Top

14 November 2018

Saya yakin, sebagai ciptaaan baru keinginan kita adalah menyenangkan hatiNya dan hidup memperkenan hatiNya. Namun masalahnya, kehidupan kita selalu ada saja tantangan yang harus dihadapi. Mungkin saja kita sudah berupaya menjaga hidup dan hati agar tetap akurat, tapi faktanya kita sedang berada di tengah dunia yang bengkok. Ada saja kondisi, situasi, serta keadaan dan juga orang – orang yang menjadi “pencobaan dan ujian” bagi kita. Disitulah biasanya kita “gagal” mempertahankan kehidupan yang memperkenan Tuhan. Sikap hati kita masih sering salah, emosi negatif masih muncul, dan tindakan kita memanifestasikan kedagingan.
Dari kondisi itu saya sungguh belajar, masalahnya bukan pada hal eksternal, tapi internal. Yaitu diri kita sendiri yang masih mempertahankan hak untuk dihormati, dihargai, dimengerti, dan lain-lain. Pendek kata, kita masih belum utuh menerima fakta rohani bahwa kita sesungguhnya sudah mati bagi dosa. Alhasil kita menjadi terganggu dengan segala perubahan yang berasal dari faktor eskternal (kondisi, situasi, keadaan, orang) Kadar terganggunya memang berbeda – beda pada tiap orang. Ada yang sangat terganggu sehingga bereaksi. Ada yang sedikit terganggu dan meresponi dengan ilahi. Tapi pastinya Tuhan menghendaki kita tidak terganggu dan tetap tenang walaupun sekeliling kita terus alami perubahan.
Saya sungguh sangat terinspirasi dan mau hidup sama seperti Yesus hidup di atas bumi ini. Ia mengalami apa yang kita alami sebagai manusia di atas bumi. Ia berinteraksi dengan sesama, dan menghadapi realita hidup sehari – hari. Tapi beda kita dengan Yesus adalah: Dia selalu meresponi dengan cara yang ilahi. Jadi apa yang orang anggap sebagai masalah, menjadi tidak ada masalah bagi Yesus. Contoh, ia tau dengan pasti bahwa Yudas akan mengkhianatinya dan Petrus akan menyangkal Dia! Tapi Yesus tidak terganggu, tidak membenci, dan tidak bereaksi negatif. Melainkan tetap tenang menghadapi segala sesuatu agar tetap berada dalam rencana Bapa. Ada lagi ketika Yesus dan murid – murid diombang ambingkan oleh badai di atas kapal. TidurNya tidak terganggu dan tetap pulas. Ia tidak terusik oleh badai! Jika tidak dibangunkan oleh murid – muridNya mungkin saja Yesus akan terus tidur! Namun Yesus bangun dan menghardik badai itu, dan seketika segalanya menjadi tenang! Ada banyak hal yang menjadi contoh ketika Ia berinteraksi dengan orang dan keadaan. Semuanya sempurna, semuanya Ilahi! Kita melihat sosok pribadi yang tenang dan percaya penuh bahwa segala sesuatu ada dalam kendali Bapa. Tidak tercium sedikitpun aroma kekhawatiran, ketakutan serta kecemasan! Yesus menjalani kehidupanNya sebagai pribadi yang tidak tergoncangkan!

Saya mau memastikan, terus hidup dalam kematian daging dan penyerahan hak! Ini adalah jati diri saya! Saya adalah orang yang telah mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah (Rom 6:11) Jadi tiap kali keinginan untuk dihormati, dihargai, dan dimengerti itu muncul (sumber kegoncangan, cinta diri sendiri, uang, dan dunia) maka saya hanya perlu menyadarkan diri saya, bahwa saya sudah mati!! Namun saya hidup hanya bagi Allah!! Saya percaya penuh bahwa segala sesuatu ada dalam kendali Tuhan. Saya tidak perlu berupaya “memegang kendali”! Jika saya yang pegang, maka saya pun bergoncang! Sebab saya mengandalkan kekuatan diri saya sendiri. Tapi saya harus tetap percaya kepadaNya yang memegang kendali. Seburuk apapun situasinya, itu semua ada dalam kendali Tuhan dan pasti mendatangkan kebaikan bagi kita. Semuanya akan diarahkan dan diatur oleh Tuhan agar seturut rencana damai sejahteraNya atas kita!
Saya tidak perlu lagi kaget/panik/cemas/khawatir dengan perubahan orang dan kondisi. Sebab kekhawatiran tidak akan pernah mengubah keadaan. Hanya kehidupan ilahi yang sanggup mengubahkan. Kehidupan hanya dapat dialirkan ketika saya mati dari keinginan mengendalikan keadaan dan memberikan itu kepada Tuhan yang sanggup melakukannya! Tidak ada lagi tarik menarik antara keinginan saya dengan Tuhan. Bagi saya hanya mati dan melepaskan hak. Inilah yang membuat kehidupan menjadi limpah dan bergelora dalam batin saya! Dimana ada kematian daging dan penyerahan hak, disanalah ada kemuliaan yg tercurah. Disinilah kita bisa menyadari, bahwa yang terpenting dalam hidup ini adalah realitaNya yang menyertai! Dan tidak ada cara lain, kematian daging dan penyerahan hak harus kita praktekkan setiap hari untuk alami realitaNya yang semakin kuat. Karena itu adalah ciri dari jati diri kita yang adalah ciptaan baru. Bukan berarti kita jadi menyerah pada fakta negatif atau orang – orang yang tidak kunjung berubah, melainkan keberadaan mereka itu tidak bisa lagi menggoyahkan dan mengkhawatirkan kita sebagai orang percaya! Kita tau dengan pasti bahwa semuanya aman terkendali dalam tangan Tuhan. Jadi manifestasi keyakinan itu adalah keceriaan, sukacita, sorak sorai dalam hidup sehari – hari. Dan keyakinan/percaya/beriman bahwa segala yang ada dalam kendali Tuhan pasti mendatangkan kebaikan! Inilah kehidupan yang memperkenan Tuhan!. #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus