Top

14 April 2020

 

Saya merasa di dalam roh bahwa pergerakan gereja Tuhan di Indonesia sedang mengalami suatu akselerasi yang baru, sedang memasuki musim rohani yang baru karena terjadinya aktivitas firman dan Roh dalam kehidupan beberapa pemimpin kunci. Sekali lagi Tuhan sedang membawa gereja-Nya untuk hidup di dalam Dia.

 

Efesus 1:11 “Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan — kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya…

 

1. ‘Di Dalam Kristus’ adalah sebuah ungkapan yang Paulus pakai untuk menggambarkan suatu dimensi rohani atau posisi rohani yang seharusnya ditempati oleh setiap orang percaya.

 

Selama sekian waktu lamanya, kondisi gereja Tuhan di Indonesia sudah sama seperti tumpukan tulang kering yang berserakkan (Yehezkiel 37:1-14) – banyak jemaat atau pemimpin yang kehilangan suara Tuhan dan terjebak dalam kehidupan babel (duniawi).

 

Penyebabnya tidak lain karena sebelumnya ada banyak jemaat atau para pemimpin yang tanpa sadar justru berupaya untuk menghadirkan realita Tuhan dengan cara-cara yang manusiawi. Sama seperti saat Daud berupaya untuk membawa masuk tabut perjanjian ke Yerusalem dengan cara-cara yang orang Filistin lakukan: menggunakan kereta, maka justru kematianlah yang datang (2 Samuel 6:1-8).

 

Kematian rohani yang sama juga sedang melanda banyak gereja. Tidak ada lagi realita hadirat Tuhan dalam ibadah-ibadah yang diadakan. Justru kesuaman rohani, rutinitas dan hanya sekedar kehebohan lahiriahlah yang sekarang banyak dijumpai di gereja-gereja. Terkadang pemimpin jemaat banyak mengundang para publik figur ke ibadah-ibadah yang ada demi hanya untuk mempertahankan jumlah kehadiran jemaat.

 

Dalam anugerah-Nya, Tuhan berkenan menjamah beberapa pemimpin kunci yang hatinya terus mencari realita Tuhan dan kembali memberikan kepada mereka firman-Nya. Dari firman yang bekerja, terjadilah aktivasi pekerjaan Roh yang membawa kehidupan pribadi para pemimpin kunci tersebut mengalami perubahan. Kehidupan mereka mulai kembali ditarik untuk ‘memasuki dimensi keilahian’, dibawa untuk kembali tinggal ‘di dalam Dia’. Melalui para pemimpin kunci inilah keberadaan gereja-gereja juga mulai mengalami terobosan. Gereja kembali dibawa mengalami perubahan posisi rohani – dibawa tinggal ‘di dalam Dia’.

 

2. Saat gereja ada ‘di dalam Dia’, gereja Tuhan sebagai suatu institusi kerohanian maupun individu orang percaya akan mulai menikmati apa yang menjadi porsi mereka yang memang sudah Bapa sediakan jauh sebelum dunia ini ada.

 

Alasan terjadinya kekosongan, berbagai konflik serta kekalahan dalam kehidupan gereja maupun individu orang percaya karena mereka ‘terpotong’, terbuang dari posisi atau dimensi rohani yang bernama ‘di dalam Kristus’. Tapi dengan gereja maupun individu orang percaya kembali dibawa masuk dan hidup ‘di dalam Kristus’, otomatis mereka akan kembali menikmati berbagai limpahan anugerah yang memang dibutuhkan untuk selalu hidup berkemenangan, mengalami terobosan serta dilingkupi oleh realita Tuhan.

 

Sama seperti tanaman yang selama ini kering karena tidak pernah disiram air dan tiba-tiba ada siraman air yang dinikmatinya secara berkesinambungan, sehingga kembali membuat tanaman tersebut menghijau dan bertumbuh sehat. Seperti itulah kondisi gereja dan individu orang percaya. Tuhan kembali berkenan melawat umat-Nya dan memposisikan mereka untuk dapat Ia promosikan jauh lebih tinggi dari antara segala bangsa, dibangkitkan menjadi orang – orang yang berpengaruh, terpandang dan disegani.

 

Saya melihat bagaimana Tuhan sedang terus melepaskan pekerjaan firman dan Roh melalui kehidupan para pemimpin yang memang haus dan lapar akan realita-Nya. Lalu mengubahkan kondisi gereja-gereja dan individu orang percaya yang awalnya sudah sama seperti tulang-tulang kering yang berserakan menjadi suatu tentara Tuhan yang hidup dan perkasa. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus