16 Desember 2020

Message ini masih merupakan kelanjutan dari message kemarin, di mana kita sedang membahas tentang alam bawah sadar seseorang yang merupakan ‘pengendali’ dari keseharian seseorang.

 

1. Di tengah jemaat yang sedang mengalami kegerakan rohani, akan tetap ditemukan adanya orang-orang percaya yang menjalani kehidupan dengan terus memanifestasikan ‘manusia lama’ mereka.

 

2. Seringkali jemaat yang selama ini hidup sembrono dan tidak taat pada arahan firman atau kebenaran, baru menyatakan diri ‘mau bertobat’ hanya setelah mereka mulai mengalami berbagai konsekuensi negatif dari semua ketidakakuratan yang selama ini mereka jalani.

 

3. Dibutuhkan suatu perubahan yang mendasar di dalam ‘the spirit of your mind’ (Efesus 4:23 – terjemahan NKJV).

 

Dibutuhkan suatu perubahan yang mendasar dalam ‘the spirit of your mind‘ (Efesus 4:23 – terjemahan NKJV), dan diselaraskan dengan firman-Nya. Sehingga ‘nature manusia lama’ dapat sepenuhnya disingkirkan dan pada saat yang sama seutuhnya mengenakan manusia baru yang sudah Bapa sediakan di dalam Kristus!

 

a. Jika kita mempergunakan istilah universal, kata ‘the spirit of your mind‘ merujuk pada fungsi otak yang disebut sebagai Alam Bawah Sadar (ABS).

 

b. Di saat seseorang harus membenahi ‘the spirit of your mind‘ atau ABS dalam hidupnya, maka dibutuhkan keberadaan seorang bapa rohani yang memang sudah terhubung dengan realita Kerajaan Sorga, di mana bapa rohani tersebut dijadikan sebagai ‘sparing partner‘ dalam menyelidiki dan membongkar semua paradigma, persepsi dan perspektif yang selama ini sudah terlanjur ‘terbangun’ dalam ABS-nya.

 

Seringkali seseorang akan mengalami kesulitan untuk secara objektif mengenali paradigma, persepsi dan perspektif hidup salah yang selama ini ia miliki. Untuk itu, dibutuhkan adanya orang lain yang dapat menilai secara lebih objektif semua pemikiran, pertimbangan, sudut pandang ataupun emosi-emosi yang muncul dalam hidupnya. Sudahkah semua itu akurat sesuai dengan prinsip-prinsip firman? Dan sudahkah selaras dengan sifat-sifat Tuhan sendiri?

 

Dengan seseorang membuka diri dan mau mengadopsi nilai-nilai kehidupan, dasar berpikir atau dasar keyakinan maupun cara mengelola berbagai emosi dari seorang bapa rohani, maka saya meyakini bahwa orang yang bersangkutan akan dengan cepat mengalami kematangan, pertumbuhan ataupun mengalami berbagai terobosan yang dibutuhkannya. Dengan seseorang mengadopsi paradigma, perspektif dan persepsi seorang bapa rohani dalam menghadapi berbagai peristiwa atau situasi kehidupan yang ia alami, maka otomatis dia juga akan terhubung dengan realita Kerajaan sorga yang bapa rohaninya nikmati.

 

Cukup dengan membangun keterhubungan yang sehat atau akurat dengan seorang bapa rohani, maka seseorang akan dapat mengakses paradigma, perspektif ataupun persepsi yang dimiliki oleh sang bapa rohani. Dan mulai mempergunakannya menjadi suatu input baru yang dapat ia pakai untuk merombak semua paradigma, persepsi ataupun perspektif yang selama ini tersimpan atau sudah terlanjur terbangun dalam ABS-nya. Sebagaimana sang bapa rohani terhubung dengan realita kerajaan, maka ia pun akan menikmati keterhubungan yang sama!

 

Adalah penting untuk kita belajar membuka diri dan menerima berbagai input ilahi untuk kemudian kita jadikan sebagai ‘file dan data baru’ dalam ABS kita.┬áLakukan perenungan dan selaraskan ABS kita dalam aspek-aspek berikut:

 

  • Prioritas kehidupan yang kita miliki ~> Matius 6:33, Efesus 2:10
  • Keinginan untuk menjadi orang yang sukses atau berbahagia ~> Yosua 1:8, Mazmur 1:1-3
  • Jati diri kita di dalam Kristus ~> Roma 8:15-17, 2 Korintus 5:17
  • Di saat bergumul dan menghadapi suatu pencobaan ~> Yakobus 1:13-15, 1 Korintus 10:13
  • Di saat merasa lemah dan seperti ‘ditinggalkan sendirian’ oleh Tuhan ~> Yesaya 46:4, 49:14-17, Yohanes 14:16-18

Sebetulnya masih ada banyak aspek kehidupan lain yang harus terus diselaraskan dengan firman. Khususnya dalam aspek interaksi dengan sesama, karena justru kesalahpahaman atau friksi dengan sesamalah yang sangat berpotensi untuk ‘merusak’ kualitas hubungan yang kita miliki dengan Bapa.

 

Baca dan renungkan ayat-ayat berikut serta jadikanlah sebagai patokan kita membangun hubungan dengan sesama: Matius 5:23-25; 5:38-48, 6:14-15, 18:15-35, Roma 12:17-21

 

c. Dapat dikatakan bahwa ABS yang seseorang miliki adalah sama seperti suatu ‘pintu atau portal’ yang menghubungkan dirinya dengan alam rohani.

 

Jika paradigma, persepsi maupun perspektif yang sudah terbangun dalam ABS-nya masih terus membawa pola dunia ini, maka sesungguhnya orang yang bersangkutan sedang terus dibawa untuk terhubung dengan dunia roh di mana roh-roh jahat maupun roh-roh dunia beraktivitas. Otomatis kehidupan sehari-harinya akan terus mengalami berbagai intimidasi, tekanan dan berbagai aktivitas dari roh-roh jahat lainnya. Dan lambat laun, tanpa disadarinya semua nature dari aktivitas roh jahat yang ia rasakan tersebut jadi ikut mencetak karakter dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Orang banyak akan ikut ‘memeteraikan’ jati diri dari bentukan roh-roh jahat tersebut dengan ucapan: “Memang dia sering hidup dalam kekuatiran“, atau “Dia memang sering berputus asa“, dan sebagainya.

 

Berbeda dengan orang-orang yang terus secara aktif melakukan perombakan dasar berpikir, dasar keyakinan ataupun berbagai kebiasaan dalam mengekspresikan emosinya. Mereka terus membongkar ABS-nya dan membangun ulang semua paradigma, perspektif maupun persepsi kehidupan yang dimiliki untuk selaras dengan firman. Otomatis kehidupan sehari-harinya pun jadi terus memanifestasikan keberadaan Kristus secara nyata!

 

Dengan ABS seseorang terus diselaraskan dengan firman, maka Tuhan pun akan membawa kehidupan orang yang bersangkutan untuk terhubung dan memanifestasikan realita kemuliaan kerajaan sorga di bumi ini! Ada banyak keajaiban, keilahian maupun berbagai perkara supernatural lainnya yang bakal terus bermanifestasi di dalam kehidupan sehari-harinya! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus