Top

15 Juni 2019

Salah satu fase terpenting dalam hidup: Saat kita dibawa oleh Tuhan berada dalam pengayoman seorang pemimpin. “Entah dibawah otoritas Eli terhadap Samuel, Saul terhadap Daud, Yusuf/Maria terhadap Yesus”. Semuanya itu mengajarkan kita, bahwa fase penundukkan diri pada seseorang merupakan fase ilahi yang memang Tuhan rencanakan. Sebelum Tuhan membawa kita memasuki penggenapan rencanaNya yang telah ada sebelum dunia dijadikan, maka Ia pasti akan mengajarkan kepada kita bagaimana bersikap akurat terhadap seorang pemimpin.

 

Permasalahannya ada banyak orang hanya mau hidup antara dia dengan Tuhan saja. Begitu ada seorang manusia yang Tuhan taruh ada di atasnya, maka ia mulai memberontak. Fase ini padahal sangatlah krusial. Jika tidak “lulus” pada fase ini, maka rencana Tuhan dalam hidup kita tidak akan tergenapi. Mau sehebat apapun potensi, wawasan, dan kapasitas yang kita miliki, tapi keputusan kita untuk “memberontak” terhadap otoritas merupakan tindakan yang menggagalkan rencana Tuhan atas diri kita sendiri.

 

Saya mendapati, Samuel, Daud, dan Yusuf berhasil melewati fase di bawah kepemimpinan dengan sikap hati yang akurat.

 

* Ketika Samuel melihat kejahatan dalam rumah Tuhan yang dilakukan oleh anak – anak Imam Eli, ia tetap respek dan tidak menurunkan kadar hormatnya pada Imam Eli. Bahkan sikap hatinya terus terjaga walaupun suara Tuhan datang atas hidupnya untuk menyatakan penghukuman kepada Imam Eli dan keluarga. Ia tetap tidak menganggap rendah sedikitpun pemimpinnya.

 

Saya percaya, sikap hati inilah yang harus kita jagai saat berada dalam pengayoman seorang pemimpin yang seperti imam Eli.

 

* Ketika Daud berada dalam pengayoman Saul. Niat Saul yang ingin membunuhnya secara terang – terangan tidak dibalas oleh Daud. Ia justru menghindari pertikaian dan pertarungan dengan Saul. Walaupun Daud jago berperang, tapi tidak membuatnya melakukan kejahatan dan mempermalukan Saul. Hatinya tetap tulus dan suci dlm memandang Saul sebagai orang yang diurapi oleh Tuhan.

 

Sikap hati itulah yang perlu kita contoh dari Daud. Tuhan melihat “nature sikap hati” Daud. Oleh karenanya Tuhan sangat dekat dengan Daud. Sebab hatinya tulus! Sehingga Tuhan mengangkatnya menjadi raja atas Israel untuk menghadirkan realita Kerajaan Surga.

 

* Ketika Yesus pada usia 12 tahun menunjukkan sikap ketaatan pada Yusuf dan Maria ketika ia berada bait Allah. Walaupun Yesus adalah Tuhan, tapi itu tidak membuat Ia kesulitan untuk taat kepada Yusuf dan Maria. Maksudnya, Yesus menunjukkan sikap hati yang tetap mau berada dalam pengayoman pemimpin lahiriah (pola yang Tuhan tetapkan). Ia anak Allah, tapi tetap rendah hati sebagai manusia! Sehingga Bapa mengangkatnya tinggi melebih segala nama yang dapat disebut.

 

Saya semakin sadar sekarang, Yesus, Daud, dan Samuel merupakan contoh yang diberikan Tuhan kepada kita agar kita bisa mengadopsi pola dan sikap hati mereka. Sehebat apapun potensi dan rencana Tuhan atas kita, tapi jika kita gagal pada fase ini, maka rencanaNya tidak akan pernah terwujud! Sebab begitulah pola dari anak Allah di atas muka bumi ini.

 

Jika kita berada dalam jalan yang sama, maka Tuhan akan mengangkat kita utk berada dalam puncak potensi yang sanggup memberi dampak sampai pada kekekalan! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus