Top

14 September 2018

Sepanjang hari ini, saya terus merenungkan mengenai keberadaan saya sebagai hamba kebenaran. Berikut ini hal-hal yang saya dapati:

1. Melalui berbagai perintah yang diberikan Tuannya, seorang hamba belajar untuk semakin mengenali jati diri yang Tuannya berikan baginya.

Sebagai seorang hamba (budak), saya tidak memiliki hak untuk menentukan jati diri saya dan apa yang harus saya lakukan. Jati diri yang tuan saya (kebenaran) berikan bagi saya, harus saya hidupi! Setiap perintah yang tuan saya berikan, harus saya lakukan!
Tetapi, saya tidak perlu takut, karena Kebenaran adalah Tuan yang sangat baik. Memang salah satu perintah Kebenaran kepada saya adalah untuk hidup sangkal diri dan pikul salib setiap hari (yang awalnya pasti terasa seperti sebuah ‘penderitaan’ sebagai seorang budak, lebih banyak tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, harus begitu – tidak ‘bebas’ seperti ketika menjadi hamba dosa, yang ’sepertinya’ memperbolehkan kita melakukan apapun yang kita mau), tetapi melalui diskusi yang Roh Kudus lakukan dengan saya ketika merenungkan hal ini saya mendapati bahwa sebagai hamba kebenaran, Kebenaran memberi saya jati diriNya sendiri. Sebagaimana Ia penuh kasih, Ia memberi saya jati diri sebagai pribadi yang penuh kasih. Sebagaimana Ia adalah pemenang, Ia memberi saya jati diri sebagai pemenang; dan seterusnya. Dan semua itu saya dapati ketika saya memberi diri untuk menaati Dia sebagai majikan saya.

2. Kehidupan sebagai seorang hamba (menyangkal diri dan memikul salib) menuntaskan banyak pergumulan dalam hidup saya!

Membuat saya menjadi pribadi yang fleksibel untuk mengerjakan tugas/arahan apapun yang Tuan saya berikan.
Sebagai seorang hamba, saya mau pastikan saya menjadi pribadi yang selalu mendengar apa yang Tuan saya perintahkan dan selalu siap untuk langsung menaatinya.

3. Sebagai hamba kebenaran, otomatis saya akan terus berinteraksi dengan tuan saya.

Saya semakin menyadari betapa pentingnya kehidupan doa dan kehidupan penyembahan untuk terus saya bangun. Karena hanya melalui doa dan penyembahanlah, Roh Kudus menuntun saya masuk dalam ruang Tahta, untuk mulai mengenal isi hatiNya lebih lagi. Sehingga saya semakin mengenali apa yang Ia sukai dan tidak Ia sukai; apa yang Ia benci dan apa yang membuatNya bersukacita. Sehingga saya tidak akan menjadi seperti hamba yang ‘asal manut’ dgn tuannya, tetapi saya menjadi hamba yang mengenali isi hati Dia sebagai majikan saya dan membuat isi hatiNya menjadi kerinduan hati saya; sehingga ketika Dia memberi perintah, saya dapat menaatiNya tanpa pergumulan, justru melakukannya dengan Mati-matian, Gila-gilaan, Habis-habisan!#AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus

Message ini masih akan berlanjut besok…