Top

15 Mei 2020

1 Timotius 4:12-16 (TB) Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. Sementara itu, SAMPAI AKU DATANG bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

 

Ayat di atas merupakan penggalan dari suratan Paulus kepada Timotius. Kita tahu bersama bahwa Paulus telah mempercayakan jemaat Efesus untuk dipimpin oleh Timotius. Dan Paulus ingin memastikan agar Timotius dapat memimpin jemaat tersebut dengan roh, tujuan, dan agenda yang sama. Jadi Timotius ‘tidak bisa main – main’. Begitulah cara Paulus ‘menyelamatkan Timotius dan jemaat’. Sebab bagaimanapun juga, jemaat pasti akan membandingkan Timotius dengan Paulus. Jadi ada kemungkinan untuk Timotius mengalami penolakan dari jemaat.

 

Oleh karena itu Timotius membuka diri sedemikian rupa untuk dikoreksi dan dibangun dalam segala aspek oleh Paulus. Dan yang luar biasa, ia tidak ‘merasa memiliki’ jemaat tersebut. Ia pribadi yang terus menantikan Paulus untuk berada dalam jemaat Efesus. Seandainya Timotius berada di zaman sekarang, besar kemungkinan ia akan sesering mungkin memutarkan khotbah Paulus di tengah jemaat. Sebab buat apa ‘repot – repot’ lagi ‘berkhotbah’ jika ada Paulus. Walaupun ‘seandainya’ Timotius mengaku diri khotbahnya lebih bagus dari Paulus, itu hanya ‘perasaan Timotius belaka’ yang sedang menipu dirinya sendiri. Sebab sesungguhnya Paulus dan Timotius punya waktu pembentukan yang jauh berbeda. Paulus telah membangun reputasi dan integritas serta dedikasi yang tidak bisa ‘dibantah’, baik dari sisi waktu dan kapasitas. Itu sebabnya ia ditempatkan menjadi Bapa rohani atas Timotius. Jadi, pintu jemaat Efesus selalu terbuka untuk Paulus berbicara kapan pun. Itulah sikap hati Timotius!!

 

Pagi ini saya belajar sesuatu dari Timotius; Ia bukan pribadi yang berambisi menggantikan Paulus di tengah jemaat Efesus. Ia juga tidak pernah ingin membuat perbandingan antara dirinya dengan Paulus. Ia juga tidak pernah merasa lebih baik dan lebih hebat serta lebih penting dari Paulus di tengah jemaat. Justru sebaliknya, Timotius memposisikan diri sedemikian rupa untuk jemaat Efesus agar terus ‘berkiblat’ pada segala firman Tuhan yang Paulus sampaikan. Sebab Timotius sangat paham, untuk memastikan KEGERAKAN terus bergulir, dibutuhkan penyelarasan pewahyuan. Jemaat harus terus membawa roh, tujuan, dan agenda yang sama seperti yang Paulus dapatkan dari Tuhan.

 

Sebenarnya poin penting yang bisa kita pelajari dari Timotius adalah tentang aspek KEMATIAN! Ya, mati dari dirinya sendiri, dari agendanya pribadi, dan mati dari ambisi untuk ‘mencari nama’. Tidak heran jika akhirnya Tuhan membangkitkan atau mengangkat dia untuk melanjutkan tugas kerasulan yang dibawa oleh Paulus di zamannya. Jadi memang tidak ada jalan lain, untuk membuat kegerakan terus bergulir, jalan KEMATIAN yang sama seperti Timotius harus kita lewati! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus