Top

12 September 2018

Saya menyadari bahwa kehidupan ini adalah sebuah ekspresi dari rasa cinta yang saya miliki untuk Tuhan. Tuhan tidak pernah menginginkan saya untuk melakukan apapun juga dengan hati yang terpaksa. Saya percaya pasti orang tua tidak bersukacita ketika melihat anaknya menaati apa yang menjadi arahan/perintah mereka dengan hati yang kesal, mereka berharap si anak dapat melihat dari sudut pandang mereka sehingga si anak dapat mengetahui bahwa tidak pernah ada intention sedikitpun dari sang orang tua untuk ‘menyiksa’ si anak. Hari ini saya menyadari justru setiap arahan dan perintahNya bertujuan untuk membawa saya semakin dipisahkan dari dunia ini dan berbagai pengaruhnya (dan kegoncangannya), sehingga saya dapat bertumbuh semakin dewasa dan semakin matang di dalam Dia dan berfungsi sebagai Imam di Kerajaan secara akurat.
Merenungkan tugas-tugas seorang Imam, saya dibawa Roh Kudus untuk berinteraksi dengan Dia sebagai Sang Raja. Selama ini banyak orang percaya yang hanya ‘mau’ berinteraksi dengan Dia dengan keberadaanNya sebagai Bapa yang baik, yang sangat memahami saya dan terus memberi saya mercy and grace. Tidak salah, tetapi tidak ‘lengkap’ juga. Saya menyadari beberapa tahun lalu ketika saya mulai dibawa untuk mengenal Dia sebagai Sang Raja segala raja, di titik tersebut mulai ‘tercipta’ sebuah ‘keseimbangan’ dalam kehidupan rohani saya. Saya tidak jadi pribadi yang hidup hanya sebagai seorang anak dan terus memandang Dia sebagai Bapa yang baik saja, Ia bukan hanya tempat penghiburan, bukan hanya pemberi mercy & grace, bukan hanya menjadi sumber kekuatan; tetapi dimensi pengenalan akan Tuhan sebagai Sang Raja segala raja membawa saya mulai dapat memposisikan diri dengan akurat ketika berhadapan denganNya. Ketika Dia menyatakan diriNya sebagai Bapa yang baik, saya dibawa Roh Kudus untuk memasuki sebuah level kedekatan dengan Bapa yang membuat saya selalu dipuaskan, dipulihkan, dibuat menjadi pribadi yang semakin utuh karena mendapatkan kasih ilahiNya. Tetapi ketika Dia menyatakan diriNya sebagai Sang Raja segala raja, saya diajar Roh Kudus untuk memposisikan diri dengan hormat dan gentar akan Dia, ada perasaan penuh respek, penuh hormat karena menyadari bahwa saya sedang ada di hadapan Sang Raja. Saya mendapati ada roh takut akan Tuhan yang selalu menyertai keberadaanNya sebagai Sang Raja. Sehingga saya mulai belajar memposisikan diri sebagai seorang hamba untuk mendengar setiap FirmanNya sebagai sebuah hukum dan menaatiNya dengan submission.
Tetapi di saat yang sama, saya juga belajar untuk melihat Dia sebagai Bapa yang baik juga. Jadi, sebagai seorang anak, saya ingin menyukakan hatiNya, dan di saat yang sama, memang hidup akurat (mengerjakan tugas keimamatan) adalah sebuah perintah dari Sang Raja. Tidak boleh ada alasan apapun untuk kita tidak menjalankan tugas keimamatan ini. Kita adalah para imam yang hidup didalam kerajaanNya!

Melalui renungan hari ini, saya menyadari bahwa memang bukanlah suatu pilihan untuk hidup menjalankan tugas keimamatan atau tidak, karena saya sudah Ia pilih untuk menjadi para Imam yang hidup dalam kerajaanNya. Tetapi dalam ketaatan saya untuk menjalankan tugas keimamatan ini, saya mau pastikan ada passion cinta akan Tuhan yang bergelora semakin besar setiap harinya. Sehingga setiap perintah Tuhan tidak akan pernah saya lihat lagi sebagai sebuah tuntutan, apalagi beban. Tetapi saya belajar untuk take delight in His statutes, MENCINTAI perintahNya. Bukan karena saya ‘harus’ lakukan, tetapi karena saya memang mau melakukannya karena saya mencintai Dia.

Saya percaya, melalui tugas keimamatan yang ada, Tuhan ingin menunjukkan kepada dunia suatu pola hidup yang berbeda dibandingkan dengan pola hidup dunia ini. Kehidupan yang tidak ‘dibelenggu’ oleh ketidakpastian, kehidupan yang tidak ‘runtuh’ ketika ada goncangan, tetapi justru jenis kehidupan yang tidak tergoncangkan, kehidupan yang penuh kepastian, dan kehidupan yang penuh dengan realitaNya! Saya percaya ketika saya terus memposisikan diri untuk terus melakukan tugas keimamatan saya secara konsisten, saya akan nikmati realita Tuhan setiap hari, dan orang-orangpun akan mulai dapat melihat bahwa ada kedekatan antara Allah dan umatNya (hal inilah yang membedakan kita dengan orang-orang lain), dan saya berdoa saya dapat terus bertumbuh sampai akhirnya Tuhan akan mulai dapat memakai kehidupan saya untuk menjadi pola ilahi, menjadi tanda dan alamat untuk menyatakan kebaikanNya, kedaulatanNya, kemuliaanNya, kebesaranNya, keperkasaanNya dan keberadaan diriNya seutuhnya!

Saya berdoa, Roh Kudus, terus bawa aku bertumbuh dalam keakuratan, bawa aku untuk dapat terus hidup dalam ketaatan mutlak, ketaatan yang penuh sukacita dan passion untuk menyenangkan Dia! Terjadilah di dalam nama Yesus, Amin! #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus