Top

12 September 2019

Sekian waktu lamanya hidup kita dipimpin oleh diri sendiri, uang, dan dunia. Kita melakukan sesuatu (beraktivitas, bekerja, dll) dikarenakan adanya “kebutuhan” hidup, keinginan hati, dan tekanan atau desakan dari situasi dan keadaan. Walaupun akhirnya kita “sukses”, namun kita tidak mengalami penyertaan Tuhan seperti yang kita baca dalam Alkitab. Hidup kita “biasa – biasa saja” seperti orang lain pada umumnya. Tidak banyak mukjizat, tidak ada perkara besar, dan tidak ada hal yang ilahi terjadi dalam hidup kita sehari – hari. Semua tanpa sadar kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri. Padahal ketika seseorang berinteraksi dengan realitaNya dan FirmanNya, dari sejak itulah perbuatan Tuhan yang gagah perkasa menyertai dirinya.

 

Sebut saja Abraham, Musa, Yosua, Gideon, Samuel, Daud, Elia, Elisa, dll. Cerita hidup mereka seolah “kisah dongeng belaka” yang hanya untuk dibaca bukan untuk dialami! Padahal Tuhan mau kita mengalami hal yang sama bahkan jauh lebih besar. Mereka saja yang “masih banyak kelemahan” dipakai Tuhan dengan dahsyat, masakan kita yang mau senantiasa hidup akurat dan melakukan apa yang benar tidak mengalami hal tersebut sedikitpun?

 

Inilah waktunya kita berjalan dalam iman yang agresif dan duniaNya Tuhan. Sehingga mukjizat bukan lagi hal yang “mengagetkan” bagi kita, melainkan hal yang wajar terjadi dalam hidup kita sehari – hari. Pertanyaannya, maukah kita meminta hal tersebut? Atau masih banyak logika manusiawi yang membuat kita tidak mau hidup dalam keberanian iman?

 

Sudah terlalu lama hidup kita sehari – hari hanya “begitu – begitu saja”. Berjalan seturut dengan rutinitas “mencari kebutuhan dan kenyamanan hidup” tanpa persekutuan yang hidup dengan Tuhan. Tapi sekaranglah waktunya kehidupan sehari – hari kita berubah total. Kita menjadi pribadi yang hidup hanya dari firmanNya. Menjalani kehidupan sehari – hari seturut dengan perkataanNya. Sehingga ada takaran iman yang menjadi patokan kehidupan.

 

Kita tidak mengejar kesuksesan orang lain, dan tidak hidup di luar rencana Tuhan. Melainkan hidup seturut kehendakNya! Sehingga ketaatan terhadap firmanNya akan menghantarkan kita selalu berada dalam pusat kehendak Tuhan yang sempurna. Tapi tidak ada cara lain untuk hidup seturut firmanNya, hanya melalui proses pembaharuan akal budi.

 

Roma 12:1-2 (TB) Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

 

Inilah proses cetakan ilahi oleh pekerjaan Roh dan Firman yang membuat dasar keyakinan, sikap hati, dan gaya hidup kita diselaraskan oleh kebenaran. Meluangkan waktu untuk membaca firman dan mendeklarasikannya serta menggali lebih dalam sampai kita paham akan mengkondisikan panca indera rohani kita menjadi “sensitif” terhadap suaraNya. Itulah yang membuat frekuensi rohani (kecenderungan hati) kita “terputus” dari dunia ini lalu terkoneksi dengan ruang takhta Allah. Sehingga kita mulai menerima firman yang keluar dari mulut Allah! Kita menerima jati diri dan fungsi kita yang sejati di dalam KerajaanNya yang tidak tergoncangkan! Kita berada dalam pusat kehendak Tuhan yang sempurna (hidup dalam duniaNya Tuhan)

 

Saat kita mulai hidup dalam jati diri kita yang sejati (takaran iman – Rom 12:3) dan memainkan fungsi kita sebagai anggota tubuh Kristus. Maka pada saat itulah kita akan mengalami penyertaan Tuhan yang sangat nyata. Hidup kita akan dibedakan oleh Tuhan. Mujizat, tanda – tanda heran, keajaibanNya, dan pemeliharaanNya yang sempurna akan kita alami dalam hidup kita sehari – hari. Pendek kata, Tuhan akan menjadikan kita menjadi ‘tanda dan alamat’, dan menjadi saksi bahwa Tuhan itu ada dan Dia masih terus bekerja! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus