremia 9:24 (TB) tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

Yohanes 17:3 (TB)  Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

Filipi 3:10 (FAYH)  Sekarang saya telah melepaskan semua hal lain. Saya sadar bahwa itulah satu-satunya cara untuk mengenal Kristus dengan sungguh-sungguh, untuk mengalami kuasa yang menghidupkan-Nya kembali, serta untuk mengerti apakah artinya menderita dan mati bersama dengan Dia.

Kecenderungan hati kita yang tertuju kepada Dia akan menghantarkan kita mengalami keserupaan dengan Kristus di atas muka bumi ini.

3. Kehausan dan kecenderungan hati kita yang tertuju pada kebenaran harus ditarik untuk mencapai dimensi dan level yang sama seperti Samuel dan Paulus berada. 

Saya jadi semakin sadar, seringkali diri kita tidak lagi berfokus pada hal yang esensi. Banyak kesibukan yang kita jalani ‘atas nama pelayanan atau pekerjaan Tuhan’. Padahal itu hanya menunjukkan keberadaan kita yang sedang tidak berada di ruang takhta Tuhan sebagai tempat atau habitat sejati kita dalam melayani Tuhan.

Perhatikan hal ini, saat kita tidak berfungsi sebagai imam di ruang takhta Allah, maka sesungguhnya kita sedang menjalankan pola kemanusiawiaan imam Eli di bumi ini, yang mana akan diberhentikan oleh tangan Tuhan.

Untuk itu, jadilah generasi Samuel yang melayani Tuhan di ruang takhta-Nya, sehingga tangan Tuhan sendiri yang akan mengangkat kita dan memposisikan kita memerintah atas negeri! Amin!! #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus

__

Dapatkan renungan harian Ps. Steven Agustinus (text, quote & audio) setiap harinya melalui Whatsapp Anda, dengan cara mendaftarkan diri:
Nama, Kota, No Whatsapp
Kirim ke nomor 0888-6132-106

Atau langsung klik link berikut ini: https://wa.link/homdvi