Top

14 Juli 2018

Memperkatakan firman butuh ketekunan dan kekonsistenan. Apalagi jika kita melihat fakta negatif yang tak kunjung alami perubahan, bahkan seolah bertambah parah! Biasanya hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal, ada dua hal yang saya tuliskan sebagai hal yang saya dapati dan cukup penting untuk diperhatikan:

1. Mungkin saja memang benar kita tidak tekun dan konsisten.

Kita hanya ingin memperkatakan sekali saja, lalu ingin semuanya berubah. Tentunya kita semua menginginkan hal tersebut. Tapi sayang, seringkali Tuhan tidak mengijinkan hal tersebut untuk satu tujuan, yaitu membuang kemalasan kita dan membangun ketekunan. Karena ketekunan adalah sikap yang harus kita miliki untuk alami pertumbuhan dalam segala aspek, juga peningkatan posisi rohani. Kemalasan adalah sikap hati yang tidak akurat. Jika ketidak akuratan masih bercokol di hati kita, maka akan ada banyak dimensi roh jahat lainnya yang akan bergabung bersama.

Alhasil prinsip berkata – kata akan senantiasa dipakai untuk mengejar ambisi pribadi, memuaskan keinginan daging, dan mengejar kekayaan. Tapi jika sedari awal kita sudah niat hati untuk mau bertekun memperkatakan sampai perubahan terjadi, maka berbagai dimensi ilahi yang kita butuhkan untuk bertumbuh semakin serupa dengan Kristus akan berdatangan masuk ke dalam diri kita. Alhasil otoritas kuasa ilahi dan posisi rohani jadi terus bertumbuh dalam diri kita. Saat itulah apa saja yang kita katakan akan menciptakan perubahan yang drastis dan dramatis!

Jadi kita perlu memahami, saat kita bertekun memperkatakan firman, sesungguhnya awal mula yang harus berubah bukanlah fakta negatif, masalah, atau tantangan yang sedang kita hadapi, melainkan diri kita terlebih dahulu!! Saat kita telah berubah (sikap hati akurat, dasar keyakinan akurat, gaya hidup akurat) maka otomatis perubahan pasti terjadi. Kita akan mengalami segala sesuatu yang terjadi pasti mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia!

2. Mungkin kita tidak memperkatakan firman dengan sungguh – sungguh!

Maksudnya hanya sekedarnya saja yang penting sudah melakukan. Hal Ini berarti menandakan, bahwa diri kita tidak mau melihat ada perubahan yang terjadi dengan cara yang ilahi. Kita masih menganggap memperkatakan firman merupakan jalan alternatif pilihan saja. Boleh iya atau tidak! Dan kita sudah mempunyai banyak planning a,b,c,d,e,f, dll. Dengan satu tujuan, jika memperkatakan firman tidak menghasilkan apapun, maka ada alternatif lainnya sebagai cara yang lebih jitu.

Biasanya agar lebih terlihat ilahi kita menyebutnya dengan “strategi rohani”. Padahal kita tahu di dalam hati kita, itu bukan sesuatu yang kita dengar dari Tuhan, melainkan inisiatif kita sendiri untuk beroleh solusi yang cepat. Alhasil, apa yang kita anggap itu lurus, tapi menjerumuskan kita ke dalam lembah kehancuran.

Dari dua hal tersebut saya menyadari, hidup dalam otoritas kuasa seperti itu (apa yang kita katakan dibuat Tuhan terjadi) memang hal yang Tuhan inginkan kita alami. Tapi Ia mau memastikan kita bertekun, mati dari ambisi pribadi dan memiliki kecenderungan hati yang lurus, dan juga memiliki dasar keyakinan yang tidak tergoyahkan; bahwa firman Tuhan adalah jawaban satu – satunya dan tidak ada alternatif lainnya. Dengan demikian kita akan alami kuasa perkataan firman sanggup memindahkan gunung, membuka langit, membelah lautan, dan berbagai hal besar lainnya!! #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus