Top

15 Februari 2021

Memiliki ikatan janji dengan seorang bapa rohani adalah merupakan suatu anugerah. Hal ini tidak bisa terwujud tanpa campur tangan Tuhan dalam hidup seseorang. Karena bagaimanapun juga hubungan bapa dan anak rohani harus dimulai dari pekerjaan Roh di dalam hati seseorang.

 

Berikut adalah fase atau langkah-langkah yang harus terjadi sebelum seseorang betul-betul menerima dan memposisikan diri secara akurat di bawah pengayoman seorang bapa rohani:

 

1. Hubungan bapa-anak rohani ini biasanya dimulai dari adanya seorang hamba Tuhan yang Roh Kudus pakai untuk menjamah hidup seseorang atau sekelompok orang – baik melalui pesan firman yang ia sampaikan, pengurapan, pekerjaan Roh Kudus yang mengalir melalui pelayanannya maupun melalui kepribadian yang sudah Tuhan bangun dalam diri si hamba Tuhan.

 

Semua itu – the message, the anointing and the man – merupakan sarana yang sering Roh Kudus pakai untuk memulai suatu hubungan ikatan janji. Tapi apakah interaksi rohani yang sudah Roh Kudus prakarsai dalam hidup seseorang tersebut akan dapat bertumbuh menjadi suatu ikatan janji yang akan melahirkan sinergi rohani atau tidak, sangatlah dipengaruhi oleh respon yang orang tersebut tunjukkan terhadap pekerjaan Roh Kudus di dalam hatinya.

 

Dan juga dipengaruhi oleh level kehausan-kelaparan yang ia miliki terhadap kebenaran dan realita Tuhan. Semakin seseorang menumbuhkan kehausan-kelaparan akan kebenaran dalam hidupnya, semakin Roh Kudus memiliki keleluasaan untuk bekerja dalam hidup orang yang bersangkutan dan membawanya memasuki level hubungan interaksi rohani yang lebih mendalam lagi.

 

2. Jika orang yang bersangkutan memberi keleluasaan untuk Roh Kudus bekerja dan menumbuhkan interaksi rohani yang sudah Ia mulai, maka Ia akan mulai menggerakkan orang yang bersangkutan untuk lebih mendalami setiap prinsip kebenaran atau pengajaran yang banyak diajarkan oleh si hamba Tuhan tersebut.

 

Secara perlahan tapi pasti, Roh Kudus membawa orang yang bersangkutan untuk mulai mencangkok dasar keyakinan, sudut pandang dan prinsip yg dimiliki oleh si hamba Tuhan.

 

3. Selama orang yang bersangkutan terus menimba ‘sumur rohani’ yang dimiliki oleh si hamba Tuhan, maka secara perlahan tapi pasti, Roh Kudus akan mulai membawa orang yang bersangkutan untuk mengikuti si hamba Tuhan secara lebih dekat.

 

Tuhan akan menggerakkan orang yang bersangkutan untuk mulai memberi diri dan mendukung proyek pelayanan yang hamba Tuhan tersebut miliki. Bisa melalui pemberian dana, dukungan doa atau bahkan memberi diri sebagai seorang voluenteer bagi proyek-proyek tertentu yang sedang berjalan.

 

4. Sejak seseorang memberi diri untuk ikut mendukung proyek pelayanan yang sudah dikerjakan oleh sang hamba Tuhan, biasanya Roh akan membawa orang yang bersangkutan untuk menaiki level komitmen dan penyerahan hidup secara lebih lagi dengan cara membuat orang yang bersangkutan mulai dapat merasakan dan mengadopsi beban pelayanan yang sama seperti yang sedang dipikul oleh si hamba Tuhan dalam hatinya.

 

Jika di awal bergabung dalam suatu proyek pelayanan, orang yang bersangkutan masih menyebut bahwa ini adalah pelayanan dan visi dari si hamba Tuhan, di perkembangan interaksi selanjutnya, maka orang yang bersangkutan akan mendapati bagaimana Roh Kudus akan mulai menanamkan beban pelayanan yang sama seperti yang hamba Tuhan miliki ke dalam hati orang yang bersangkutan. Ada satu takaran ‘kepemilikan visi’ yang mulai ia miliki dalam batinnya.

 

5. Saat seseorang mulai memiliki beban pelayanan yang sama seperti yang dimiliki oleh si hamba Tuhan, maka Roh Kudus akan membawa orang yang bersangkutan mengalami bekerjanya kuasa anugerah yang sama – sampai pada suatu takaran tertentu – persis seperti yang dimiliki oleh si hamba Tuhan.

 

Di level ini, interaksi yang terjadi antara jemaat dengan si hamba Tuhan sudah semakin mendalam. Orang yang bersangkutan sudah mulai mengenali dimensi anugerah yang bekerja dalam hidup si hamba Tuhan dan merindukan dimensi anugerah yang sama untuk juga bekerja dalam dirinya.

 

6. Kerinduan untuk menikmati bekerjanya dimensi anugerah yang sama seperti yang dimiliki sang hamba Tuhan akan mengkondisikan Roh untuk membawa kita mulai membuka diri dan mengadopsi pola hidup yang sama – memberi diri ini untuk sepenuhnya diayomi oleh si hamba Tuhan.

 

Keterbukaan untuk memberi diri dan mengalami proses pembentukan atau penyunatan rohani melalui si hamba Tuhan – khususnya untuk area yang bersifat pribadi, justru akan membawa orang yang bersangkutan jadi memiliki kehidupan pribadi yang seimbang dan terus bertumbuh dalam takaran anugerah.

 

7. Keterbukaan yang seseorang miliki untuk mengalami pembentukan melalui hidup seorang hamba Tuhan akan mengkondisikan Roh Kudus untuk membawa orang yang bersangkutan mulai menerima si hamba Tuhan sebagai bapa rohaninya.

 

Jika sedari awal sang hamba Tuhan sudah ‘melahirkan’ orang-orang yang ia layani di dalam hatinya, sekarang waktunya orang yang bersangkutan yang mengalami bagaimana Roh Kudus melahirkan sang hamba Tuhan sebagai bapa rohani di dalam hatinya. Inilah hubungan ikat-janji yang terlahir di dalam hati. Suatu hubungan ikat-janji yang diprakarsai oleh Roh Kudus. Biasanya, jenis ikat-janji seperti ini hanya bisa diputuskan oleh kematian.

 

Di level interaksi yang sudah sangat mendalam ini, orang yang bersangkutan secara otomatis diposisikan oleh Roh Kudus untuk dapat menerima warisan rohani dari sang bapa rohani. Roh Kudus bahkan memberi kesempatan bagi orang yang bersangkutan dapat menerima duplikasi roh yang sama dari bapa rohaninya. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus

 

      150221_Renungan_Ps_Steven_Agustinus