Top

13 September 2018

Di dalam Perjanjian Baru, setiap orang percaya disebut sebagai imamat yang rajani (1 Pet 2:9), yaitu: para imam yang hidup dari KerajaanNya. Sebagai Imam, ada berbagai tugas rohani yang harus dilakukan secara rutin setiap hari, agar hidup kita BERFUNGSI menjadi Bait-Nya di muka bumi ini, seperti: kita harus memastikan selalu ada firman di dalam hidup kita, ini sebagai wujud representasi para imam yang terus mengganti roti sajian setiap hari di Bait Suci. Kita juga perlu memastikan selalu ada pekerjaan firman dan roh yang berkobar dalam hidup kita setiap hari, sebagai wujud adanya minyak dan kaki dian yang terus menyala di dalam Bait Suci. Dipastikan juga selalu ada doa dan penyembahan yang senantiasa mengalir dalam hidup kita sehari-hari sebagai wujud adanya mezbah ukupan yang menyala-nyala di dalam Bait Suci.
Untuk melakukan tugas keimamatan di atas tentu diperlukan penyelarasan dengan aktivitas sehari-hari kita. Tanpa kita bertekun menyelaraskan aktivitas harian kita dengan pola ilahi ini, akan sulit bagi kita melakukan tugas keimamatan dengan setia. Karena akan selalu ada banyak distraction (pengalihan fokus) dan pekerjaan musuh lainnya yang akan menarik kita untuk tidak melakukan rutinitas keimamatan kita.
Ketika Tuhan menggerakkan Musa dan Harun untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, Musa harus menghadap Firaun untuk menyatakan apa yang menjadi kerinduan hati Tuhan: yaitu melepaskan umat Israel pergi untuk beribadah kepada Tuhan. Firaun mengeraskan hati dan menolak perintah Tuhan ini, dan malahan memberikan beban yang lebih berat membuat batu bata dengan kuota yang sama namun tanpa diberi bahan baku material alias mereka harus mencari sendiri. (Kel 5:5-8)

Keluaran 5 : 9 Pekerjaan orang-orang ini HARUS DIPERBERAT, sehingga mereka TERIKAT KEPADA PEKERJAANNYA dan jangan mempedulikan PERKATAAN DUSTA.”

Saya mendapati beginilah pola kerja roh-roh dunia untuk selalu menekan orang percaya agar semakin TERIKAT DENGAN PEKERJAANNYA atau RUTINITAS AKTIVITAS SEHARI-HARI sehingga TIDAK PUNYA WAKTU dan ENERGI YANG CUKUP untuk beribadah dan melakukan tugas keimamatannya.
Saya mendapati kendala orang di perkotaan seringkali adalah ‘terlalu sibuk”
Pertanyaannya bagaimanakah caranya jika kita “tidak punya waktu” atau “energi” untuk melakukan rutinitas keimamatan itu?

1. Setting pikiran kita bahwa kita sudah mati bagi dosa dan hidup hanya bagi Allah (Roma 6 : 11)

Dosa, tekanan roh-roh dunia, berbagai keinginan daging dan keduniawian bukan lagi majikan kita. Setting pikiran kita dgn memperkatakan dan mengimajinasikan dengan jelas: tidak ada lagi belenggu pekerjaan, belenggu rutinitas, belenggu kemalasan, belenggu ketidakakuratan lainnya, dan lain-lain yang dapat menghalangi kita untuk beribadah kepada Allah! Sekarang kita sudah HIDUP BAGI ALLAH. Dia adalah Tuhan, majikan kita sekarang. Lakukan deklarasi dengan tekun sampai kita alami ada perasaan kebebasan dan kemerdekaan muncul dari dalam batin kita.

2. Tanamkan dalam logika berpikir kita urutan prioritas yang benar di dalam hidup kita: Tuhan adalah prioritas yang pertama dalam hidup kita.

Kehidupan kita sehari-hari tidaklah akan berubah begitu saja tanpa kita mensetting prioritas yang benar. Prioritas selalu akan mendasari aktivitas kita. Berbagai aktivitas yg kita lakukan secara rutin lama kelamaan akan membentuk kebiasaan-kebiasaan kita.
Untuk merubah prioritas kita, kembali kita perlu melakukan setting ulang pikiran kita, bahwa memprioritaskan Tuhan harus menjadi urutan yang nomor satu dalam kita sehari-hari. Tanpa kita berhasil mensetting prioritas ini, maka kita pasti akan cenderung kembali mengikuti kebiasaan lama.
Namun ketika kita berhasil mensetting Tuhan menjadi prioritas yang pertama maka melakukan tugas keimamatan bukan lagi kendala, tapi akan dapat kita lakukan dengan setia dan antusias.

3. Ambil keputusan dan bulatkan tekad untuk membongkar kebiasaan yang lama dan mulai membangun kebiasaan yang baru

Melakukan tugas keimamatan tentu membutuhkan waktu yang cukup,
Saya mendapati waktu yang ideal adalah pagi hari, di saat kita belum disibukkan oleh apapun dan siapapun. Saya juga percaya dengan kita menerima pekerjaan firman dan roh di pagi hari serta alami adanya cengkeraman realita hadiratNya, maka dapat dipastikan sepanjang hari itu kondisi kita akan siap sedia menghadapi situasi apapun dengan posisi yang berkemenangan.
Jika kita memiliki kebiasaan suka tidur sampai larut malam, inilah saat yang baik untuk membongkar kebiasaan-kebiasaan itu. Tatalah waktu untuk tidur lebih awal, agar besok bisa bangun lebih pagi.
Cek pula jika ada kebiasaan yang tidak berfaedah, yang tanpa sadar justru menyita waktu, mulai bongkar hal tersebut, agar kita punya waktu yang cukup lama dalam bersekutu denganNya.

Lukas 16 : 10 Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar

Saya percaya dengan kita belajar melatih membongkar kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak akurat dan diganti dengan kebiasaan baru yang membangun, pasti akan menciptakan serentetan perubahan hidup menuju progress kemajuan yang nyata. Pastikan ada tekad yang kuat, sehingga kita tidak kendor dalam membangun kebiasaan yang baru. Amin #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus