Top

14 Juni 2019

Ketika merenungkan Firman di 1 Tim 6:12, saya menerima pengertian bahwa sesungguhnya dalam perjalanan iman ini, ada sebuah tanggung jawab yang kita terima di momen kita mengambil keputusan untuk mengikut Yesus. Di momen itu kita mengakui dengan mulut kita bahwa kita mempercayai Yesus dan menerima Yesus sebagai Juruselamat dalam hidup kita, dan sejak saat itu kita disebut dan dikenal sebagai “orang Kristen” atau pengikut Kristus, pengikut jalan Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan ikrar yang telah kita ikrarkan di hadapan banyak saksi.

 

Dalam pertandingan iman yang ada sesungguhnya fokus hidup kita yang paling penting adalah untuk menghidupi kehidupan yang akurat. Salah satu manifestasi dari kehidupan yang akurat adalah selalu memiliki respon yang ilahi di dalam situasi apa pun juga yang kita hadapi. Untuk meresponi segala hal baik dan indah secara positif adalah sesuatu yang mudah dilakukan oleh semua orang. Tetapi untuk menjadi pribadi yang selalu meresponi dengan positif ketika segala sesuatu justru sedang runyam dan kacau balau, itu adalah sesuatu yang ilahi.

 

Ketika merenungkan hal ini lebih lanjut, Roh Kudus membawa saya menyadari bahwa ketika kita menghadapi peristiwa negatif  atau  diperhadapkan dengan fakta dan data negatif, sesungguhnya itu adalah kesempatan yang Tuhan beri bagi kita untuk berpartner denganNya dalam rangka menunjukkan jalan hidup yang berbeda, jalan hidup di standar yang lebih tinggi; inilah momen di mana kita betul-betul menghidupi jati diri kita sebagai terang dunia dan garam dunia.

 

Seketika Roh Kudus mengingatkan saya bahwa dengan sangat rindu, seluruh makhluk sedang menanti-nantikan saatnya anak-anak Allah dinyatakan (Rm 8:19). Ketika saya mengimajinasikan dan merenungkan hal ini, saya mengajukan pertanyaan kepada Tuhan, “Mengapa mereka begitu rindu menanti-nantikan anak-anak Allah dinyatakan? Apa yang mereka rindukan?” Saya menemukan jawabannya di ayat berikutnya, karena dunia sedang ada dalam cengkeraman dosa, dan mereka merindukan kemerdekaan dari perbudakan dosa dan kebinasaan. Mereka merindukan untuk dapat masuk dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Rm 8:20).

 

Roh Kudus mengingatkan saya Firman berikutnya, Kristus di dalam kita adalah pengharapan akan kemuliaan (Kolose 1:27). Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki Roh Kristus! Itu sebabnya keberadaan kita di dunia adalah sebagai pengharapan akan kemuliaan. Karena keberadaan Yesus Kristus, kita memiliki pengharapan; demikian juga, karena keberadaan kita, dunia ini memiliki pengharapan (karena Roh Kristus ada di dalam kita)! Keberadaan kita di dunia yang sedang diperbudak oleh dosa menjadi sebuah pengharapan untuk merdeka, karena di mana ada Roh Kristus, di situ ada kemerdekaan (2 Kor 3:17, Gal 5:1). Ketika saya melanjutkan untuk membaca dan menelaah Firman di Roma 8, saya menerima sebuah penyingkapan yang baru ketika membaca ayat Firman di Roma 8:28.

 

Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

 

Selama ini, saya selalu melihat makna dari ayat Firman ini dari sudut pandang untuk diri saya. Bagian “mereka yang mengasihi Dia” selalu saya lihat sebagai keberadaan saya yang mengasihi Tuhan. Tetapi hari ini, Roh Kudus menyadarkan saya bahwa bagian “mereka yang mengasihi Dia” juga berlaku bagi setiap orang yang mengasihi Tuhan. Tiba-tiba mata saya terbuka untuk melihat bahwa ada banyak orang yang sesungguhnya mengasihi Tuhan namun masih ada berbagai tipu daya musuh yang membutakan mereka dari kebenaran.

 

Ada orang-orang yang mengasihi Tuhan namun belum diperlengkapi untuk selalu melakukan apa yang benar, mereka belum terlatih untuk menjadi pribadi yang tidak tergoncangkan yang berdiri di atas Firman. Mereka belum membangun hidupnya untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (Ef 6:11-18). Mereka belum terlatih untuk mengambil keputusan yang akurat kapanpun ada fakta atau data negatif yang mereka hadapi, mereka masih menjadi korban dari hari yang jahat dan masa yang sukar (Ef 5:16, 2 Tim 3:1). Sehingga dengan berbagai daya dan upaya mereka, mereka mencoba menghadapi hari yang jahat tersebut dengan berbagai solusi duniawi (solusi yang pasti bersifat sementara, dan biasanya selalu memiliki ekses negatif).

 

Roh Kudus memberi saya pengertian bahwa ketika kita menghadapi situasi dan kondisi yang negatif, justru jangan gunakan solusi duniawi. Jangan tiru apa yang dilakukan dunia, jangan belajar dari dunia. Karena sesungguhnya, merekalah yang sedang menanti-nantikan kita untuk memberi contoh! Sebagai anak-anakNya yang menerima karunia sulung Roh (Rm 8:23), kehidupan yang kita jalani seharusnya menjadi kehidupan yang memberi teladan bagi dunia, menunjukkan bahwa ada solusi ilahi untuk segala permasalahan.

 

Solusi yang bersifat permanen, tanpa ekses negatif! Solusi yang datang langsung dari ruang tahta Allah. Saya tersadar bahwa ini saatnya saya betul-betul berhenti mencari solusi dari dunia ini, bahkan berhenti menjadikan solusi dunia ini sebagai ‘plan B’ dengan pemikiran kalau-kalau solusi ilahi gagal. Karena ketika saya melakukan segala sesuatu sama seperti bagaimana orang-orang di dunia hidup, sesungguhnya saya sedang gagal menghidupi keberadaan saya sebagai anakNya. Padahal saya tidak berasal dari dunia, tetapi dari kebenaran. Sudah sewajarnya, saya tidak hidup sama seperti dunia. Seharusnya keberadaan kita sebagai anak-anak Kerajaan dengan terus berjalan di jalan-jalan Tuhan.

 

Saya percaya, ketika kita dengan aktif terus bergantung kepada Tuhan, berketetapan untuk menghadapi segala permasalahan atau tantangan yang ada dengan solusi ilahi, di saat itulah kita sedang menjadi terang bagi dunia yang gelap ini, sama seperti Yesus telah menjadi terang bagi dunia ketika Ia berada di dunia (Mat 5:14, Yoh 9:5). Kita adalah representasiNya di bumi ini, yang sudah seharusnya merepresentasikan kehidupan anak-anak Kerajaan yang bercahaya seperti matahari di Kerajaan Bapa, menuntun banyak orang untuk berjalan dalam kebenaran (Mat 13:43, Dan 12:3).

 

Jadi, saya percaya, bahwa ketika kita diizinkan Tuhan untuk menghadapi fakta atau data negatif, masalah, tantangan apa pun juga, sesungguhnya hal itu bukan hanya mendatangkan kebaikan bagi diri kita sendiri saja; tetapi segala sesuatu yang terjadi itu juga sedang mengerjakan hal-hal ilahi yang mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia yang masih sedang terbelenggu oleh tipu daya musuh.

 

Sekarang saya paham logika ilahinya, bersukacitalah dalam segala hal! Karena bahkan ketika menghadapi situasi buruk, selain keberadaan diri saya yang sedang terus semakin diselaraskan dengan kebenaran, sesungguhnya saya juga sedang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi alat yang semakin tajam di tanganNya untuk bangkit menjadi teladan, menyatakan kebenaran dan membebaskan mereka yang terbelenggu! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus