14 Desember 2020

Pagi ini Roh Kudus kembali memberikan penegasan kepada saya, di mana hal ini merupakan kelanjutan dari apa yang Ia sampaikan tentang pertobatan yang sejati.

 

Roh Kudus berkata: Ketika seseorang bertobat, menyadari akan kesalahan atau ketidakakuratan hidup yang selama ini ia jalani dan betul-betul berniat untuk berubah, maka bukan berarti dia bisa begitu saja ‘menghapuskan’ konsekuensi yang memang harus ia hadapi. Terkadang dalam beberapa kasus ketidakakuaratan atau kesalahan yang seseorang lakukan saat memunculkan suatu konsekuensi negatif tertentu dalam hidupnya, sama sekali tidak sampai membawa dampak yang signifikan kepada orang-orang lain. Paling hanya membuat orang yang bersangkutan harus melakukan ‘sedikit peperangan rohani’ untuk menghalau Musuh yang pastinya berusaha menerobos masuk ke dalam hidupnya dan menciptakan ‘kekacauan’.

 

Sementara pada banyak kasus lain yang disebabkan oleh karena wujud ketidakakuratan atau kesalahan yang seseorang lakukan, bahkan melibatkan serta mempengaruhi secara langsung keberadaan beberapa atau banyak orang, maka secara otomatis kesalahan yang orang lakukan tersebut akan secara langsung mempengaruhi orang-orang banyak yang ada.

 

Di sinilah dituntut pertanggungjawaban dari orang yang bersangkutan untuk membenahi kembali kekacauan ataupun kerugian yang ia timbulkan terhadap orang-orang tersebut. Menghadapi permasalahan yang melibatkan banyak orang memang tidaklah semudah menyelesaikan kesalahan tunggal yang sama sekali tidak berkaitan dengan orang lain.

 

Dalam kesalahan tunggal yang dilakukan oleh seseorang, karena sama sekali tidak melibatkan pihak lain, maka orang yang bersangkutan hanya perlu memaafkan dirinya sendiri dan mengubah kebiasaan salahnya. Dengan demikian semua permasalahan akan selesai dengan sendirinya.

 

Namun jika mulai melibatkan beberapa orang maka tidaklah adil jika kita mengharapkan orang-orang tersebut dengan ‘besar hati’ bisa begitu saja melupakan kesalahan yang kita lakukan. Jikalau pun mereka ‘mau melupakan’ kesalahan kita, yang akhirnya menyebabkan mereka alami kerugian (dalam bentuk apa pun – waktu, nama baik, uang atau suatu bentuk properti tertentu lainnya), maka biasanya hal tersebut justru akan memupuk bertumbuhnya mentalitas yang salah dalam diri kita. Kita jadi tidak belajar menghargai pengorbanan orang lain, bahkan akan muncul kecenderungan untuk kita jadi malah terbiasa mengorbankan orang-orang lain.!

 

Hal yang harus kita tanam dalam diri kita adalah konsekuensi seburuk apa pun harus dihadapi! Perbedaan yang akan orang alami ketika menghadapi suatu konsekuensi negatif dengan pertobatan adalah adanya penyertaan Tuhan yang akan selalu menguatkan hidupnya. Sekaligus pada saat yang sama akan memberikan kepadanya kemampuan untuk juga menaburkan benih kebenaran. Sehingga di saat ia selesai ‘menuai’ semua konsekuensi negatif dari kesalahan masa lalunya, maka ia pun bisa segera menuai kehidupan penuh dengan sorak sorai!

 

Bagaimanapun juga, setiap taburan pasti akan menghasilkan tuaian! Jika seseorang mengeraskan hati dan terus melakukan kesalahan atau ketidakakuratan dalam hidupnya, maka ia pun akan menuai berbagai konsekuensi negatif tersebut. Ia akan menjalani konsekuensinya dengan sendirian, tanpa penyertaan Tuhan dalam hidupnya!

 

Karena itu renungkan dalam-dalam beberapa ayat firman berikut ini:

 

Galatia 6:7-8 (TB) Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

 

Mazmur 126:5-6 (TB) Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

 

#AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus